Kepada Romo Magnis (Patung Gua Kerep)

Beberapa waktu yang lalu, beranda Facebook saya dibanjiri gambar ini. Seingat saya, hanya dua atau tiga teman yang membagikannya, namun karena komentar dan likes terus berdatangan, alhasil tiap kali membuka Facebook, gambar ini selalu nangkring di deretan teratas beranda Facebook saya. Gambar ini ternyata cukup menyita perhatian.

Sejujurnya, saya tidak mengetahui tulisan pendek Romo Magnis ini aslinya dimuat di media mana, kapan, dan seberapa panjang. Kalau dilihat-lihat, sepertinya gambar tersebut hanya menampilkan bagian akhir dari tulisan Romo Magnis. “Patung di Gua Kerep, menurut saya, juga sebuah provokasi terhadap…”. Tebakan saya, Romo Magnis sedang membahas tentang provokasi atau keberagaman di Indonesia, dan yang tertera pada gambar tersebut hanya paragraf terakhirnya saja. Ini yang sebetulnya dapat membuat kita salah memahami pemikiran Romo Magnis secara utuh. Kita hanya melihat sepenggal saja. “Asyiknya, paragraf terakhir (jika benar) yang dibikin Romo Magnis ini terlihat seperti kesimpulan, dan isinya nendang sekali. Maka senanglah Facebookers.

Cara paling gampang menyimpulkan tulisan pada gambar tersebut adalah dengan membaca satu dua baris pertama ditambah satu dua baris terakhir. Begini kira-kira kesimpulannya: patung di Gua Kerep, menurut saya, perbuatan agamis yang paling konyol. Setelah serampangan menyimpulkan dan tidak mencari tahu pikiran utuh Romo Magnis, saatnya kita beralih ke ajang silang pendapat tak berujung. Saya juga termasuk orang yang gerak cepat menulis di kolom komentar begitu melihat dan membaca tulisan Romo Magnis ini.

***

Saya tidak sependapat dengan yang Romo Magnis sampaikan.

Pertama, terkait daerah yang kental Islamnya. Saya tidak tau definisi kental yang ada di bayangan Romo Magnis itu yang seperti apa. Gua Kerep itu ada di Ambarawa. Ada yang pernah ke Ambarawa? Atau pernah tinggal di Ambarawa?

Eyang, Pakde, dan Bude saya tinggal di sana, dan saya kebetulan menghabiskan tiga tahun SMA di Desa Bedono, Kecamatan Ambarawa. Dari sekolah saya ke Gua kerep hanya berjarak lima belas menit menggunakan angkutan umum, atau satu jam berjalan kaki. Dengan kata lain, saya tidak asing-asing amat dengan kehidupan di sana. Begini, umat Katolik di sana cukup banyak. Pada Hari Minggu pagi, kita akan dengan mudah melihat penduduk sana sedang menenteng Puji Syukur dan bergegas menuju Gereja. Ambarawa itu kecil sekali. Tidak sulit bagi orang awam untuk berani mengatakan bahwa Ambarawa bukan daerah yang kental Islamnya, hanya dengan beberapa kali persinggahan dan sepenglihatan.

Perbandingan umat Katolik dan Islam di sana, dengan umat Katolik dan Islam di Kecamatan Pondok Gede (Bekasi), tempat tinggal saya sekarang, rasa-rasanya lebih pas menyebut Pondok Gede ini lebih kental Islamnya ketimbang di Ambarawa sana. Di sini Masjid ada di mana-mana. Kalau Maghrib, suara Azan dari satu Masjid dengan Masjid lainnya seakan beradu merdu. Tapi hal ini tak sampai membuat ada yang mengatakan Pondok Gede kental Islamnya.

Kemudian, di Ambarawa sana, ada sebuah Klenteng megah tak jauh dari Gua Kerep, yang mana tiap Imlek ramai betul. Seingat saya ada hari tertentu dimana orang-orang di Klenteng melempar uang logam ke jalanan. Saya tidak tau untuk apa, tapi dulu saya dan teman-teman sering mungutin uang logam tersebut. Maksud saya cerita begini adalah, di Ambarawa sana kerukunan umat beragama sudah kelas wahid. Terjalin entah dari kapan, dan masalah provokasi-provokasian itu hanya muncul di pikiran orang-orang yang tinggal di luar Ambarawa. Orang sana mah udah asik-asik aja kayaknya.

Selanjutnya tentang provokasi. Saya tidak melihat ini sebagai sebuah provokasi yang mengancam kerukunan. Kalau patung ini didirikan samping-sampingan dengan Patung Jendral Sudirman di Jakarta, nahh, itu baru, memprovokasi tingkat tinggi. Ada yang tahu patung Bunda Maria itu letaknya di mana? Untuk yang belum pernah ke Gua Kerep, saya berikan gambaran seperti ini.

Patokkannya adalah Terminal Ambarawa yang letakknya persis ada di pinggiran jalan – jalur utama Semarang – Yogya. Kalau kalian naik kendaraan umum, bisa berhenti di Terminal Ambarawa tersebut, kemudian dari situ silakan berjalan kaki menuju Gua Kerep. Tidak jauh, kurang lebih hanya satu kilo meter, hanya saja medannya menanjak dan berkelok-kelok. Lumayan untuk berolah raga. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, bisa langsung menuju ke sana, namun karena gangnya cukup kecil, para pengendara harus pandai-pandai mengalah bila bertemu kendaraan lain dari arah sebaliknya.

Dalam perjalanan menuju ke sana, kalian akan melewati rumah penduduk dan sedikit sawah. Di dekat sawah tersebut terdapat Masjid yang menghasilkan suara sampai ke Gua Kerep. Saya rasa juga sebaliknya, suara-suara di Gua Kerep ketika sedang ada misa berlangsung, akan sampai ke lorong-lorong Masjid. Sampai detik ini belum pernah saya dengar ada perselisihan yang terjadi. Di area Gua Kerep itulah patung Bunda Maria didirikan. Tinggi menjulang dan megah. Siapa yang bisa melihat patung itu? Hanya orang-orang yang di sekitar situ. Kalau kamu berada di Terminal Ambarawa, tidak akan ada ceritanya patung itu akan terlihat. Lalu hendak memprovokasi siapa? Siapa yang terprovokasi?

Gua Kerep – Ambarawa, selain tempat berdoa, juga menjadi tempat wisata. Tiap ke sana, pasti saya melihat ada mbak-mbak berkerudung yang datang bersama teman-temannya, gembira ria, foto-foto. Gua Kerep ini tidak hanya ramai dikunjungi orang-orang yang mau berdoa, tapi juga dikunjungi oleh mereka yang cuma penasaran, pingin lihat-lihat, dan wisata. Tak melulu beragama Katolik. Imbasnya, banyak pedagang berjualan di sekitar Gua Kerep.

Dibangunnya patung Bunda Maria di Gua Kerep akan menambah daya tarik. Boro-boro terprovokasi, penduduk sekitar malah senang bisa dagang di sana. Dari dagang lekker, bunga, sampai kaos berkumpul di sana. Yang paling wajib dicoba adalah pecel Mbok Kami. Mak nyuss.. Gua Kerep ini sudah jadi daya tarik wisata Kota Semarang. Mirip-mirip Klenteng Sam Poo Kong kira-kira. Jadi, saya rasa, pembangunan ini tidak akan menimbulkan gesekan dengan umat agama lain.

Ada salah seorang teman yang mengatakan pembangunan patung Bunda Maria ini tidak tepat waktunya. Banyak hal yang lebih urgent, misalnya pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Saya hanya mau bilang, dalam Gereja Katolik, saya kira, hal-hal seperti ini sudah dipikirkan. Sudah dialokasikan uang untuk kebutuhan A, B, C, sampai Z. Dan ketika membangun patung ini, juga pasti sudah diperhitungkan masak-masak dampaknya. Sebagai contoh saja, kalau dalam pemerintahan, tidak semua anggaran akan dialokasikan untuk pendidikan atau pertanian. Pasti juga disisihkan untuk hal lain, karena kehidupan masyarakat juga terdiri dari banyak aspek. Demikian halnya dengan pembangunan patung ini.

Ke tiga, tentang rasa hormat dan cinta terhadap Bunda Maria. Apakah pembangunan patung ini menunjukan rasa hormat yang berlebihan? Dalam hal menghormati dan menyayangi, kalau bisa dilebih-lebihkan, masa iya tidak kita lakukan? Kita semua begitu, bukan? Tentu selama tidak mengganggu kanan-kiri dan aturan yang ada.

Dan bentuknya yang mirip patung dewi agama politheis, itu masalah selera dan pendapat Romo Magnis tentang suatu karya seni saja. Subjektif sekali. Kalau di Yogya sana ada Gua Ganjuran yang Patung Yesusnya mirip wayang atau dewa-dewa Hindu. Lalu apa ya pendapat Romo Magnis? huuehuehue..

Terakhir, yang mungkin harus dipastikan lagi adalah, kapan terakhir kali Romo Magnis ke sana ya? Doa novena di tengah malam yang dingin, atau sekadar menikmati wedang ronde dan mengudap saren sambil berhahahihi dengan para pedagang yang ramahnya bukan main. Pedagang di sana pasti Katolik? Ah

*Tulisan ini sebelumnya saya tulis di Kompasiana. Dapat dibaca di sini

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 124 diantaranya adalah kunjungan hari ini.