(Jangan) Salah Kamar

Satu lagi teman saya yang menyerahkan dirinya pada ikatan pernikahan di tahun ini. Belum genap semester pertama 2015 berakhir, sudah ada lima teman saya yang mengadakan resepsi pernikahan. Kemungkinan pada semester kedua nanti, jumlahnya akan lebih banyak.

Sabtu kemarin, 23 Mei 2015, Teman SD-SMP yang juga tetangga saya, Desy Barus, melangsungkan pernikahan. Acara resepsi mereka (Desy & suami) diadakan di Graha Girsang, Pekayon, dari pukul 11:00-14:00 WIB, dan saya tiba di tempat pada pada pukul 13:00 WIB. Setelah berkeliling area parkir 3-4 kali, akhirnya mobil saya parkir di luar gedung. Parkiran penuh. Pernikahan mereka dihadiri cukup banyak orang. Adrianus Meliala, kriminolog yang terkenal itu, saya lihat hadir juga di acara tersebut. Ternyata beliau adalah kerabat dari Desy.

Setelah parkir, saya bergegas menuju gedung. Seperti kondangan pada umumnya, saya hampiri meja penyambut tamu, mengisi daftar hadir (saya isi: Anggara Gita (Bellar), Cikunir, tanda tangan), kemudian memasukan amplop di bagian kotak bertuliskan ‘mempelai wanita’, lalu masuk ke ruangan. Suasana tampak ramai. Bahkan dapat dibilang ramai sekali. Ruangan tersebut dibagi menjadi dua sisi. Baik sisi kiri maupun kanan, berjejer rapi meja dan kursi untuk 4-6 orang, laiknya rumah makan.

Di dalam, saya mencari Abram, salah seorang teman SD, yang juga turut hadir di acara pernikahan Desy. 15 menit berlalu dan saya tidak melihat keberadaan Abram, padahal melalui Whatsapp, dia bilang sudah tiba di sana sejak pukul 12.00 WIB. Kemudian saya keluar gedung tersebut untuk mencari tempat yang sepi agar dapat menelepon dia. Sesampainya di bagian loby gedung, saya melihat Abram melambai-lambaikan tangan dari kejauhan. Saya hampiri dia, dan ternyata…. Saya salah masuk gedung! Damn!

Jadi, di area Graha Girsang terdapat dua gedung. Yang satu bernama Graha Girang, dan yang satu lagi bernama Graha Lestari. Nama, alamat, dan juga amplop telah saya masukkan di – entah acaranya siapa -di Graha Girsang, padahal Desy melangsungkan resepsi pernikahannya di Graha Lestari. Melalui tulisan ini saya hendak menyampaikan maaf kepada Desy karena belum memberi amplop “selamat menikah”. Amplop jatahmu telah masuk ke kotak yang salah, dan saat itu saya tidak membawa uang cash lagi. Nanti kapan-kapan, kalau kita papasan, saya pasti kasih. Hehe.

“Haha. masih aja, lo, King, ” kata Abram begitu mendengar cerita saya salah masuk gedung. Abram menertawakan dua hal: kesalahan saya dan tidak hilangnya hal-hal bodoh yang biasa saya lakukan. Abram adalah teman saya sejak SD, jadi ia lumayan tahu betul banyak hal tentang saya. Kami sempat akrab, lantas menjadi agak merenggang karena kegiatan masing-masing. Walaupun sudah agak merenggang, tidak membuat saya, atau kami, canggung saat bertemu. Persahabatan, bagi saya, sama halnya dengan bersepeda. Seberapa lamapun kamu tidak bersepeda, tidak akan membuatmu lupa atau cangungg memainkannya kembali begitu mendapat kesempatan.

Setelah bersalaman dengan kedua mempelai, saya dan Abram santap siang bersama sambil ngobrolin banyak hal. Salah satunya tentang prosesi pernikahan adat Batak. Kata Abram, prosesi pernikahan adat Karo tidak seribet Toba. Tapi yang pasti, baik Karo maupun Toba tetap mengharuskan orang-orang di luar suku tersebut untuk membeli marga apabila hendak menikahi pria atau wanita asli Karo/Toba.

Satu hal yang paling menarik, menurut saya, dan saya baru mengetahuinya, adalah bahwa ternyata Batak Karo memiliki lima kelompok marga. Abram menjelaskan bahwa dia yang bermarga Surbakti, tidak mungkin menikah dengan boru (sebutan marga untuk wanita) Barus. Karena Surbakti dan Barus berasal dari satu kelompok marga yang sama, yaitu Karo-Karo. Mereka yang berasal dari satu kelompok marga yang sama tidak diperbolehkan untuk menikah. Selama ini saya mengira bahwa “cukup” yang satu marga yang dilarang menikah, ternyata tidak.

Berikut lima kelompok marga di Batak Karo yang saya ambil dari  Wikipedia:

  1. Karo-karo: Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sinulingga, Sitepu, Sinuraya, Sinuhaji, Ketaren, dll. (berjumlah 18).
  2. Tarigan: Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero, dll. (berjumlah 13).
  3. Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata, Manik, dll. (berjumlah 16).
  4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi, dll. (berjumlah 15).
  5. Perangin-angin: Bangun, Sukatendel, Kacinambun, Perbesi, Sebayang, Pinem, Sinurat, dll. (berjumlah 18).\

Entah mengapa yang saya bayangkan adalah  betapa repotnya mencari kekasih apabila saya dilahirkan menjadi anak asli Batak Karo. Bagaimana ceritanya nanti jika saya jatuh cinta pada orang yang ternyata satu kelompok marga yang sama. Kalau hanya memastikan tidak satu marga, saya bisa bertanya langsung atau melihat kartu identitas. Lah, kalau kelompok marga begini, berarti saya harus menghafal kelompok marga beserta marga-marga anggota kelompok tersebut.

***

Kurang lebih pukul setengah tiga sore saya sudah tiba di rumah, namun Hari Sabtu belum selesai sampai di situ. Jam delapan malam saya janjian dengan Iwan dan Merry untuk bertemu di Grand Galaxy, Bekasi. Bonchon dan Share Tea menjadi tempat pilihan kami untuk menghabiskan malam minggu. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya duduk satu meja (duduk kok di meja?) dengan Merry dan Iwan. Kami berbincang banyak hal. Yang ringan-ringan saja, termasuk soal asmara. Kisah asmara saya, tentunya.

Awalnya perbincangan terasa nyaman, sampai akhirnya kami pindah dari Bonchon ke Share Tea. Bukan tempat duduk, tata cahaya, atau suhu ruangan yang membuat kami tidak nyaman, tetapi panggung musik yang berada tepat di depan pintu Share Tea-lah yang menjadi penyebabnya. Suara kami harus beradu dengan lengkingan sang vokalis band, belum lagi dentuman drum yang membuat dinding ikut bergetar. Suara akan semakin terdengar jelas apabila ada pengunjung yang membuka pintu gerai Share Tea. Entah apa yang ada di pikiran pihak penyelenggara live music tersebut, sehingga bisa-bisanya memadukan musik beraliran “jedar-jedar” dengan gerai minuman teh, kopi, sampai ayam goreng. Sama sekali tidak cocok. Akustikan, saya rasa, akan lebih mudah larut dalam makanan dan minuman yang dijual di gerai-gerai sekitar panggung.

Saking berisiknya, saya pikir daripada harus teriak-teriak untuk berbincang, lebih baik menyibukan diri dengan melihat-lihat linimasa Path (halah, alasan). Saat itu kulihat di linimasa, teman saya, Hani, sedang berada di Singapore. Dengan cepat saya hubungi dia via Whatsaap untuk menitip wine di duty free Changi. Dan, sudah saya duga sebelumnya, Hani enggan memenuhi permintaan tersebut. Hal yang sangat amat wajar. Saya saja yang gila, bisa-bisanya menitip minuman beralkohol pada wanita berkerudung. Hua. Maaf, Han.

Tidak sampai 5 menit berchat ria dengan Hani,  kemudian saya melanjutkan obralan dengan Merry dan Iwan lagi. Kali ini suasana sudah lebih tenang. Obrolan pun menjadi lebih menarik. Namun sayangnya, ternyata, mall sudah hendak tutup. Pantas saja suara musik tidak terdengar lagi dari dalam. Jam 10 malam kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

***

Pagi ini, Minggu, 24 Mei 2015, saya bangun pukul setengah lima pagi untuk datang ke Car Free Day (CFD). Masih ngantuk, sebetulnya, karena saya baru sempat tidur pada pukul 1 dinihari. Tapi mau gimana lagi, Ayah memintaku untuk mengantarnya berolaharaga di sana.

Saya parkir di samping Gereja Theresia, Menteng, karena menurut saya tempat ini strategis. Bundaran HI dan Monas masih dapat dijangkau dari sini dengan berjalan kaki tanpa harus mengeluh pegal.

CFD dewasa ini sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk berolahraga. Atau mungkin lebih tepat disebut, tidak lagi dijadikan tempat khusus untuk berolahraga. Saya sempat mengira CFD akan menjadi solusi bagi warga Jakarta yang ingin bermain badminton dan bersepeda, mengingat semakin sedikitnya lahan-lahan umum yang dijadikan tempat berolahraga, khususnya untuk olahraga tersebut. Nyatanya, sekarang, sepanjang trotoar sudah dipenuhi pedagang kaki lima, kemudian bagian tengah jalan dipadatai pawai-pawai iklan berbagai produk, ditambah lagi bus transjakarta yang tetap melintas. Mustahil untuk dapat mengayunkan raket di tengah kerumunan seperti itu. Apalagi bersepeda.

Sebelum pulang, saya membeli satu mangkuk bubur ayam seharga Rp10.000, dimsum seharga Rp14.000/4pcs, dan jus mangga seharga Rp13.000. Harga-harga jajanan di sana, bagi saya, kurang merakyat untuk ukuran tempat hiburan gratis. Setelah menghabiskan semuanya, saya kembali pulang.

***

Salah masuk gedung, salah menebak kelompok marga, salah menentukan posisi panggung dan jenis musik, menitip dibelikan sesuatu pada orang yang tidak seharusnya, sampai area CFD yang isinya campur aduk sana-sini, adalah sedikit contoh dari begitu banyak hal di dunia yang salah tempat. Salah penempatan. Salah kamar.

Iya, salah kamar. Tidak semua hal di dunia dapat kita jadikan satu tempat. Semua ada tempatnya masing-masing. Kita harus cermat dalam memilah dan meletakkan sesuatu agar berada pada tempat yang seharusnya. Termasuk pembawaan diri. Jangan sampai salah kamar.

Sa kira.

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 2 kali, 457 diantaranya adalah kunjungan hari ini.