Dua Kali Nonton AADC 2 dan Masih Pingin Nonton Lagi

Kita semua pasti sering menonton sebuah film lebih dari sekali. Bahkan lebih dari dua atau tiga kali. Berulang-ulang. Setelah di bioskop, kita menikmatinya lagi via layar kaca di rumah, baik dari stasiun lokal atau siaran berbayar. Begitu juga dengan saya.

Tapi apakah kalian pernah nonton sebuah film lebih dari sekali dan kesemuanya ditonton di gedung bioskop? Jika iya, saya penasaran sekali alasan apa yang membikin kalian sebegitu niatnya, menggelentorkan sejumlah uang yang tidak bisa dibilang sedikit. Apa yang kalian kejar hingga tidak mau sabar sedikit, menunggu film tersebut muncul di televisi kesayangan di rumah.

Sebelumnya hanya ada dua film yang saya tonton sampai dua kali di gedung bioskop. Pertama, Hunger Games Mockingjay dan yang kedua Interstellar. Keduanya kutonton berulang dengan alasan yang sama: Kasmaran.

Hunger Games Mockingjay saya tonton dua kali dengan dua perempuan berbeda. Sementara Interstellar, pertama saya tonton sendirian, kemudian yang ke dua saya tonton dengan perempuan yang sama seperti ketika menonton Hunger Games Mockingkjay. Saya bela-belain demi bisa ketemuan. Uedaan.

Ya, begitulah hidup, terlalu banyak hal yang ada-ada saja. Oleh karenanya saya merasa harus menuliskan ini untuk kemudian saya baca lagi bertahun-tahun kemudian, lalu tertawa terbahak-bahak mengenang kedunguan.

Siang tadi, pukul 11:45 WIB, saya untuk kedua kalinya menonton AADC2, film yang membikin saya demam tak jelas tiga hari tiga malam karena ceritanya yang terlalu karib bagi kehidupan saya. Setelah memutuskan membeli tiket film ini, saya semakin yakin bahwa saya masokis sejati.

Hal bodoh lainnya yang saya lakukan hari ini — selain nonton AADC2 dua kali –, adalah kehilangan tiket Civil War. Hari ini saya memutuskan untuk rehat dari bebalonan, dan berencana movie marathon. Eh tiket Civil War yang harusnya saya tonton 15:35 WIB hilang entah kemana. Mungkin benar, sudah saatnya saya cari pacar.

Ngomong-ngomong cari pacar, setelah selesai menoton AADC 2 kedua kalinya, saya benar-benar telah yakin untuk mengakhiri segala menye-menye diri.

Loh, berarti bener dong selama ini belum move on?

Enggak gitu kok. Saya bukan ga move on — dalam artian tidak bisa pindah ke lain hati.

Toh, dalam beberapa tahun terakhir, saya sudah senyum-senyum sendiri dan berlinang amarah oleh karena tiga sampai empat perempuan.

Saya bisa dikatakan belum move on dari rasa penasaran dengan yang satu itu. Saya hanya ingin memastikan tidak ada dendam, walau tak perlu sampai lagi berteman.

Tapi sekarang, saya sudah lapang.

Kembali ke AADC 2. Saya nonton film ini, dua kali, dan semuanya sendirian. Hebat kan? Hehe. Saya suka film ini, yang memang, sekali lagi, kisahnya dekat sekali dengan kehidupan saya. Walaupun acting beberapa artis yang kelewat kaku, tapi ya itu semua bisa dimaklumi. Tulisan saya juga jelek, tapi masih ada aja yang mau bayar. Haha. Dan pasti ada yang terheran-heran, kok bisa tulisan sampah saya – dibayar. Haha.

Adegan favorit saya pada film itu: ketika Cinta merangkul tangan/lengan Rangga, saat mereka berjalan menanjak, gelap-gelapan, di antara pepohonan, di Tumpuk Setumbu. Lalu adegan Cinta mencium bahu Rangga saat Rangga menggendong bayinya Mamet. Alami sekali. Begitulah biasanya perempuan berlaku ke kekasihnya.

Semua mimik Cinta di film tersebut tak usah dibicarakan lagi. Kecantikan Dian Sastro membikin saya ingin berumur panjang. Saya penasaran melihat wajah Dian Sastro pas jadi nenek-nenek nanti. Mimik marah, ngambek, bingung, seneng, kok ya keliatan cantik semua.

Oh ya, pada dua film Hunger Games Mockingjay dan Interstellar, saya kehilangan sensasi saat nonton untuk kedua kalinya. Wajar sih, saya nonton dua kali hanya agar bisa berduaan dengan perempuan pujaan. Tapi di AADC 2 ini tidak. Entah kenapa, saya suka sekali.

Saya bahkan ingin nonton untuk yang ketiga kalinya minggu depan.

Kamu mau ikut?

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 192 diantaranya adalah kunjungan hari ini.