Bagas Ciptaan Tuhan Paling Seksi

Jika kamu beragama tapi kesulitan memahami konsep ketuhanan, kesulitan merasakan keberadaan Tuhan, atau malah tidak percaya akan adanya Tuhan, maka dengan segala kerendahan hati, saya sarankan kamu untuk berkenalan dengan Bagas.

Badiwo, begitu ia ingin disapa, adalah pemuda harapan bangsa sekaligus menantu idaman orang tua manapun. Bagaimana tidak, wong sejak kecil sampai saat ini cita-citanya belum berubah, masih mulia, yaitu jadi tentara. Ketika anak-anak muda lain bercita-cita hidup foya-foya dan mati masuk surga, Bagas malah ingin mewakafkan dirinya untuk nusa dan bangsa. Harta dan Surga urusan terakhir. Warbiyasa, mulia sekali! Namun, sayangnya, karena fisik dan kecerdasannya yang tidak sesuai dengan persyaratan menjadi tentara, Bagas banting stir menjadi pilot.

“Gas, gue mau bikin kedai kopi tapi sewa ruko mahal banget biayanya. Setahun kurang lebih 60an juta,” keluhku beberapa hari yang lalu saat perjalanan pulang dari resepsi pernikahan Arya.

“5 juta per bulan, ya, berarti? Ahh, gue mah bisa itu. Buat pilot, segitu mah gampang, ” jawab Bagas dengan enteng.

Dari hasil penulusuran saya di mesin pencarian, gaji kopilot berkisar antara 30-40 juta rupiah per bulan. Tentu beda maskapai bisa berbeda pula standar gajinya. Anggap saja apabila gaji Bagas sebesar 30 juta rupiah per bulan, maka menyisihkan 60 juta setahun atau 5 juta per bulan, bukanlah perkara besar. Hanya 1/6-nya saja. Apalagi jika benar pangkat Bagas saat ini sudah pilot, berarti lebih besar lagi gajinya.

Dari sini kita bisa pahami mengapa orang tua-orang tua di luar sana begitu mengidam-idamkan sosok Bagas. Orang tua mana yang tidak ingin punya menantu seorang pilot? Orang tua gila mana yang tidak merestui anak perempuannya dipinang oleh seorang pria yang gajinya sanggup membayar uang sewa ruko di bilangan Bekasi?

“Gue lahir di Jakarta, hidup di Jakarta, besar di dzholimi,” ujar Bagas saat saya tanya tentang rencana dia ke depan.

Saya terpingkal-pingkal mendengarnya. Alih-alih menjawab serius pertanyaan saya, dia malah berkelakar tentang kesehariannya yang kerap dijadikan bahan ejekan teman-temannya. Ya, sejauh yang saya tahu, Bagas adalah satu dari sedikit orang yang mampu menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan tertawaan. Dia tak sungkan bercerita tentang hal-hal bodoh, hal-hal menyakitkan, atau apapun dari dirinya, supaya orang lain tertawa.

Saya selalu meyakini, orang yang mampu menertawakan dirinya sendiri adalah orang yang paling bahagia di dumia, dan Bagas, selain banyak uangnya, ia juga orang yang mampu membawa tawa dalam segala suasana. Ia tak pernah kesulitan menghadirkan tawa karena dirinya sendirilah sumber tertawaan itu. Berbeda dengan para komedian  yang harus mencari materi ke sana ke mari demi gelak tawa, Bagas cukup datang, bercerita tentang dirinya, dan semua akan tertawa terbahak-bahak. Banyak uang + banyak tawa = Bagas.

Oh, ya, tiba-tiba saja saya teringat sebuah kutipan yang dibagikan di media sosial oleh salah seorang teman: “Good looks are a bonus. Humor is a must!”. Berikut saya  ambil salah satu foto dari Facebook Bagas untuk menggenapi kutipan tersebut. Good looks + humor = Bagas.

11891889_10206906312791489_4527596219909234444_o

See? Wanita mana yang tidak basah ketika melihat wajah Bagas yang bagai pinang dibelah dua dengan Rangga AADC? Silakan berselancar di Facebook Bagas Adi Prabowo atau Instagram @badiwo untuk melihat banyak sekali foto Bagas dengan perempuan-perempuan cantik. Saya percaya bukan Bagas yang meminta untuk foto bersama, melainkan si perempuan dalam foto-foto tersebutlah yang meminta, bahkan mungkin sampai mengemis-ngemis, untuk bisa foto bersama.

10446128_10203740979940146_2768357785871266851_o 892224_10203174477297934_8212251007196803355_o

Sudahlah ia banyak uang, humoris, lalu tampan pula. Apakah Bagas sesempurna itu?

Begini, Bagas sama seperti kalian kebanyakan, tidak bisa hidup sendiri. Walaupun ukuran kaosnya XXL, tapi tititnya nyalinya kecil. Ia termasuk orang yang terlalu memikirkan pranata sosial, tekanan keluarga, dan kesunyian, sehingga sebagian besar hidupnya dihabiskan hanya untuk mencari kekasih yang cantik, kaya, setia, dan mau dimadu. Ia tidak berani menjomblo. Walaupun secara resmi ia baru berpacaran saat kuliah, tapi semenjak itu, mustahil melihat Bagas tidak punya pacar.

Saya sarikan sekelumit kisah asmara Bagas. Ia pacaran dengan salah seorang Mahasiswi Atma Jaya, pacarnya ini satu fakultas dan seangkatan dengan saya, dan hubungan mereka sudah sampai pada jenjang tunangan. Ketika angan-angan akan indah mahligai rumah tangga kian menghangat, eh Nadya (nama sebenarnya) selingkuh. DP gedung sudah, restu sudah, tabungan mencukupi, tapi nasib berkata lain. Mata Nadya tiba-tiba terbuka lebar-lebar. Meleklah dia, dan melakukan hal yang semestianya ia lakukan sejak dulu. Bagas tidak terima, kelar hubungan mereka.

Nadya bukanlah cinta pertama Bagas. Sebelumnya Bagas sudah pernah jatuh cinta, namun Nadya adalah cinta yang pertama kali sudi menerima Bagas. Sama seperti kalian, patah hati adalah sesakit-sakitnya rasa sakit. Pedih dan malu campur aduk jadi jadi satu. Semenjak itu kisah asmara Bagas jadi sulit diprediksi. Semua-mua nya ia dekati.

Dulu ketika mendekati Nadya, Bagas belum ada gelagat akan sesukses sekarang. Setiap perempuan yang berkenalan dengannya pasti akan berpikir ribuan kali untuk melangkah ke jenjang pacaran. Tapi sekarang? Busett, perempuan-perempuan itu pada antre panjang. Saya tidak bisa lagi menghitung berapa wanita yang sudah Bagas tiduri pacari semenjak pacaran pertamanya kandas. Terlalu banyak foto perempuan yang ia share ke Whatsapp saya, sampai-sampai saya sulit menghitungnya. Sayangnya, jumlah-jumlah itu tidak berarti positif. Semakin banyak jumlah perempuan yang takluk di hadapan Bagas artinya banyak pula kegagalan yang ia alami dalam hal asmara.

“Gue pingin cewe yang bisa menyambut gue dengan hangat. Yang tidak marah-marah karena hal-hal sepele,” ujar Bagas sambil menitikkan air mata. Malam sudah larut, jam11 seingat saya, dan Bagas masih belum berhenti mengisahkan alasan ia putus dengan pacarnya yang terakhir.

Cantik, sama-sama Katolik, dan restu orang tua, lagi-lagi, sudah di tangan. Tapi perempuan ini tidak menghargai hal-hal pribadi dalam diri Bagas. Bagas paling tidak suka hal-hal pribadinya diutak-atik oleh siapapun, termasuk oleh bayangannya sendiri. Tanpa izin, Emcel begitu kalau tidak salah pacarnya mantannya biasa disapa, membuka handphone Bagas (Iphone 6), dan membaca chat-chat Bagas dengan teman-temannya. Emcel naik pitam begitu tau apa yang Bagas perbincangkan dengan teman-temannya, dan Bagas lebih marah lagi karena hal pribadinya direcoki tanpa izin. Bubar jalan!

Selain itu, menurut Bagas, pacarnya mantannya yang ini kerap suka marah-marah tanpa alasan yang jelas, padahal Bagas saat itu sedang lelah. Bagas seakan tidak memahami, begitulah perempuan pada umumnya, namun si perempuan juga seakan tidak memahami bahwa profesi Bagas menuntut energi ekstra. Menguras banyak tenaga walaupun ditemani pramugari-pramugari cantik. Tak sampai beberapa pekan setelah mereka resmi mengakhiri hubungan, kini Bagas sudah dekat dengan perempuan lain. Pramugari juga, namun yang ini ke Masjid. Kita berdoa saja semoga yang ini berjalan lancar.

Setelah asmara, sekarang kita beralih ke dunia akademik. Kalau tidak salah, Bagas pernah tidak naik kelas sebanyak dua kali. Perhitungan saya begini: Saya kenal Bagas saat SMA. Kami satu angkatan, satu kelas, saya absen nomor satu, dia absen nomor dua, saya kelahiran 88, dia kelahiran 86. Intinya kami terpaut dua tahun. jadi antara telat sekolah atau tidak naik kelas. Saya sih yakin dia yang tidak naik kelas.

Tahun pertama berakhir, kemudian saya naik ke kelas dua dan Bagas keluar dari Sedes Sapientiae (sekolah kami) karena nilainya dianggap tidak sesuai dengan persyaratan. Dia pindah ke salah satu sekolah elit di Muntilan, Pendowo (namanya serem amat yak), namun tetap naik ke kelas dua. Kami sama-sama menghabiskan masa SMA selama 3 tahun.

Setelah itu kami bertemu kembali di Atma Jaya. Dia mengambil jurusan Hukum. Saya lupa sudah semester berapa waktu itu, namun IPKnya tidak lebih dari 2. Tanpa berpikir panjang, Bagas mengakhiri karir akademiknya di Atma Jaya, dan beralih ke sekolah penerbangan BIFA. Jadilah ia pilot seperti sekarang ini. Epic!

Kini di usianya yang hampir menginjak kepala 3, dan kepalanya yang kian tak berambut, Bagas sudah memiliki 1 rumah, 1 mobil, sudah membayar uang sekolah Pilot untuk adiknya, sudah punya cincin batu akik yang harganya tak perlu kita tanya lagi, sudah punya koleksi Tamiya, dan tabungan yang lebih dari cukup. Semua tampak happy-happy saja sampai kita tahu bagaimana perjuangan dia bisa sampai di titik ini. Dia sempat merasakan titik terendah, hingga akhirnya, perlahan, semuanya terbang tinggi. Dan saya lebay.

Saya hanya ingin becerita bahwa saya benar-benar tidak menyangka, sosok yang dulu pernah menemani saya pipis di tengah malam ini bisa sesukses sekarang. Sewaktu SMA, Bagas tidak pernah belajar. Ketika kuliah, ia tidak bisa nyetir motor apalagi mobil, jadi kalau mau main harus ada temannya yang jemput. Dari SMA, tiap ada perempuan yang ia suka, paling mentok dia cuma bisa cerita dan berandai-andai. Sekalinya nembak, eh malah ditolak. Sejak itu, ia paling anti deketin perempuan. Trauma. Dan yang paling fatal lagi, Bagas jarang berdoa. Sepengetahuan saya, Bagas sendiri lupa agamanya apa. Ia bisa tiba-tiba ke Masjid, padahal minggu lalu ke Klenteng. Dan Hari Minggunya, ia ke Gereja bersama Bapak-Ibunya.

Tapi dari situlah saya melihat kehadiran Tuhan (cieelahh). Melalui Bagas saya dapat melihat bagaimana Tuhan membuat keajaiban. Orang yang “seperti ini” aja bisa dibuatNya menjadi luar biasa, apalagi kamu kamu kamu yang merasa lebih keras berusaha – lebih hebat – lebih rajin ibadah ketimbang Bagas, niscaya Tuhan akan memberi yang lebih luar biasa lagi.

Selamat Hari Minggu.

Deo Gratias.

 

*Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal sejarah peradaban dunia dan kaitannya dengan populasi alien, atau belajar cara membatik serta merakit Tamiya, Anda dapat langsung menghubungi Bagas via twitter di @BADIWO

 

 

 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 377 diantaranya adalah kunjungan hari ini.