Memories of Luce

woman with thought bubble on chalk board

Penulis: Refil L. Better.

Ruangan lengang berukuran 3×3 meter itu terasa dingin. Leia menatap dinding putihnya dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Otot wajahnya jadi agak sulit digerakkan akhir-akhir ini. Ia sendirian, duduk bersandar di atas ranjang dengan seprai berwarna putih. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul satu siang. Dokter Dani mengatakan akan menemuinya jam satu. Dan Leia masih belum berhasil mengumpulkan niatnya untuk berbicara dengan dokter paruh baya itu.

Tepat jam satu siang pintu kamarnya diketuk pelan, disusul dengan suara gerendel pintu yang terbuka dan diiringi sosok laki-laki tinggi tegap berjas putih dengan senyum cerah di bibirnya. Leia menggerakkan kepalanya perlahan ke arah pintu, masih tanpa ekspresi. Melihat sosok dokter Dani dengan jas putihnya, gadis itu mengernyit. Dia membenci warna putih sejak ia diharuskan mendekam di tempat terkutuk ini.

“Hai, Leia,” sapa dokter Dani ringan. “Sesuai pembicaraan kemarin, saya berjanji kita akan mengobrol siang ini. Kamu senang, bukan, kalau ditemani?”

Leia mengerjap sekali. Meski merasa tidak antusias sama sekali ia tetap memberikan anggukan samar. Begitu samar hingga nyaris tidak terlihat seperti anggukan.

Dokter Dani tetap tersenyum. Sambil menarik bangku ke dekat ranjang ia berkata, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”

Leia meringis sedikit. Ia menunduk menatap jubah pasien putih yang dikenakannya. Sekali lagi gadis itu mengernyit, ia benar-benar membenci warna putih.

Bagaimana kabarnya? Ia tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Apakah ia merasa senang? Sedih? Bingung? Sepertinya ia sudah berada pada fase mati rasa selama beberapa bulan terakhir. Ia tidak tahu bagaimana kabarnya saat ini. Mungkin depresi sudah ia lewati. Ia tidak perlu lagi diikat di ranjang lantaran sering mengamuk sambil menangis. Tidak lagi. Leia sudah tidak merasakan apa pun lagi.

“Masih memikirkan Luce akhir-akhir ini?”

Rupanya gadis itu salah. Dia bukannya tidak merasakan apa pun lagi. Buktinya, hanya dengan mendengar satu nama itu saja, lukanya terasa seperti dibuka kembali. Membicarakan Luce berarti menabur garam di lukanya. Ia benci sesi ini. Ia benci dokter Dani. Tangannya yang gemetar mencengkeram bagian dari jubahnya, sekeras yang bisa dilakukan kedua tangan kecilnya yang lemah.

Luce teman yang baik. Tidak, Luce sahabat yang baik. Leia menyukai rambut hitam arangnya yang selalu dipotong pendek sebahu. Luce selalu mengenakan rok mengembang dengan panjang di bawah lutut. Luce selalu terlihat cantik mengenakan rok.

Leia tersenyum getir. Memikirkannya akhir-akhir ini? Leia memikirkannya hampir sepanjang waktu.

“Nampaknya kalian sangat dekat dan saling menyayangi. Kau dan Luce.”

Tanpa sadar Leia mengangguk, membenarkan pernyataan dokter Dani. Leia mengenalnya sejak hari pertama masuk kuliah. Begitu Leia membuka pintu kamar asramanya, ia menemukan Luce yang kesulitan membuka kardus yang diikat terlalu kencang saking penuhnya. Benda-benda tajam tidak diizinkan dalam kamar asrama sehingga mau tak mau Leia ikut membantu Luce membuka ikatan kardusnya, menarik-narik tali yang ada di sisi mana pun hingga lepas. Begitu ikatannya akhirnya terlepas mereka sama-sama menghempaskan tubuh di atas lantai. Keduanya menghela napas di waktu yang sama. Begitu sadar, mereka saling menatap, keduanya tertawa dengan keras.

Itu kali pertama Leia melihat Luce. Semenjak itu mereka berteman karib, tak terpisahkan. Di mana ada Leia, di sana ada Luce. Mereka teman sekamar di asrama kampus. Leia agak tertutup, tapi Luce begitu ceria dan ramah. Ketika pertama kali berkenalan, itulah kali pertama Leia merasa nyaman bersama dengan orang asing. Tapi Luce mampu bersikap seolah-olah mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun.

“Kalian menghabiskan waktu bersama-sama?”

Kedua sudut bibir Leia tertarik ke atas. Tentu. Hampir sepanjang waktu selain jam kuliah mereka habiskan bersama. Ini karena mereka berasal dari fakultas yang berbeda. Leia mengambil jurusan seni rupa, sedangkan Luce sastra Inggris.

Leia sendiri juga agak heran. Luce gadis yang ramah dan ceria, tapi tak pernah terlihat bergaul dengan siapa pun selain dirinya. Leia juga hampir tidak pernah melihat Luce bersama dengan anak sejurusannya. Diam-diam ia menyukai fakta kecil itu. Bagaimana dalam dunianya, hanya ada Luce. Demikian juga hanya ada dirinya dalam dunia Luce.

“Apa saja yang kalian kerjakan saat sedang bersama-sama?”

Oh, ada banyak sekali. Selalu ada aktivitas menyenangkan untuk dikerjakan bersama Luce. Kadang mereka memasak bersama, saling mencoba makeup, membahas buku yang mereka baca, tetapi mereka paling suka dengan permainan.

Mereka menyukai permainan kartu. Setiap kali pulang kuliah, meja kayu berukuran 50×50 senti digelar di tengah kamar mereka yang sempit, di antara tempat tidur. Luce menyiapkan meja. Sementara Leia akan menyiapkan kartu. Leia lebih mahir bermain kartu setan, sedangkan Luce tak tertandingi dalam poker. Keduanya tertawa geli setiap kali salah satu dari mereka kalah dan harus mendapat hukuman. Entah itu sentilan di kening. Atau laburan bedak pada wajah. Di hari lain mereka akan menghabiskan waktu melakukan permainan meja lainnya; monopoli, jenga, ular tangga, dan sekitar setengah selusin permainan meja lainnya. Mereka suka permainan meja.

“Nampaknya kalian punya waktu yang menyenangkan bersama. Apa kalian juga berpergian berdua?”

Leia mengangguk dengan wajah berseri. Kali ini ia menatap wajah dokter Dani lekat-lekat. Pada akhir minggu mereka dibebastugaskan dari pekerjaan beres-beres dan diperbolehkan bermain di luar asrama. Leia biasanya akan menginjak pedal gasnya menuju kota. Bersama Luce. Mereka berkeliling, melihat-lihat, mencari makanan unik dan lezat, pokoknya melihat-lihat kota.

Pada penghujung hari mereka senang duduk di tepi danau, menyaksikan metahari tenggelam. Di sana mereka berjanji akan bersahabat selamanya. Mereka pulang ketika hari sudah menjelang fajar, tertidur di ranjang dan bermalas-malasan hingga hari Minggu tiba.

Leia menghela napas saking terasa sesak rongga dadanya. Mereka berjanji akan bersahabat selamanya. Luce berjanji akan ada di sisinya selamanya. Luce sudah berjanji.

Mata Leia berair, tapi ia tidak menangis. Hanya mengusapnya pelan sambil menunduk ke arah lantai keramik rumah sakit.

“Kamu tidak perlu sungkan untuk menangis, Leia.” Suara dokter Dani terasa menenangkan. Tapi Leia ingat terakhir kalinya ia menangis, ia lepas kendali dan mengamuk sampai harus diikat di ranjang dan disuntikkan obat penenang. Leia tidak mau. Ia juga benci jarum suntik.

“Luce begitu berharga buatmu, ya?”

Air mata Leia mengalir tanpa bisa dicegah lagi. Ia mulai terisak dan bahunya bergoncang-goncang. Luce bukan cuma berharga. Luce sahabat paling sempurna yang bisa ia miliki. Luce menggantikan saudarinya yang meninggal bersama dengan kedua orangtuanya akibat kelalaian pengendara mobil di jalan raya. Luce orang yang mengisi bagian yang kosong dalam hatinya. Kendalikan diri, Leia, kendalikan diri, gadis itu mengingatkan dirinya sendiri.

Bunyi ketukan di pintu terdengar lagi. Seorang perawat masuk ke kamar dengan nampan berisi obat-obatan. Leia sempat mendengar pembicaraan perawat dengan dokter Dani sekilas. Ia menyebutkan sesuatu tentang ‘belum stabil’ dan ‘masih kuat’. Kemudian dokter Dani pamit dan keluar ruangan.

Leia kini berada bersama perawat yang tadi sempat berbincang dengan dokter Dani. Si perawat menyapanya singkat sebelum mulai menyiapkan obat-obatan yang harus diminum Leia. Gadis itu kembali menampilkan muka tanpa ekspresi setelah tangisnya reda. Ia menolehkan kepalanya pelan saat perawat menyodorkan obat yang harus diminum ke telapak tangannya, serta segelas air putih di tangan yang lain.

Leia menatap pil-pil anti psikotik yang diminumnya selama 5 bulan terakhir. Obat-obatan ini yang membuatnya tidak bertemu lagi dengan Luce.

Luce, bagian dari halusinasinya, sudah lama menghilang semenjak ia menelan obat-obatannya.

P.S. :

Kisah ini terinspirasi dari lagu Just My Imagination oleh Cranberries. Dan cerpen ini dipersembahkan untuk seorang teman yang juga menyukai lagu ini. Thank you for encouraging me to write again. 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 169 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

Be the first to comment on "Memories of Luce"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*