Pekan Pertaruhan Mancini dan La Nyalla

Sempat konsisten duduk di puncak klasemen hingga akhir tahun kemarin, namun tak sampai tiga bulan kemudian malah anjlok ke peringkat 5, bahkan terpaut 13 angka dari Juventus yang kini berada di peringkat pertama, membuat kursi pelatih Roberti Mancini memanas. Sebetulnya gejala penurunan permainan Inter – kalau tidak mau disebut hilangnya keberuntungan selama ini – dimulai sejak melawan Lazio di giornata terakhir Bulan Desember. Inter tidak hanya kalah di kandang, tetapi permainan dan mentalitas pemain mereka juga jauh dari kesan penantang utama peraih scudetto.

Libur musim dingin, alih-alih menyelamatkan Inter dari kelelahan fisik maupun mental, malah sebaliknya, rentetan hasil buruk dengan kebiasaan kebobolan di menit akhir datang bertubi-tubi. Puncaknya ketika Inter dipecundangi Juventus 3-0 di Coppa Italia. Enam pertandingan setelahnya Inter hanya menang dua kali. Tak pelak keberadaan Mancini mulai dibanding-bandingkan dengan pendahulunya, Walter Mazzari, yang hanya sanggup meraih 19 kemenangan dari 49 laga perdananya menangani Inter, beda tipis dengan dirinya yang juga hanya sanggup meraih 23 kemenangan dari 51 pertandingan di periode ke duanya menukangi Inter. Namun perlahan tapi pasti, kondisi Inter mulai membaik, terutama setelah kemenangan 3-0 atas Juventus di leg ke dua Coppa Italia. Walaupun akhirnya tersingkir melalui adu pinalti, setidaknya hasil ini memompa kepercayaan seluruh punggawa Inter.

Pekan ini, saat melawat ke Stadio Olimpico, Mancini tidak hanya menghadapi final perebutan peringkat tiga melawan AS Roma, tapi juga pertaruhan karier kepelatihannya. Namanya yang sempat digadang-gadang menjadi suksesor Antonio Conte di timnas Italia atas kesuksesannya membawa Inter bersaing di papan atas dalam waktu singkat, ditambah keberhasilannya meraih piala bersama Manchaster City dan Galatasaray, mulai diragukan. Padahal sebelumnya ia disebut-sebut sebagai salah pelatih terbaik Italia saat ini. Tapi kemudian rentetan hasil buruk yang menimpa Inter, ditambah insiden kartu merah yang ia terima saat melawan Napoli dan Milan, dan pelecehan secara verbal yang ia lakukan terhadap salah satu penyiar TV, serta acungan jari tengah ke arah penonton, sedikit banyak mengubah anggapan itu. Bukan cuma kemapuannya meracik strategi saja yang mulai dipertanyakan, tetapi juga prilakunya di luar lapangan.

Jangankan melatih timnas Italia, nasibnya di Inter pun mulai diragukan. Kabar comeback Diego Simeone sebagai pelatih Inter yang semakin menguat, dan mulai munculnya nama Claudio Ranieri, yang sukses mengejutkan Liga Inggris bersama Leicester, sebagai kandidat pelatih timnas Italia dapat membuat Mancini kehilangan ke duanya. Tiga poin melawan AS Roma menjadi harga mati bila Mancini tetap ingin melatih Inter musim depan atau ditunjuk menjadi pelatih Italia paska Euro 2016.

Erick Thohir, presiden Inter, besar kemungkinan juga menjadikan pertandingan ini sebagai tolok ukur pertimbangannya mereview kinerja Mancini. Walaupun beberapa kali ia menegaskan kepercayaannya terhadap Mancini, tapi Inter tetap butuh masuk ke zona Liga Champion untuk  menyelamatkan neraca keuangan mereka.Terkait neraca keuangan inilah sebetulnya Erick Thohir berada di posisi yang genting, oleh karenanya mulai tersiar kabar dia akan menjual sebagian sahamnya di Inter. Sebetulnya dapat dimaklumi, menjual sebagian sahamnya di Inter adalah salah satu cara menyelamatkan kondisi keuangan Inter, bila performa mereka terus terpuruk dan tidak juga berhasil masuk ke Liga Champion.

Namun ada baiknya juga, bila ia sudah enggan menjadi presiden Inter, ia bisa mulai mempertimbangkan kursi ketua umum  PSSI yang mulai goyah dengan menjadi tersangkanya La Nyalla Mattaliti atas dugaan kasus korupsi dana hibah. Ayolah, Pak Erick.

*Tulisan ini juga saya tayangkan di Kompasiana 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 62 diantaranya adalah kunjungan hari ini.