Merry & Iwan: “I Love You, I Need You, I’m Sorry – Forgive Me, I Pray for You.”

Ada empat kalimat yang wajib terekam selalu di kepala Merry dan Iwan mulai hari itu, 30 Januari 2016. Empat kalimat, yang tidak hanya mesti diingat, tetapi juga harus diucapkan dan diterapkan.

Pertama, “I love you“. Aku cinta kamu bukanlah kata-kata klise. Bukan basa-basi. Salah satu perwujudan cinta, ya melalui kata-kata. Mengucapkannya pun harus dengan segenap hati, dan kemudian ditindaklanjuti dalam tingkah laku sehari-hari. “I love you” jangan hanya diucapkan sekarang ini saja, saat semua sedang hangat-hangatnya, tetapi juga harus terus diucapkan sampai tua nanti. Sampai punya anak, cucu, cicit. Merry dan Iwan, tidak boleh lupa mengucapkan ini.

Ke dua, “I need you“. Salah satu sumber keretakan rumah tangga adalah ketika masing-masing pihak merasa sudah tidak lagi butuh pasangannya. Merasa hebat. Biar gimana pun juga, Merry dan Iwan pastilah saling membutuhkan, dan itu perlu ditunjukan melalui kata-kata. Tuhan pun, ternyata, “membutuhkan” manusia lho. Jangan salah paham dulu. Begini, kehadiran pemimpin agama, pastor, misalnya, adalah untuk mewartakan ajaran-ajaran Tuhan. Mereka yang memilih jalan hidupnya untuk menjadi pemimpin agama, dalam hal ini contohnya pastor, adalah mereka yang menjawab “kebutuhan” Tuhan tersebut. Dan menikah juga merupakan bagian dari menjawab “kebutuhan” atau keinginan Tuhan agar manusia saling mengasihi dalam ikatan keluarga. Tuhan saja “membutuhkan” manusia untuk menyebarkan ajaran kasihnya dengan cara masing-masing, masa iya manusia tidak saling membutuhkan? Merry dan Iwan tidak boleh lupa untuk menyadari bahwa kalian saling membutuhkan satu sama lain

Ke tiga, “I’m sorry and forgive me“. Keras kepala dan merasa selalu benar adalah bahaya laten dalam kehidupan berkeluarga. Kalimat yang ke tiga ini mengajak Merry dan Iwan untuk rendah hati, berani mengakui kesalahan, dan yang terpenting lagi memaafkan. “Maafkanlah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat,” kata-kata pengampunan yang diucapkan sendiri oleh Tuhan Yesus ketika di salib, sekaligus mengajarkan kita untuk tidak melulu mencari-cari kesalahan orang lain, tidak merasa paling tahu kesalahan orang lain, tetapi justru memaafkan mereka – orang yang menyakiti kita – tanpa syarat. Dalam kehidupan berkeluarga nanti, Merry dan Iwan pasti akan melihat dan mengetahui kesalahan pasangan masing-masing, namun dengan selalu mengingat dan mengucapkan kalimat yang ke tiga ini, kalian akan terhindar dari masalah yang berlarut-larut.

Ke empat, “I pray for you“. Doa dan saling mendoakan adalah bukti cinta yang lainnya. Doa dan saling mendoakan tidak kalah penting dibanding perwujudan yang lainnya, karena itu artinya kalian selalu membawa Tuhan dalam keseharian. Jangan pernah lupa untuk mendoakan pasangan kalian masing-masing. Selalu membawa Tuhan.

Ke empat kalimat dan uraian di atas pastilah juga sudah kalian dengar saat pemberkatan pernikahan kalian berlangsung. Pastor yang memimpin misa pemberkatan, meminta kalian mengingat dan mengucapkan hal ini selalu. Saya catat di sini untuk kalian, jikalau sewaktu-waktu kalian lupa dan membutuhkannya. Atau ketika salah satu dari kalian ingin mengingatkan pasangan, tinggal buka saja dan baca kembali.

Penjelasan yang saya paparkan di atas, mungkin saja tidak lengkap atau malah keliru, oleh karena itu jika kalian ingin menambahkan, silakan tulis saja pada kolom komentar. Dan sekali lagi, pastikan ke empat kalimat tersebut menjadi bagian dari keseharian kalian mulai detik itu.

***

Sehari sebelum pernikahan, saya memberi Merry dan Iwan beberapa pertanyaan, yang semoga saja dapat menjadi bahan bercandaan, nostalgia, atau malah renungan. Mereka mendapat pertanyaan di tempat yang terpisah, yang artinya Merry tidak tahu jawaban Iwan, begitu juga sebaliknya.

Berapa tahun kalian pacaran dan berapa lama pendekatannya?

Merry: 7 tahun 2 bulan. Pendekatan 2-3 bulan.

Iwan: Kenal dari tahun 2006 ketika camping. Gue lagi sama pacar gue, dan Merry juga sama pacarnya. 2008 kami sama-sama putus, dan mulai Agustus PDKT sampai jadian November. Hehe

Iwan nembak Merry di mana?

Merry: Ditembak di mobil pas anter gue pulang.

Iwan: Nembak di mobil, jam delapan malam, pakai lagunya Jason Mraz.

Momen terfavorit selama pacaran (selain lamaran)?

Merry: Banyak sih momen yang gue suka. Tapi yang paling berkesan, pas dia samperin gue ke Ausie pertama kali. 23 Mei 2014.

Iwan: Liburan berdua di Ausie. The best!

H-1, gimana perasaannya sekarang?

Merry: Bahagia, sedih, panik (takut besok ada yang kurang), enggak tenang, deg-degan lumayan, takut gue nangis Dayak seharian. *Sumpah ye,  gue baru denger istilah nangis Dayak -_-*

Iwan: Bahagia campur sedih karena harus ninggalin orang tua.

Apa yang paling bikin pusing saat ini?

Merry: Selain acara hari H, mau tinggal sendiri setelah nikah, tapi orang tua bilang tinggal aja dulu di rumah mereka, ganti-gantian. Mereka juga masih susah lepas kita. Secara gue anak pertama dan cewe yang deket banget sama keluarga, dan Iwan juga deket banget sama keluarga. Kita sama-sama family oriented banget.

Iwan: Ada temen yang tidak keundang, plus kerjaan kantor yang mesti ditinggal.

Dua hal yang paling kalian harapkan dari pasangan setelah menikah?

Merry: Apa yang udah ada sekarang jangan diubah, tapi dijadikan lebih baik saja. Kita berdua jadi team yang solid dalam menghadapi kehidupan baru. Contoh, membagi tugas rumah (cuci piring, setrika, ngepel) – kalau udah punya rumah atau tinggal sendiri. Hahaha.

Iwan: Lebih percaya (less insecure) dan pakai baju seksi di rumah. Hahaha.

Sifat apa (satu saja), yang menurut kalian, paling diharapkan oleh pasangan kalian setelah menikah nanti?

Merry: Less insecure paling. Hahaha.

Iwan: Tegas dan prioritas!

Pingin punya anak berapa?

Merry: Tiga dan pingin kembar cowo cewe.

Iwan: Tiga.

Saran apa yang bisa kalian kasih ke teman-teman yang ingin menikah?

Merry: Berdoa, berkomunikasi, respect satu sama lain. Bertahan dan berserah pada Tuhan. Karena nyiapin persiapan pernikahan itu nggak gampang. Kalau kata orang, banyak godaan, emang bener. Kalau dari pengalaman gue sih godaan paling berat itu gimana caranya gue sm Iwan bisa satu kepala satu suara. Berkomunikasi dengan baik di saat banyak banget hal yang beda antara gue dan Iwan. Susah banget. Kalo berantem, sampe sekarang which is H-1 masih berantem kita. Hahaha.

Tapi yang paling penting itu kehidupan setelah hari H. Jangan sampe sibuk mempersiapkan hari H (pemberkatan & persepsi), tapi malah habis itu kehidupan selanjutnya terbengkalai. Salah satu persiapannya yaitu ikut pembinaan persiapan perkawinan. Kalo dari pengalaman gue, itu sangat membantu mempersiapkan masing-masing pribadi sebelum berumah tangga. Sangat membantu menurut gue. Dari pengalaman gue, karena kita menikah beda gereja, kita ikut KPP dan sharing sama pembinaan sama Pendeta.

Iwan: Menikahlah saat lo sudah siap!

Sudah ML sebelum nikah?

Merry: Belum, tapi bentar lagilah. Hahaha.

Iwan: BELOM, dan AKHIRNYA. HAHAHA.

***

Semoga pertanyaan-pertanyaan saya menghasilkan jawaban yang kalian butuhkan, dan dapat menjadi bahan bacaan menarik di sela-sela bulan madu *ejiee*. 

Dan sebagai penutup, saya ingin mengucapkan selamat menempuh kehidupan yang baru, yang berbeda, yang menjawab panggilan Tuhan, dan yang pasti, yang sesuai harapan kalian selama ini. Sekali lagi selamat. Saya sangat amat bahagia dapat turut menyaksikakan kisah ini dari awal sampai akhir.

Oh, ya, sebelum kelupaan, saya minta maaf yang sedalam-dalamnya atas segala ketidaknyamannya selama pernikahan ya. Hahaha. Bukannya memperlancar, malah ada-ada aja yang ketinggalan. Maaf, ya, Mer. Maaf, ya, Wan.

Saya tunggu cerita malam pertamanya.

*kisah Merry & Iwan sewaktu lamaran, saya abadikan di sini*

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 214 diantaranya adalah kunjungan hari ini.