Si Tou Timou Tumou Tou

Penulis: Ares Hutomo.

IMG-20150924-WA0001

Bagas menapakkan kakinya keluar dari bandara, menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ya, di sinilah dia, Manado, kota tanpa polusi, setidaknya bila dibandingkan dengan Jakarta tempat tinggalnya. Dia berharap banyak dengan kota ini, berharap waktu seminggu liburannya di sini dapat dimanfaatkan dengan baik. Dia sudah menabung dengan cukup, disisihkannya sebagian penghasilan hanya untuk berlibur. Bagas sudah menyewa mobil di depan, dan seperti yang sudah dia duga sebelumnya, logat orang timur memang kasar. Dia tidak suka dengan driver mobilnya. Setidaknya, dari cara dia berbicara yang terlalu bernada tinggi.

‘Cowok,kamu tamu saya ya? cepat masuk ke oto’. Bagas hanya kaget, kenapa dia dipanggil cowok? Kenapa dia malah dibentak seperti itu? Dia kan tamu. Tapi yasudahlah, pikir Bagas memang itu logat timur.

Bagas tetap pada tujuannya: wisata…. Bagas datang di saat sore, dia segera menuju kawasan megamas. Sebuah kawasan dimana pusat kota manado berada. Sebenarnya kawasan megamas hanyalah suatu reklamasi laut yang dibuat memanjang, menariknya kawasan ini sangat teratur dan dikelola dengan baik. Hal itu terlihat dari banyaknya bangunan komersial seperti McD, KFC, mall mall besar bahkan tempat tempat makan berjejeran di sepanjang laut. Yah bisa dibilang seperti pantai kuta di Bali. Bedanya, Kuta adalah sebuah pantai sedangkan ini adalah reklamasi.

Seperti berjalan jalan di Hard Rock Bali atau G Walk pikir bagas, tapi tanpa pantai, hanya laut dan sunset indah yang ia nikmati dan diabadikan dalam bentuk foto. Bagas makin kagum karena Manado yang terkenal dengan kecantikan para bidadarinya menampakkan wujudnya. Banyak wanita wanita cantik lewat di depan bagas dan tidak luput pula dari jepretan kameranya. Yah lumayan biat cuci mata.

‘Eh nyong, kiapa ngana foto pa kita so? Ngana so nafsu pa kita?’… sebuah teguran keras untuk Bagas. Dia kaget bukan kepalang apalagi rombongan wanita yang dia foto kemudian tertawa dan berjalan sambil lalu saja. Belum juga dia merebahkan diri di tempat tidur, 2 kali sudah dia merasakan logat keras manado. Yang satu bikin emosi dan yang ini bikin malu pikirnya, bagaimana tidak, ditegur serombongan cewek dengan nada tinggi dan dia dipanggil nyong? Menurutnya itu tidak sopan. Emangnya dia monyong begitu?

Rasa malu Bagas terbayar karena dia akhirnya menemukan apa yang dia cari cari di kawasan megamas: Pohon Kasih. Ya, sebuah pohon replika raksasa yang terbuat dari besi dan terletak di pinggir laut dan tepat ditengah diantara 2 bangunan besar berlabel KFC dan McD, menariknya di belakang pohon ini adalah sebuah lapangan basket besar yang dikelilingi oleh inul vista dan segala macam tempat makan, sangat terkesan deluxe.

Bentuknya memang pohon cemara khas hari raya Natal, namun itu hanya bentuk saja karena pohon itu unik. Dinamakan pohon kasih karena pohon itu melambangkan tenggang rasa kasih umat beragama di Manado. Bayangkan saja, di saat Lebaran, pohon itu akan berhiaskan ketupat,sarung,peci dan pernak pernik lebaran khas lainnya,pun pula di saat Natal, pohon itu akan berhiaskan santa claus, kereta rusa dan berbagai nuansa lainnya. Yang lebih unik adalah ketika tahun baru Imlek tiba, pohon itu akan penuh dengan berbagai hiasan angpao kerlap kerlip yang menggantung. Luar biasa, dan Bagas tidak melewatkan waktu sedikitpun untuk mengabadikan setiap sudut pohon kasih yang terpampang di depannya itu. Tepat di depan pohon kasih yang menghadap lautan, berdiri sebuah gunung besar. Gunung Manado Tua adalah simbol Manado, gunung yang terletak di tengah laut dimana di sekeliling Manado Tua adalah tempat wisata yang sangat terkenal: Bunaken. Bagas mengambil angle foto yang tepat agar dia dapat memotret pohon kasih, manado tua dan sunset secara bersamaan. Sangat natural,pikirnya.

Setelah puas menapaki kawasan megamas, gurat lelah tampak di wajahnya, dia segera meminta drivernya untuk kembali menuju hotel. Di tengah perjalanan, sang driver menyarankan bagas untuk mampir ke suatu tempat historis, tidak masalah walaupun hari sudah mulai gelap. Mereka tiba di tempat itu, sebuah taman berbentuk menyerupai kotak dan di tengah tengahnya berdiri sebuah patung pria seperti pahlawan di jaman kerajaan kerajaan dulu lengkap dengan pisau besarnya,ikat kepala dan bertelanjang dada. Ternyata tempat itu bernama Taman Kebangkitan Bangsa (TKB) dan patung yang berdiri gagah dihadapannya adalah seorang pahlawan bernama Dotu Lolong Lasut.

‘Dia itu pahlawan manado. Bukan pahlawan masa kemerdekaan tapi orang yang mendirikan Manado. Dia juga punya nama lain yaitu Ruru Ares……….’
Demikian sang driver bercerita panjang lebar kepada Bagas yang sedang sibuk mengambil gambar dari patung itu, bagas menangkap poin poin penting yang diceritakan sang driver. Menarik juga, pendiri Manado. Dan patungnya ada sampai sekarang. Di taman kota pula. Mungkin seperti patung buaya dan hiu yang menjadi cikal bakal Surabaya pikirnya. Setelah puas mereka segera bergegas ke hotel dan Bagas tidak lupa berpesan pada drivernya untuk dijemput keesokan harinya pukul 7 pagi.

Sembari menunggu check in Bagas melamun di lobi, dia membayangkan perjalananannya sehari ini dan tetap Bagas masih berkesan sekaligus dongkol dengan sambutan driver maupun cewek cewek manado tadi. Di tengah lamunannya, seorang pria tua datang menghampirinya. ‘Baru datang dari jawa ya mas? gimana kaget ya sama orang orang manado?’ Bagas tertegun, ebih kaget lagi orang tua ini tau apa yang dipikirkannya. ‘Saya juga dari jawa mas,lagi liburan. Mumpung ada anak cucu yang ikut. Jangan takut mas, disini orangnya ramah ramah kok. Tau slogan di bandara tadi? Si tou timou tumou tou?’. Bagas tidak bisa menyembunyikan lagi keterkejutannya, bagaimana orang ini tau banyak tentang kedatangan dia? Atau paling tidak tebakannya selalu tepat. Samar samar Bagas memang teringat tulisan di bandara tadi tapi diabaikannya karena susah dieja apalagi dibaca.

‘Gak usah kaget mas, ijinkan saya bercerita.. Si tou timuo tumou tou itu artinya Manusia bisa dikatakan sebagai manusia bila dia sudah memanusiakan manusia. Itu slogan terkenal dari salah satu pahlawan kemerdekaan di Manado yaitu Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau yang beken di sebut Sam Ratulangi. Memang sepertinya ribet ya mas slogannya, kaya kita binatang aja harus memanusiakan manusia tapi coba mas pikir, itu di megamas ada pohon kasih, cobalah kesana untuk melihatnya. Itu contoh kecil dari Si tou timuo tumou tou. Pohon cemara untuk natal tapi bisa digunakan untuk apa aja termasuk untuk lebaran. Saya ini muslim mas tapi kagum sama hal itu. Saya jadi berpikir orang orang sini memang kasar kalau ngomong nadanya tinggi tapi tenggang rasa mereka juga sangat bagus. Saya sendiri mengartikan Si tou timuo tumou tou secara simpel sebagai tenggang rasa yang baik. Kita bisa disebut manusia bila kita menjadikan dan memperlakukan orang lain sebagai manusia juga. Coba kalau di jawa mas, yang muslim sibuk sendiri, agama lainnya juga gak tau pada cuek cuek aja. Disini? 2 jempol dari saya mas untuk tenggang rasanya. Saya tadi baru dengar dari staff hotel di bagian restauran, semua orang yang kesini ditanya agamanya apa. Bukan untuk apa apa tapi mereka menghormati dan memisahkan menu yang halal dan tidak halal bagi muslim dan itu tidak hanya terjadi disini mas, tapi di semua acara di kota ini kalau ada makanan pasti dipisahkan!!ya mas tau sendiri lah. D isini mayoritas kristen. Dan saya sangat menghargai sikap seperti itu, mereka fair. Dan masaknya pun pasti terpisah gak pakai dicampur campur.’

Baca juga artikel cekinggita yang berjudul “Titik Nadir: Manusia Minta Dimanusiakan” di sini  

Bagas hanya terbengong bengong mendengar orang tua ini bercerita sampai kemudian ada teriakan anak kecil yang membuat dia berannjak dari lobi. ‘Udah ya mas sampai ketemu besok,c ucu saya sudah manggil tuh. Oia jangan lupa pergi ke bukit kasih, di puncak bukit itu ada tempat ibadah 5 agama. Contoh lain dari si tou timuo tumou tou..hehe..’

Masih dalam keterkejutannya, Bagas merenungkan apa yang baru saja di sampaikan orang tua tadi. Memang dia tidak kenal bahkan namanya saja tidak sempat ditanya tapi apa yang dikatakannya cukup menarik. Filosofi si tou timuo tumou tou dan pohon kasih, suatu cara pandangan hidup yang bagus. Dan bukit kasih? Aku harus kesana! Tekad bagas yang sudah membulat dan dia rasa ini adalah liburannya yang paling menarik, liburan yang berkesan,dan akan menjadi suatu pembelajaran hidup bagi dia,bagaimana tidak? Logat dan cara bicara nada tinggi dan cenderung kasar orang manado ternyata menyimpan begitu banyak kebaikan dan bagas merasa dia harus menjelajah Manado lebih dalam lagi. More deeper more knowledge and more trip more adventure.

Bukit Kasih to the next trip…..

 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 322 diantaranya adalah kunjungan hari ini.