Pesan dalam Sepatu: Kabar Pramoedya untuk Dunia

Buru, CNN Indonesia — Menulis sudah jadi sumber penghidupan Pramoedya Ananta Toer sejak sebelum 1950. Ia akrab dengan pena, kertas, dan mesin ketik sejak bekerja untuk surat kabar Jepang di Jakarta. Pram mulai menerbitkan buku pada 1946, berjudul:Sepoeloeh Kepala Nica.

Kurun 1950 sampai 1960-an, lelaki yang kemudian menjadi sastrawan besar Indonesia asal Blora, Jawa Tengah, itu sangat produktif. Jika bukan kumpulan cerita pendek, ia menerbitkan novel semi fiksi yang sarat kritik atas kejadian masa itu.

Kedekatan Pram dengan penulis Tiongkok dan komunisme, ditambah kritik-kritik tajam dalam tulisannya, membuat Pram ditangkap pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Tanpa pernah diadili, hanya oleh popor senjata, 14 tahun Pram jadi tahanan politik.

Setelah berpindah-pindah penjara, Pram dibawa bersama tapol-tapol lain yang dicap berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia, ke Pulau Buru. Masuk antah berantah pada 1969, Pram baru mentas pada 1979. Perlakuan terhadapnya disamakan seperti tapol lain: diperintah untuk kerja keras.

“Salah kalau orang bilang Pak Pram enggak pernah kerja badan. Dia juga nebang kayu, bikin jalan,” kata Oei Hiem Hwie, salah satu eks tapol yang dekat dengan Pram selama di Buru. Dalam buku memoarnya, Hwie juga menuliskan, Pram membuka lahan pertanian, menjadi tukang besi, sampai kerja di penggergajian hutan.

Tumiso, kawan dekat Pram sesama unit 3 yang bersamaan datangnya pada 1969, pun menuturkan hal serupa. Katanya, Pram bahkan sempat ikut membuat aliran sungai untuk mengairi unit.

“Dia dikasih tugas-tugas itu untuk menyetop pikiran,” tutur Tumiso.

Pramoedya Ananta Toer ditangkap tanpa diadili akibat tulisan-tulisannya yang dianggap “kiri.” (Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)

Pada masa-masa awal di Buru, Pram dilarang menulis. Setelah bukunya dilarang terbit dan dibakar, kini “nyawa” sambungan Pram dalam hidup dicerabut begitu saja. Meski begitu, sembunyi-sembunyi ia masih menulis. Paling mungkin di atas kertas semen. Alat tulis didapat dari belas kasih.

Tumiso menyebut, adalah Rifai Abe, salah satu sosok yang berjasa mendorong Pram menulis. “Dia bilang, ‘Pak Pram harus punya peninggalan,'” ujar Tumiso. Menurutnya, insting menulis Pram tak pernah padam. Hanya saja, ia butuh dorongan. Sedang selama di Buru ia kebanyakan kerja.

“Akhirnya dia diyakinkan untuk menulis. Dia sendiri tidak tahu karyanya akan sebesar itu,” ujar Tumiso menyampaikan. Karya besar yang dimaksudnya, termasuk tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempatnya dihasilkan dari Buru dan jadi karya “ikonik” Pram.

Pesan dalam Sepatu

Keleluasaan Pram menulis datang sekitar 1970-an, saat Komandan Inrehab Pulau Buru dipegang oleh Kolonel C. Samsi. Pada 1972, Samsi membagi tapol menjadi dua kelompok, pertanian dan nonpertanian. Pram masuk kelompok nonpertanian. Karena berketrampilan, ia “dikarantina” di Markas Komando atau disingkat Mako.

Selain Samsi, yang membawa angin segar bagi kegiatan menulis Pram adalah kedatangan Jaksa Agung Jenderal Sugiharto yang membawa sejumlah wartawan dari dalam dan luar negeri. Sejak itu kedatangan tamu bertambah. Di antaranya dari Palang Merah Internasional.

Dunia internasional ingin tahu bagaimana pemerintah Indonesia memperlakukan tapol. Selama itu, pemerintah sembunyi-sembunyi soal perlakuan semena-mena mereka. Membawa tahanan ke Buru saja, kata Hwie, tidak dilakukan melalui perairan terbuka agar tak ketahuan.

“Perjalanan dari Nusakambangan ke Buru itu seminggu. Karena kapalnya lewat celah-celah perairan kecil. Sebab takut internasional tahu,” ujar Hwie yang dibawa ke Buru bersama gelombang ke-dua pada 1970. Selisih setahun dari gelombang satu.

Tumiso menambahkan, soal memperlakukan tapol itu sebenarnya diatur dalam Perjanjian Jenewa dan Deklarasi Hak Asasi Manusia di bawah PBB pada 1965, yang ikut ditandatangani Indonesia. Tapol, lanjutnya, tak boleh disamakan dengan tahanan perang, apalagi kriminal. Jika itu dilanggar pemerintah Indonesia, dunia internasional akan ikut menekan.

“Kalau tapol diperlakukan semena-mena, Indonesia tidak akan dapat bantuan. Jadi ini [melonggarkan siksaan terhadap tahanan] bukan demi kepentingan tapol. Ini demi kepentingan Soeharto,” kata Tumiso.

Tumiso, kawan akrab Pramoedya Ananta Toer semasa dibuang ke Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Perhatian internasional itu “dimanfaatkan” tapol. Saat PMI datang misalnya, yang jelas butuh tenaga untuk mengangkut barang, tapol akan berebut membantu. Tapi mereka juga punya “misi” khusus.

“Setiap ada tamu datang, kami layani, kami kasih surat di dalam sepatu,” kata Tumiso bercerita. Ia sendiri pernah kebagian menyelipkan surat ke dalam sepatu PMI yang datang ke Buru. Memberi surat di dalam sepatu dipilih agar tak ketahuan. Hanya si pemilik sepatu yang merasakan dan menyadarinya.

“Kalau tidak cukup selembar surat, ditaruh di sepatu kiri dan kanan.”

Yang ditulis, kata Tumiso, berdasarkan apa yang telah disepakati para tapol sebelumnya. Intinya menggambarkan kondisi mereka selama di Buru. Penulisan menggunakan bahasa Inggris. Setelah beberapa kali, nyatanya berhasil.

Dunia internasional yang tahu kondisi tapol sebenarnya, mulai menekan pemerintah Indonesia. Sugiharto mulai menekan para penjaga di Buru, terutama soal Pram, yang namanya sudah harum sampai ke mancanegara karena buku karyanya.

“Kamu tidak bisa memperlakukan manusia satu ini sama dengan yang lain,” kata Tumiso menirukan ucapan Sugiharto. Ia sadar, konsumsi internasional perlu diperhitungkan.

“Sumbangan” Tapol di Naskah Pram

Sejak itulah Pram dibebaskan menulis di Mako. Meskipun, pengawasan terhadapnya masih sangat ketat. Tapi setidaknya ia sampai mendapat keistimewaan berupa kiriman mesin ketik dari penulis Prancis, Jean Paul Sartre. Sayangnya, mesin ketik itu tidak sampai ke tangan Pram.

“Mesin ketik yang itu diambil, Pak Pram malah dapat mesin ketik yang besar dan bobrok,” Hwie mengatakan.

Beruntung, para tapol di Buru sangat cekatan. Mereka ahli di bidang masing-masing. Membetulkan mesin ketik yang sudah rusak itu perkara kecil. Begitu pula soal mencari kertas dan tinta, yang tidak termasuk disediakan oleh penjaga. Kalau pun tersedia, ada jatahnya.

Soal tinta pita mesin, kata Hwie, digunakanlah getah nila yang tersedia berlimpah. Soal kertas, Pram titip beli di Namlea. Dasipin, seorang tapol asal Batang berperan dalam hal itu. Saat itu ia termasuk kru perahu Gajah Mada yang bisa bolak-balik unit, Mako, dan Namlea.

“Pram di Mako itu seperti kantor sendiri,” kata Dasipin, yang sampai saat ini masih bertahan di Pulau Buru. Setiap ia menyambangi Pram di “kantornya” itu, Dasipin selalu bertanya apa yang ia butuhkan untuk mengetik. Ia membelikan di Namlea.

“Dia jual ayam, minta dibelikan kertas,” Dasipin melanjutkan. Saat itu, menitip kertas bisa terang-terangan di depan pejaga. Ia belikan sekaligus dengan karbonnya. Terkadang ia dapat lebih banyak kertas dari yang Pram ekspektasikan.

“Kok dapat segini banyaknya?” tanya Pram heran. Dasipin hanya menjawab sekenanya, “Sudah Pak, saya hanya melaksanakan yang diminta saja.”

Tumiso, Hwie, dan Dasipin satu suara, kelebihan kertas dan kebutuhan lain Pram itu “sumbangan” tapol lain. Mereka melakukan apa pun untuk Pram. “Yang [mengurusi] pertanian, bagaimana caranya supaya Pram sehat. Mereka bawakan pisang, pepaya,” Tumiso menyebutkan.

Dasipin (kiri) biasa membelikan Pramoedya Ananta Toer kertas di Namlea, ibu kota Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Bantuan tapol lainnya, Hwie menambahkan, saat Pram menulis Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer yang berkisah tentang banyaknya jugun ianfu di Pulau Buru. Jugun ianfu merupakan sebutan Pram untuk perempuan Jawa yang dibawa tentara untuk dijadikan pemuas hasrat seksual para tentara Jepang.

“Kawan-kawan, di sela-sela kerja di hutan, berusaha melakukan penyelidikan dengan mendatangi para bekas jugun ianfu yang banyak bergabung dengan penduduk asli pulau Buru,” Hwie mengatakan.

Bahkan ada asisten pembina mental dan tentara yang bersimpati padanya. Mulai memberinya pena untuk menulis, sedikit kebebasan kunjungan, sampai mesin ketik untuk menggandakan naskah. Yang membantu menggandakan termasuk Hwie sang pendikte dan Paimin tapol asal Tegal yang mengetik. Ada pula yang berjaga.

Tapol yang intelektual, membantu Pram lewat sumbangan pemikiran. Mereka saling bertukar surat. Hwie yang terkadang menjadi penghubung. Beberapa orang yang pernah ditemuinya Profesor Saleh Iskandar, Hersri Setiawan, Profesor Puradisastra, Sartono, dan Oey Hai Djoen. Mereka memberi masukan pada tulisan-tulisan Pram lewat Hwie.

Tumiso membeberkan lebih lanjut soal bantual intelektual itu. “Menurut cerita awal, Trunodongso yang di pabrik gula tidak seperti itu,” kata Tumiso. Trunodongso yang ia maksud adalah petani Jawa, seorang rakyat jelata dalam Tetralogi Pulau Buru.

Tumiso pernah terlibat aksi, sedang Pram tidak. Menurutnya, aksi itu terorganisasi dengan baik. Tumiso lantas memberi masukan agar cerita Pram lebih “nyata.” Masukan lain dari tapol yang berbeda lagi, antara lain soal pengadilan putih, revolusi Tiongkok, bahkan Nyai Ontosoroh.

“Di Arok Dedes juga ada. Tingkatan jabatan, yang tahu ya orang Hindu. Mereka memberi masukan,” ujar Tumiso lagi. Masukan terkadang disampaikan secara lisan, pernah pula dengan tertulis. Itulah kenapa Pram menyebarkan naskahnya pada tapol.

Para tapol dengan senang hati membantu karena merasa suara Pram adalah juga aspirasi mereka. “Kalau kita ngomong siapa yang dengar. Kalau Pak Pram bicara, seluruh dunia tahu,” ujar Tumiso membandingkan.

Berakhir di Kandang Sapi

Dengan berbagai “bala bantuan” itu Pram menggodok ide di sebuah ruang 2x 2 meter di Mako. “Gubuk” Pram itu terpisah dari barak dan keriuhan lainnya, lebih dekat ke ruangan komandan. Dengan demikian, ia lebih terkontrol dan kerjanya dikhususkan hanya menulis saja.

Kata Hwie, yang pernah menyambangi Pram di Mako bahkan berfoto, di ruangan itu hanya ada satu dipan, kasur, dan meja dengan mesin ketik besar. Pada masa-masa awal Pram di Mako, ada beberapa tapol lain yang mengunjunginya. Namun, mereka takut-takut karena bakal dimarahi.

Pram sendiri pernah kena marah saat ia berkunjung ke tapol di unit lain, padahal dirinya ditempatkan di Mako.

Demikianlah, meski terkesan diistimewakan, Pram tetap ditekan, menurut Hwie. Ia pun tak diberi akses terhadap referensi. Baru belakangan ia akhirnya boleh dikunjungi. Tapol lain dan media asing masuk ke ruangannya, berinteraksi dengan bebas, santai.

“Tapi cuma satu atau dua orang, kalau banyak-banyak tidak boleh,” lanjut Dasipin menerangkan.

Terkadang, Pram masih bisa berjalan-jalan ke hutan di sekitar Mako. Sepulang dari situ, kata Dasipin, ia biasanya dapat inspirasi dan dituliskan ke dalam naskah. Tumiso menuturkan, salah satu inspirasi Pram yang nyata dari Buru, selain soal jugun ianfu, adalah kayu nani. Tapol yang menemukan kayu itu.

“Cerita Arus Balik jadi sempurna setelah Pak Pram dapat kabar soal kayu nani,” kata Tumiso. Itu sebuah kayu berat dan keras yang bahkan tak mempan ditusuk oleh paku. “Dijadikan papan enggak bisa, dijadikan tonggak pun enggak bisa,” tutur Tumiso.

Kayu itu “dijadikan” Pram sebagai lunas atau dasar kapal armada Majapahit saat berkeliling tujuh samudra dalam buku Arus Balik. Kapal itu berangkat dari Majapahit ke Malagasi, Tumasik atau Singapura, sampai ke Bangbang Wetan.

“Nah ini, perahu Majapahit itu dari kayu ini,” Tumiso menirukan Pram setelah ia mendengar cerita dari seorang tapol tentang kayu super yang ditemukannya di lautan. Kayu itu hingga kini masih banyak ditemui di Pulau Buru Selatan.

Tempat Pramoedya Ananta Toer biasa menulis di Markas Komando, kini menjadi kandang sapi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Berbeda dengan ide-ide tentang Buru yang masih melekat pada karya-karya Pram, jejak langkahnya di pulau itu justru telah memudar. Ruang khusus tempatnya menulis saja, kini sudah hampir tak ketahuan di mana. Beruntung Dasipin masih ingat betul lokasinya.

Tempat Pram menghasilkan karya-karya yang mendunia itu kini tersembunyi di belakang pasar Mako yang hanya buka pada hari-hari tertentu. Tidak ada bangunan mencolok apa pun sebagai penanda. Hanya segaris rumah dengan kamar-kamar petak. Sisanya rerumputan.

Padahal, pasar Mako sendiri cukup ramai saat harinya buka. Mako menjadi pusat “peradaban” di kawasan unit yang jauh dari ibu kota Buru, Namlea. Banyak pertokoan dan warung makan.

Tapi bekas kamar Pram tak ada lagi bangunan. Gantinya adalah rerumputan liar yang tumbuh tinggi. Tanahnya becek, bercampur dengan kotoran sapi yang sering mengunyah makanan di situ. Tepinya ada pagar dan kawat pembatas.

Tempat itu sangat sepi, hampir tak ada orang mengunjungi. Satu-satunya peninggalan hanya cor semen seperti fondasi tiang bendera. Kata Tumiso, dahulu di situ adalah tempat menuliskan nama-nama komandan Mako.

Jangankan kamar Pram. Bangunan Mako saja sudah tak ada sisa. “Semua dibongkar tahun 1979, waktu transmigran mau masuk. Aula 20 x 30 meter tempat pertemuan tamu-tamu termasuk dari asing pun dibongkar. Tempat Pak Pram menulis jadi kandang sapi,” kata Dasipin menerangkan.

Untungnya Pram terus menulis, sehingga seperti yang dikatakan Minke tokohnya dalam tetralogi, “Suaranya akan abadi, takkan pernah hilang ditelan angin sampai jauh di kemudian hari.” Suara Pram tidak berakhir di kandang sapi seperti ruangan yang dahulu pernah memenjarakan ide-idenya.

Pulau Buru pernah menjadi bagian dari Pramoedya Ananta Toer. Demi mencari jejak-jejak Pram di Pulau Buru, CNNIndonesia.com melakukan lawatan ke tanah yang pernah ditinggali Pram selama 10 tahun itu.

Tulisan ini diterbitkan sebagai salah satu cara mengenang Pram yang tepat hari ini, Sabtu (30/4) telah 10 tahun berpulang. Meski begitu, suara Pram masih abadi selama karya-karyanya masih ada. (rsa/sip)

*Artikel ini saya copas dari http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160430002028-241-127685/pesan-dalam-sepatu-kabar-pramoedya-untuk-dunia/

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 179 diantaranya adalah kunjungan hari ini.