Martini, not Tequila

Penulis: Ares Hutomo.

 

Dia menghela nafas,memantapkan hati untuk mulai bercerita padaku, pada orang asing yang baru dikenalnya. Entah apa yang dipikirkannya karena dia memulainya dengan berkata:

‘Kamu tau mas hal yang paling romantis dari hujan itu apa?dia pasti akan kembali lagi meski sudah jatuh berkali-kali’

Aku tertegun tapi tak berkomentar sedikitpun. Apalagi langit temaram malam ini mempertontonkan bintang-bintangnya yang berkedip dan sinar bulannya yang sayu. Aku tak tau maksudnya tapi yang jelas di titik ini,kesunyian dariku adalah penting. Penting baginya untuk bisa mempercayaiku sebagai seorang pendengar yang baik bukan sebagai pemberi nasehat. Wanita, biasanya adalah makhluk seperti itu.

Baca juga “Manis, Begitu Para Lelaki Memanggilnya” untuk mengetahui kisah sebelumnya.  Klik di sini.

“Aku udah jatuh berkali-kali mas, tapi tetep aja kembali lagi. Mungkin so sweet kali ya. Tapi kok aku ngerasanya bodoh. Bodoh banget malah. Tapi yaudahlah uda terjadi ini. Tapi rasanya masih sakit.’

‘Kalau uda suka sama orang biasanya gitu,wajar kok njel. Mungkin km bisa belajar dari…..’

‘Wajar???’ Angel memotong pembicaraanku.

‘Wajar yang gimana mas?’

Lalu hal yang kutunggu sedari tadi terjadi, dia tenggak tequilanya dengan cepat kemudian. Menghirup nafas panjang dan melepaskannya perlahan,seperti sedang melepas suatu beban teramat berat. Matanya menerewang ke atas,memandangi bintang yang cerah itu satu persatu. Tak ada pandangan kosong dari matanya,menurutku dia sedang berpikir untuk memulai cerita darimana. Dan sekali lagi, porsi cerita yang pas bagiku yang masih asing baginya.

‘Aku MBA mas, anakku 1 dan ternyata aku baru tau suamiku,atau begitu aku menyebutnya,udah punya istri dan 2 anak. Trus apa itu disebut wajar?? Pftt…’

‘Ttttrruuus mbak?’

Nafasku terdengar tertahan,jelas sekali aku cukup terkesiap dengan kata-katanya barusan. Tapi paling tidak lidahku tidak cukup tercekat untuk sekadar diam dalam sunyi.

‘Ya gini gini aja mas. Coba deh pikirin’

Dengan satu gerakan cepat dia berdiri,menjatuhkan tequilanya. Pasir-pasir pantai runtuh perlahan dan dia mengibas kibaskan celananya.

‘Aku nginap disana mas,mungkin disitu aku bisa memeras air mataku sampai habis’

‘Kita harus move on kan ya mas, yang sudah terjadi biarlah terjadi dan yang paling penting adalah kedepannya. Melihat dan merencanakan ke depan jauh lebih baik daripada sekedar duduk disini menenggak sebuah botol.  Cuma tequila lagi. Hanya tequila. Gak keren.’

‘Yah..paling tidak…….’

‘Paling tidak apa? Paling tidak aku meluapkan semuanya gitu?biar plong? Plong yang kaya gimana mas?? Aku seorang ibu beranak 1 tanpa ayah yang sah. Apa yang bisa membuatku plong?’

Untuk kesekian kalinya di tengah semilir angin malam dan ombak yang menderu aku tertegun terkesiap terkejut atau apalah itu, suatu keadaan dimana aku,seorang lelaki,tidak tau harus melakukan tindakan apa. Dalam sepersekian detik pula pikiran dan logikaku mengambang jauh,menemukan beberapa titik yang kemudian menjadi sebuah garis lurus. Garis ini kemudian menyatu dengan garis lainnya,membentuk suatu linear dan berakhir di satu titik terjauh menilisik ke dalam benakku.

Status, itu titik pertamaku yang kemudian membentuk garis panjang. Suatu garis kehidupan yang akan dilalui wanita ini dimana dalam perjalanannya dia pasti akan bertemu dengan garis-garis yang lain. Bilapun dia menemukan pena yang tepat untuk menggambarkan karakter garis yang diidamkannya akankah ada sebuah mistar yang lurus untuk menuntunnya merangkai semua garis-garis itu? Dan meskipun semuanya telah ada, tersedia di meja begitu saja, akankah dia sanggup menjadi seorang dewi yang dengan santunnya menggoreskan penanya di hamparan kertas kosong?menunggu dinilai dan dibaca oleh semua orang? Status, titik pertama yang paling penting.

‘Kenapa mas? Gak bisa ngomong ya? Hahaha… atau kaget? Udahlah mas,bukan urusanmu’

‘Oh..memang bukan urusanku,’ kataku sambil berdiri

‘Tapi paling tidak,yang aku tau,masa depan lebih layak diperjuangkan daripada masa lalu. Apapun resikonya’

Dia kembali tersenyum dan kami melangkah berpisah ke dalam kepekatan malam.

‘Tomorrow 7pm,same place,’ kata dia tiba-tiba

‘I’ll be here and dont forget to bring martini not tequila’

Dia tidak tersenyum tapi rona mukanya terlihat lebih manis daripada saat berjumpa tadi. Bagiku itu adalah jawaban ‘iya’ dari seorang wanita.

Dan kamipun berpisah.

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 98 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

Be the first to comment on "Martini, not Tequila"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*