Tahun Baru, Tabloid Bola, dan Anak Jokowi

2015 adalah tahun yang sangat menarik bagi hidup saya. Di tahun tersebut, saya kesengsem pada seorang perempuan keturunan Tionghoa yang “menyelamatkan” saya dari sebuah hubungan rumit dengan perempuan lain. Gimana, mudeng gak maksudnya apa? Jadi begini, saya bertemu dengan perempuan ini saat masih menjalin hubungan teman tapi Anggara dengan perempuan lain. Dan dapat ditebak selanjutnya, saya malah menyukai dia.

Tak jauh beda dengan kisah drama romantis FTV, hubungan saya dengan perempuan ini menjadi lebih dekat, kian dekat, dan semakin dekat dari hari ke hari, lalu………. bubar. Kandasnya hubungan ini sekaligus menjadi tanda kehidupan baru bagi diri saya. Dan ini lebay. Hehe. Intinya, setelah gagalnya hubungan tersebut, saya tidak lagi dekat atau mendekati siapapun, sampai akhir tahun. Hal yang mustahil terjadi dalam hidup saya yang sebelumnya – yang melulu soal asmara.

Bukan hanya soal asmara, yang membuat 2015 ini menjadi sangat berkesan bagi saya, melainkan juga tentang karier. 23 Desember saya resmi tidak lagi bekerja di kantor agar dapat fokus membesarkan dua anak saya, Nella Fantasia dan Kedai Kata. Iya, saya mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, dengan tidak mencari pekerjaan yang baru. Beberapa orang, termasuk ke dua orang tua saya, berkata ini gila. Beberapa lainnya menyebut hebat. Bagi saya, ini adalah hal gila, dan semoga saja bisa membuat saya menjadi orang hebat. Ada amin sodara-sodara?

Ngomong-ngomong soal orang hebat, dua hari berturut-turut setelah hari terakhir saya bekerja di kantor, ada peringatan Hari Kelahiran dua Sosok Hebat. Tanggal 24 Desember, saudara-saudara saya yang Islam merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad, atau yang biasa disebut Maulid Nabi. Dan lusanya, 25 Desember 2015, saya merayakan Natal. Sebagai pemuda kekinian yang gemar menyambung-nyambungkan hal yang mboh, saya menganggap berturut-turutnya tanggal saya resign, Maulid Nabi, dan Natal. sebagai sebuah tanda baik bagi kehidupan saya yang baru. Momentum. Saya menjadi semakin antusias menyambut tahun yang baru. Tahun 2016.

Walaupun secara resmi tidak lagi bekerja di kantor terhitung setelah tanggal 23 Desember 2015, namun saya menganggap petualangan saya baru benar-benar dimulai dari tanggal 4 Januari 2015. Pada rentang waktu tersebut – anggaplah – saya cuti bekerja. Berleha-leha. Dengan rasa waswas. Biar gimana pun juga saya tetap tidak bisa tenang jika memikirkan hari esok yang tidak lagi mendapat gaji bulanan dengan segala tunjangannya. Apa mau dikata, saya sudah buat keputusan.

Menjelang berakhirnya libur akhir tahun kemarin, kebetulan sekali, saya mendapat bahan bacaan yang sangat bagus. Lebih tepatnya, bahan bacaan yang sesuai dengan pijakan karier ke saya depan. Blog bolaperjuangan.com, yang saya temukan secara tidak sengaja, mengajari saya perihal pentingnya membuat keputusan yang tepat, mendengarkan saran orang lain, dan satu lagi yang paling penting: Jangan gengsi mengakui kesalahan, lalu segera lakukan perubahan. Terlihat jelas dari namanya, bolaperjuangan.com, tidak membahas tentang bisnis, melainkan tentang Bola. Bola saya tulis dengan huruf B besar karena itu adalah sebuah nama. Nama dari tabloid olah raga yang rutin saya baca sejak kelas 4 SD sampai pertengahan kuliah.  Lho, terus apa hubungannya dengan pengambilan keputusan dll itu?

Jadi ceritanya, Tabloid Bola mempunyai adik yang bernama Harian Bola. Sesuai dengan namanya, Harian Bola terbit setiap hari, sementara Tabloid Bola hadir – kalau tidak salah ingat –  dua kali dalam seminggu. Senin dan Kamis. Teman-teman dapat mengunjungi langsung blog tersebut untuk lebih jelasnya, namun dari saya yang baca di situ, berakhirnya masa edar Harian Bola disebabkan kesalahan pengambilan keputusan. Alih-alih merawat Tabloid Bola dan bolanews.com yang mungkin saja kini dapat bersaing dengan media daring lainnya, manajemen Bola malah menerbitkan yang versi harian. Media cetak, kini, sulit bersaing dengan media daring dalam hal mengejar peristiwa-peristiwa – olah raga – yang begitu cepat berlari.

Saya jadi merinding membayangkannya. Semasa saya sekolah, bahkan sampai kuliah, Bola itu masih primadona. Tidak keren rasanya, kalau saya, sebagai penikmat olah raga, tidak nenteng-nenteng dan baca Tabloid Bola. Dan, kini, siapa yang masih baca Bola? Saya tidak ingin hal ini terjadi pada Nella Fantasia dan Kedai Kata. Saya tak mau salah langkah. Ada amin sodara-sodara? Ini yang namanya kepedean prematur. Sukses aja belum, malah udah takut antiklimaks -_-. Haha.

Pelajaran lain yang saya petik jelang hari pertama berstatus ‘tidak kerja kantoran’ adalah kisah ledekan Gibran, anak bungsu Pak Jokowi, kepada Bapaknya melalui Twitter. Siapa sangka bahwa ternyata yang Gibran lakukan adalah untuk mempromosikan martabak dagangannya? Bagi beberapa orang, yang Gibran lakukan adalah guyonan biasa antara anak dan ayah. Beberapa lainnya menganggap itu keterlaluan, dan hanya sedikit yang melihat dari kacamata bisnis. Kalaupun dari kacamata bisnis, yang mereka lihat adalah kegigihan mereka berdagang tanpa membawa nama-nama sang ayah. Tapi bagi saya, yang brilian sekaligus biasa-biasa saja di sini, adalah taktik Gibran dalam mempromosikan dagangannya.

Menarik perhatian masyarakat, khususnya netizen, yang dibanjiri banyak produk tiap detiknya, adalah perkara sulit. Dan Gibran menemukan cara yang jitu. Cerdik sekali. Di satu sisi, bagi saya, itu biasa-biasa saja karena saya telah melakukannya jauh sebelum itu. Entah sudah berapa banyak “keonaran” dan “kegenitan” yang saya lakukan di dunia maya demi menarik perhatian orang. Jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun saya merasa semua yang saya lakukan adalah atas dasar perhitungan terlebih dahulu. Ketika orang lain melihat saya melakukan hal bodoh, menjengkelkan, dan spontan, di situ saya merasa ganteng. Halah. Saya mengukur semuanya, dan memang ingin terlihat seperti itu.

Well, besok, atau hari ini ketika kalian membacanya, adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Jika dalam satu dua bulan tak terlihat baik, saya akan kembali menjadi buruh. Agar neraca keuangan tetap seimbang di tengah ketidakpastian, saya mencoba berhemat. Mengurangi main-main di akhir pekan, dan perbanyak olah raga. Sakit adalah bagian dari pemborosan. Dan, yang lebih penting dari itu, saya harus kerja kerja kerja. Jangan sampai salah ambil keputusan, dan harus cerdik dalam melihat kesempatan.

Selamat malam.

 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 111 diantaranya adalah kunjungan hari ini.