Apa Kabar LPJ dan Mengapa Saya Tidak Cinta OMK

Sebelum menulis ini saya mencoba berhitung, apakah yang akan saya sampaikan dapat membuat segalanya menjadi lebih jelas atau malah akan menambah pikiran negatif, apakah tulisan saya ini bermanfaat atau tidak, dan apakah masih relevan atau tidak. Hasilnya, tidaklah penting itu semua. Saya hanya ingin menyampaikan satu dua hal yang selama ini — mungkin — terus menjadi tanda tanya bagi banyak teman-teman OMK dan menimbulkan anggapan buruk.

Sebenarnya malas juga memutar ulang segala memori tentang OMK. Butuh usaha yang keras dan waktu yang tidak sebentar karena semuanya sudah terlanjur saya kubur dalam-dalam, dan terlebih lagi saya paling malas mengingat-ingat hal konyol yang bisa membuat saya jengkel. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya ini saat yang tepat. Mumpung saya dapat alasan.

asas

Bulan lalu Intan memesan perlengkapan ulang tahun, dan sebagaimana (calon) pembeli lainnya, kami chatting. Bahasa yang saya gunakan tentu tidak seperti ke (calon) pembeli lainnya yang lebih sopan dan kaku, ke Intan saya lebih santai dan diselingi guyon. Di tengah-tengah pembicaraan tiba-tiba Intan mengingatkan saya tentang LPJ, hal yang saya akui memang menjadi momok terbesar saya selama berkecimpung di OMK. Saya mencoba berpikir jernih, apakah ini hanya pernyataan guyonan biasa atau hal serius yang dikemas dengan gaya bercanda ala ala orang cablak, yang selama ini — menurut saya — lekat menjadi image Intan *haha piss Ntan*. Oh ya, saya belum minta izin Intan untuk meng-capture chat dia dan menyebut-nyebut nama dia dalam tulisan ini. Nanti kalau dia baca dan tidak terima, saya akan minta maaf. Lebih baik minta maaf dari pada minta izin, saya kira.

Oke, lanjut lagi. Saya ulangi kembali ya: saya mencoba berpikir jernih, apakah pernyataan Intan tentang LPJ hanya guyonan biasa atau suatu hal yang serius namun dikemas dengan gaya bercanda, pasalnya beberapa waktu sebelumnya saya mendengar hal yang kurang lebih sama dari Bayu. Kata Bayu, sempat beberapa kali mendengar nama saya diperbincangkan oleh teman-teman OMK dalam kaitannya dengan LPJ. Ada teman-teman OMK yang mengeluhkan LPJ Ziarah yang tidak saya selesaikan sehingga berdampak bagi kelangsungan kegiatan OMK selanjutnya. Semoga saja hanya sebatas itu dugaannya, tidak sampai ada yang berpikir bahwa saya membawa lari uang OMK -_-.

Sejujurnya saya tahu betul akan terus ada yang menganggap saya lari dari kewajiban bikin LPJ, karena memang saya sendiri yang enggan menjelaskan ke mereka. Saya dulu sengaja tidak bercerita ke mereka bahwa saya mencicil mengerjakan LPJ. Tiap kali ada yang bertanya LPJ selalu saya jawab besok – besok – besok. Biarlah, pikir saya. Akan tetapi dengan munculnya pernyataan Intan dan cerita dari Bayu, saya jadi berpikir ulang, mungkin memang seharusnya saya menjelaskan kabar LPJ ke teman-teman OMK. Dan untuk memastikan keyakinan saya bahwa saya telah menyelesaikan LPJ, Hari Minggu dua pekan lalu, ketika saya ketemu Happy di Puncak, saya bertanya ke dia,

“Men, dulu itu ketika gue minta lo print LPJ, lo print kan ya?”
“Duh, lupa gue.”
“Abisnya kata Bayu, anak-anak masih sering ngomongin LPJ gue.”
“Ah itu mah emang merekanya aja yang dasarnya gak suka lo, men.”

Jawaban Happy kian meyakinkan saya yang tadinya memilih diam untuk segera bergerak membahas LPJ dan OMK. Abisnya memang benar sih kata Happy, palingan yang mempermasalahkan LPJ dan membawa-bawa nama saya ya paling itu lagi – itu lagi. Terlihat lebih ketidaksukaan personal saja. Masa iya sudah bertahun-tahun masih saja menjadi bahan ghibah. Tapi masalahnya, Happy juga lupa apakah saya sudah menyelesaikan LPJ atau belum. Hahaha. Dua sosok sentralnya kan Happy dan saya. Kalau Happy dan saya aja lupa apalagi tokoh-tokoh lainnya yang namanya tercantum di bagian tanda tangan.  Saya tidak yakin mereka ingat pernah diserahi LPJ untuk ditanda tangan. Dulu seingat saya, saya sudah mengumpulkan semua LPJ kegiatan yang saya pimpin — dan saya akui memang semuanya terlembat bat bat bat. Terlambat banget. Hehe. Tapi saya bingung harus mencari bukti di mana, soalnya laptop yang dulu saya gunakan untuk membuat LPJ sudah hilang diambil Gandalf *Maling yang ngambil laptop saya itu mukanya kusam, rambutnya kusam, bibirnya kusam, ketika melihat dia pertama kali langsung kepikiran Gandalf*. Tapi saya tidak kehabisan akal. Saya search di email menggunakan kata kunci OMK, LPJ, dan Ziarah. Awalnya sempat patah semangat karena tidak ketemu, padahal saya yakin banget dulu itu sering kirim-kiriman email. Sampai akhirnya saya teringat bahwa email yang saya gunakan untuk kegiatan OMK saat itu adalah yang algzanggaraga@live.com. Alay ya emailnya.

Ketika saya ketik “LPJ” pada bagian Sent Items muncul satu email berjudul “LPeJu” dengan body email bertuliskan “tOLONG PRINT”. Email yang saya kirimkan ke Happy dan Iwan tersebut berisi softcopy LPJ yang siap cetak dan ditanda tangan. Seingat saya sudah dicetak oleh Happy dan dikumpulkan karena Happy pernah bercerita betapa dia kesulitan meminta tanda tangan. Tapi, sekali lagi, saya juga lupa -_-. Bila teman-teman ada yang penasaran isinya, silakan hubungi saya di 081283981359, nanti akan saya kirimkan by email. Email LPJ saya kirim pada 6 Oktober 2013, yang mana ziarahnya berlangsung pada 12-14 Juli 2013. Dengan asumsi tanggung jawab menyelesaikan LPJ mestinya dalam hitungan 1-2 bulan saja, ini artinya saya molor sampai 3 bulan.

Lpje

pendahuluan

keuangan

penutup

Kalau gambarnya tidak jelas, silakan hubungi nomor saya ya. Nanti saya kirimkan by WA. Tapi harusnya cukup diklik saja gambarnya nanti akan terlihat lebih jelas.

Lalu kenapa saya tidak print sendiri dan mengumpulkannya sendiri? Bukankah itu tanggung jawab saya sepenuhnya? Iya betul, harusnya memang saya cetak sendiri dan memintanya sendiri tanda tangan ke pihak-pihak terkait. Saya lupa alasan pastinya mengapa saya sampai minta tolong ke Happy dan Iwan. Kemungkinan besar karena saya sudah terlanjur malas dan lelah. Lalu bagaimana bila ternyata memang tidak dicetak oleh Happy sehingga sampai saat ini LPJ tersebut belum ada di sekertariat? Saya tidak tahu mesti menjawab apa. Ada ide? Akan tetapi setidaknya dengan ini saya punya bahan untuk menjawab tanda tanya yang terus berkeliaran di kepala teman-teman:

  1. Apakah Angga menyelesaikan LPJ Ziarah? Ada kemungkinan sudah menyelesaikan.
  2. Apakah Angga terlambat mengumpulkan LPJ Ziarah? Sangat terlambat.
  3. Apakah softcopy LPJ tersebut bisa dikirimkan ke email? Silakan saja. Kalau perlu dicetak sekalian.
  4. Apakah Angga bersedia kooperatif mencetak LPJ tersebut, lalu meminta tanda tangan pihak-pihak terkait, dan mengumpulkannya ke sekertariat? Duh, males nih. Saya bersedia mencetak, tapi nanti saya kirim pakai ojek online saja ya. Silakan mau diapakan.
  5. Mengapa Angga begitu lama atau tidak menyelesaikan LPJ Ziarah? Jangan-jangan Angga menggunakan uang OMK untuk keperluan pribadi? Yang ini akan saya jelaskan lebih panjang ya.

Alasan yang pertama untuk pertanyaan nomor 5 tentu alasan klasik: Saya sangat jenuh, lelah, dan malas untuk segera menyelesaikan LPJ Ziarah. Menurut saya, persiapan dan pelaksanaan ziarah itu sangat melelahkan lahir dan batin. Berbeda dengan persiapan Acara Baksos dan Misa Pemuda yang juga saya pimpin tepat sebelum ziarah (Baksos dan Misa Pemuda berlangsung Februari 2013). Baksos dan Misa Pemuda persiapannya singkat dan pelaksanaannya juga singkat sehingga nir drama, sementara ziarah – ya ampun. Mirip FTV.

Salah satu drama yang masih saya ingat adalah ketika ada seorang Ibu yang ingin mendaftarkan anaknya yang berkebutuhan khusus untuk ikut ziarah. Terjadilah perbedaan pendapat di group WA. Ada yang berpendapat silakan ikut saja, ada yang berpendapat jangan, ada yang diam saja. Saya sebagai ketua panitia memutuskan untuk tidak memperbolehkan, dan kemudian gegerlah group WA. Ada beberapa pihak yang memprotes keputusan tersebut. Yang paling saya ingat ada beberapa teman yang menyebut saya otoriter atau apalah itu istilahnya karena tidak membuat voting terlebih dahulu sebelum ambil keputusan. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Kurang panjang nih. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. BANGKE!

Begini ya, saya jelaskan sekarang. Kebetulan ketika saya menjabat sebagai ketua ziarah, saya juga sedang ikut kegiatan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di Gereja Leo Agung, dan ketika itu, beberapa hari sebelum drama silang pendapat, saya mendapat keluhan dari seorang Ibu X yang mengatakan bahwa Ibu Y, yang anaknya berkebutuhan khusus itu, ingin menitipkan anaknya yang lain ke dia dengan alasan si Ibu Y harus menemani anaknya ikut ziarah. Jadi, ternyata, si Ibu Y sering menitipkan anaknya yang lain (Kakak/adik dari anak yang berkebutuhan khusus) ke Ibu X. Si Ibu X sering kasihan dengan anak yang dititipkan itu karena dianggap sering diabaikan. Terlebih lagi, jadwal pelaksanaan ziarah bertepatan dengan ulang tahun dari sang kakak/adik dari anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Mudeng tidak? Ya intinya saya lebih memihak si kakak/adik dari anak yang berkebutuhan khusus itu. Toh ziarah bisa kapan-kapan lagi, pikir saya. Lagi pula saya juga tidak ingin kegiatan ziarah menjadi terhambat karena mesti menyesuaikan satu dua orang. Iya dong, bila anak yang berkebutuhan khusus itu ikut ziarah pasti dibutuhkan beberapa penyesuaian.

Kala itu silang pendapat berlangsung pagi di jam kerja, seingat saya setengah 10 pagi, yang mana saya harusnya lagi kebut-kebutnya bekerja. Hadeh. Saya mesti membuat keputusan cepat, dan itu hak sebagai ketua. Tapi ini saya malah dianggap semaunya sendiri -_-. Saya paham sih kenapa bisa sampai ada pikiran seperti itu, karena  di OMK apa-apa pakai voting. Menentukan panitia – pakai voting. Menentukan design kaos – pakai voting. Menentukan tema acara – pakai voting. Menentukan logo – pakai voting. Pokoknya apa-apa voting. Dari sepengamatan saya, jabatan ketua di kegiatan OMK kala saya berkecimpung saat itu lebih seperti mediator atau fasilitator. Bukan pengambil keputusan. Oh ya, ada juga yang beranggapan saya terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang. Harusnya saya tidak perlu memikirkan sisi kakak dari anak yang berkebutuhan khusus itu. Harusnya saya memperbolehkan semua anak muda Katolik yang ingin ikut Ziarah. No comment, deh.

Itu tadi baru satu dari sekian drama yang terjadi ketika persiapan ziarah. Membayangkannya lagi membuat saya jadi pegal sendiri. Sebetulnya ingin juga curhatin sekalian hal-hal konyol yang saya alami selama berkecimpung di OMK, tapi nanti malah terlalu muter-muter. Akan saya bahas di bagian akhir saja deh ya Sekarang saya fokus bahas LPJ.

Alasan yang kedua dari pertanyaan mengapa saya begitu lama atau tidak menyelesaikan LPJ adalah karena saya sibuk. Saya bergabung dengan organisasi OMK di awal 2013, bertepatan dengan dimulainya masa kepemimpinan Happy. Ketika bergabung, saya langsung diserahi 2 acara: Baksos & Misa Pemuda dan Ziarah, yang mana itu semua merupakan 2 acara pertama OMK di masa kepemimpinan Happy *silakan dikoreksi bila salah*. Baksos dan Misa Pemuda berlangsung Februari, sementara ziarah berlangsung Juli, artinya dari Januari sampai Juli sebagian waktu hidup saya tercurahkan di situ. Ditambah lagi, 2 acara tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya oleh OMK dan saya pun orang baru di OMK, jadi saya perlu banyak belajar dan penyesuaian lebih. Tidak bisa “copy-paste”. Sementara di sisi lain saya juga punya kewajiban di kantor.

Loh, memangnya teman-teman yang lain tidak ada yang bekerja kantoran juga? Ah ini mah Angga cuma alasan saja nih.

Saat bergabung dengan OMK, usia saya 24/25 tahun, usia lagi sibuk-sibuknya mengejar karier. Sementara rata-rata teman-teman ada yang SMA sampai 30an tahun. Yang SMA dan kuliah tentu juga punya tantangan menyesuaikan waktu belajar atau jadwal ujian, tapi saya berani mengatakan tantangan yang dihadapi tidak sebesar yang sedang bekerja. Iya apa iya? Karena waktu dan tenaga banyak tercurah mengikuti kegiatan OMK, pekerjaan saya jadinya banyak yang tidak optimal dan saya mesti “membayarnya” sesegera mungkin dari pada kehilangan pekerjaan. Haha. Maka setelah selesai ziarah saya berusaha fokus bekerja kembali. OMK dikesampingkan dulu.

Tapi, Ngga, itu teman-teman yang lain juga pada bekerja tapi tidak ada tuh yang menjadikan sibuk kerja sebagai alasan. Itu betul, tapi apakah sudah dipertimbangkan juga pekerjaan apa yang masing-masing kami geluti saat itu dan menjabat sebagai apa dalam struktur kepanitian Ziarah? Apakah — saat itu — ada yang sehari-harinya mesti bangun jam setengah 5 pagi, lalu berangkat pukul setengah 6, kemudian jam 6 sore sudah harus pulang dari kantor agar jam 8 bisa tiba di pastoran untuk memimpin rapat? Memimpin rapat bukan sekadar memimpin rapat lho ya. Saya berani jamin, setiap kali saya memimpin rapat, materi selalu sudah siap. Saya selalu mempersiapkan slide presentasi, berikut ngeprint slidenya. Awalnya saya pikir itu bisa jadi tradisi bagus dan patut ditiru teman-teman lainnya, ealah saya malah blunder sendiri. Saya lupa mengembalikan in focus yang saya pinjam dari Bapaknya Almarhum Aryo. Bahkan sampai ditagih-ditagih. Diperparah lagi saat itu ketika ditagih, saya dan Happy malah lagi ikut retret KEP, jadinya saya minta tolong Romo Segu untuk mengembalikan. Sepertinya hal ini membuat Romo Segu jengkel ke saya. Maaf ya Romo, maaf ya Bapaknya Aryo. Waktu itu belum minta maaf. Hehe.

Oke, balik lagi ke pembahasan kesibukan saya. Rapat OMK itu rata-rata dimulai pukul 8-9 malam, tergantung seberapa cepat peserta rapat datang semua. Biasanya selesai jam 11. Efektifnya paling cuma 30 menit. Sisanya ngalor ngidul tidak jelas. Sering terjadi pembahasan melebar. Misalkan ada 15-20 orang hadir, yang fokus 100% pada rapat palingan cuma 5-7 orang. Tidak sampai 10. Yang lainnya sibuk ngerumpi di sofa samping meja utama atau duduk di teras pastoran. Sesekali nyeletuk. Suasanya berisik sekali, dan bukan berisik membahas hal pokok. Seperti tidak ada kesadaran bahwa rapat merupakan kegiatan penting dan jangan membuang-buang waktu. Energi yang sudah merah terkuras di kantor, makin tinggal ampas. Agar tidak terus-terusan seperti itu, saya ubah skema rapat. Di rapat berikutnya saya hanya mengundang orang-orang yang berkepentingan saja. Rapat dana ya hanya orang dana saja. Rapat acara ya orang acara saja. Rapat transportasi ya hanya tim transportasi saja. Rapat besar yang dihadiri semua anggota berlangsung hanya di hari Minggu selepas misa ke dua. Isinya cuma update dari masing-masing bagian dan hahahihi untuk menjaga kekompakan. Artinya, saya selalu hadir di semua rapat, sementara teman-teman yang lain tidak. Ya namanya juga ketua, wajarlah. Saya paham kok. Saya jadi teringat pernah pulang dari Pastoran jam setengah 12 malam karena mesti menyelesaikan proposal minta dana ke Keuskupan. Hanya berdua saja dengan Maria yang menjabat sebagai sekertaris Ziarah. Pulangnya naik mikrolet karena saya langsungan dari kantor, jadinya tidak sempat bawa kendaraan dari rumah. Itu melelahkan sekali bagi saya.

Jadi, ketika akhirnya ziarah selesai, saya memang dengan sengaja memperlambat tempo kinerja saya di OMK. Perkara teman-teman suka atau tidak, saya tidak ambil pusing. Lagian kita akui sajalah, yang eksis dan bisa datang setiap waktu di pertemuan OMK itu rata-rata yang tidak sibuk bekerja. Anak SMA atau kuliah biasanya sore sudah sampai rumah. Lah kalau pekerja kantoran? Ya ada sih pekerja kantoran yang waktu kerjanya lebih leluasa — bisa datang jam 9 pagi lalu pulang tenggo sebelum matahari terbenam. Contohnya saja Happy yang saat itu masih berstatus anak magang. Wajar bila dia bisa datang setiap waktu dan selalu on fire. Dulu di tahun 2013 itu saya sudah bekerja di tahun ketiga, tekanan kerjanya tidak seperti anak magang. Coba tanyakan Happy, dengan pengalaman bekerjanya yang sekarang, bila saat itu dia sudah bekerja di tahun ketiga, apakah punya waktu yang sama banyaknya dengan saat magang? Apakah dia tidak merasa lelah seperti yang saya rasakan? Ada contoh lainnya, misalnya Kevin yang di Ziarah menjabat sebagai seksi keuangan dan pendanaan. Jumlah kehadiran dia saat rapat tidak lebih banyak dari jumlah upil saya ketika flu. Padahal dia PNS yang dari cerita-cerita dia saat itu masih fleksibel banget waktu kerjanya. Jadi wajar sekali, bagi saya, bila teman-teman yang bekerja kantoran kesulitan untuk terus datang di setiap pertemuan dan performanya naik turun. Oleh karenanya saya tidak pernah mengeluh dan tidak menyudutkan teman-teman yang jarang datang rapat atau terlihat tidak nyambung ketika diajak bicara saat rapat. Namun bagi teman-teman yang terlibat aktif dan bagus kinerjanya, pasti saya apresiasi. Saya bagi-bagi hadiah amplop berisi uang untuk 5 panitia dengan kinerja terbaik. Saya umumkan di rapat evaluasi. Jadi diam-diam saya nilai kinerja teman-teman, termasuk jumlah kehadiran di rapat. Maksud saya untuk memotivasi ke depannya. Eh malah ditertawakan. Ada yang protes, menganggap hal itu tidak penting. Bikin merasa pilih kasih, kata satu dua orang. Yang protes kala itu sepertinya orang yang sama dengan yang masih saja membahas LPJ saya sampai saat ini. Makannya Happy sampai berkata, ah itu mah emang dasarnya merekanya saja yang tidak senang (dengan diri saya).

Sepertinya dua alasan yang saya kemukakan sudah cukup. Malas dan sibuk kerja. Bila ada teman-teman yang bisa menyelesaikan LPJ tepat waktu, ya berarti memang dia punya kualitas yang baik dan tenaga yang kuat. Atau mungkin sedang pengangguran. Oh ya, peran sekertaris juga sangat vital lho dalam membantu merampungkan LPJ.

Kemudian, apakah saya menggunakan uang Ziarah untuk keperluan pribadi, dan apakah inilah yang menjadi penyebab utama kenapa saya tidak menyelesaikan LPJ?

Saat Ziarah, begitu juga ketika Baksos & Misa Pemuda, saya paling “anti” memegang uang acara. Semua-muanya langsung dipegang oleh tim keuangan. Tidak ada satu rupiah pun yang terkirim ke rekening atau dompet saya. Uang hasil ngamen, langsung setor ke tim keuangan. Dapat kucuran dana, langsung setor tim keuangan. Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pencarian dana, pasti ada tim keuangan di situ biar gampang mendata dan menyimpannya. Nomor rekening yang digunakan OMK saat itu saya lupa rekeningnya siapa, yang jelas bukan rekening saya. Lalu bila ada tim panitia yang membutuhkan uang pasti langsung berkoordinasi dengan tim keuangan, dengan sepengetahuan saya. Begitu selesai acara Baksos & Misa Pemuda dan Ziarah, segala kelebihan uang akan langsung masuk ke kas OMK. Tim keuangan di kegiatan Baksos & Misa Pemuda dan juga Ziarah dipimpin langsung oleh Iwan yang juga merupakan Bendahara Badan Pengurus Harian (BPH) OMK, jadi prihal perpindahan uang sisa acara ke kas OMK tidak akan berbelit-belit. Jadi bila ada yang merasa saya menggunakan uang Ziarah atau melihat ada keganjilan saldo kas OMK, saran saya, silakan bertanya langsung ke Bendahara dan Ketua OMK, karena mereka berdualah yang benar-benar lebih tahu segala perincian keuangan OMK.

panitia ziarah

baksos

Ah ini mah Angga-nya saja yang bawa-bawa orang lain sebagai tameng. Loh, memang betul kok. Saya lakukan dengan sengaja dan dengan kesadaran penuh. Habisnya kalau dipikir-pikir tidak adil bila saya yang terus-terusan dijadikan bahan ghibah. Kan orang lain juga pingin dosanya dihapus. Kata orang, kalau kita difitnah, dosa kita akan dihapus cuma-cuma. Halah.

Lagian ya, silakan tanya ke teman-teman saya yang sudah kenal saya sejak lama, tidak ada ceritanya Angga punya sepak terjang mengambil uang yang bukan haknya. Haha. Saya malah tipe orang yang suka meneraktir. Beberapa kali saya bayarin mie rebus/goreng dan kopi yang kelupaan di bayar teman-teman saat rapat. Ketika perjalanan menjemput Bruder ke Puncak, biaya bensin dan makan menggunakan uang sendiri. Ketika membeli komputer di Ambas untuk suster Andre, saya tidak meminta uang transport. Ketika rapat saya mencetak slide presentasi untuk dibagikan ke teman-teman, itu pun menggunakan uang pribadi. Ketika bermain bersama teman, saya lebih sering membayari ketimbang dibayari. Sebetulnya malas juga bicara seperti ini, kesannya sok gimana gitu, tapi ya saya jengkel juga kalau ada yang mengira saya mengambil uang Ziarah/OMK.

Bagaimana, sudah clear untuk pertanyaan nomor 5?

6. Gara-gara Angga tidak mengumpulkan LPJ, (kegiatan) OMK yang selanjutnya/sekarang jadi kesusahan mencari dana! Saya jawab panjang lagi ya.

Setelah 2 kegiatan yang saya pimpin, sejauh yang saya ingat ada acara 17an di Pastoran, ada Leonidas di Bellarminus, ada acara tanam-tanaman di tempatnya Suster Andre yang mengundang Bruder kece, kemudian ada retret, dan 2 kali Misa Pemuda. Hanya itu yang saya ingat. Di kegiatan 17an, sepertinya saya masih agak eksis, begitu juga dengan Leonidas. Itu masih bulan Agustus September, saya masih punya tenaga. Sementara di retret, saya cuma datang pas rapat awal, pas acara, dan evaluasi, sedangkan untuk 2 Misa Pemuda setelah ziarah, hanya satu yang saya masih ikut, yang satunya lagi saya sama sekali tidak ikut, bahkan tidak pernah hadir lagi di kegiatan OMK sampai saat ini. Sudah habis baterai saya. Nah, di semua kegiatan itu, semoga saya tidak salah, tidak ada kendala pendanaan. Kok bisa? Iya, soalnya di masa kepemimpinan Happy, kegiatan-kegitan besar tidak akan berlangsung dalam waktu berdekatan.

BPH sejak awal membagi 2 kategori acara, yaitu acara Mayor dan Minor. Mayor artinya, selain cakupannya luas, acara tersebut membutuhkan biaya besar. Sementara acara Minor berarti sebaliknya. Acara Mayor tidak boleh saling berdekatan agar OMK tidak kelimpungan mengumpulkan uang. Selain itu, salah satu cara paling klasik dari OMK dalam mencari dana adalah dengan mengamen atau meminta ke umat, nah dengan tidak berdempetan jadwal pelaksanannya jadinya umat atau donatur tidak merasa OMK sedikit-sedikit meminta dana. Saya kira ini adalah pemikiran terbaik OMK zamannya Happy. Hanya itu. Untuk hal lainnya hanyalah repitisi.

Oh ya, acara tanam-tanaman yang mengundang Bruder kece, menurut saya, adalah acara terbaik OMK di zamannya Happy. Penuh idealisme, dan bukan anak muda kekinian banget. Itu keren! Yang saya bayangkan ketika gabung OMK, saya akan menerapkan idealisme-idealisme diri, dan begitu juga dengan teman-teman lainnya. Tapi nyatanya nol besar. Kegiatan OMK lebih seperti rutinitas melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan tahun-tahun sebelumnya. Atau walaupun kegiatan baru, ya palingan cuma kemasan berbeda dari acara-acara di SMA. Ya memang sih tidak ada salahnya juga melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sudah ada, ini kan cuma harapan saya. Saya selalu berharap ada misi tertentu dalam setiap kegiatan. Tidak cuma sekadar tanding olahraga, tidak cuma gitaran dan games, tidak cuma sekadar retret. Harusnya setiap kegiatan OMK kurang lebih seperti 2 kegiatan yang saya pimpinlah. Keren semua itu. Akui saja. Hehe. Tapi ya tidak ada LPJ-nya -_-.

Sepanjang ingatan saya, acara-acara OMK-nya Happy yang setelah Ziarah tidak mengalami kendala dana karena semuanya sudah terjadwal sejak awal terbentuknya Badan Pengurus Harian, atau setidaknya belum mendapat imbas langsung dari LPJ Ziarah. Jadi, saya agak bingung mendengar cerita Bayu bahwa kemudian ada teman-teman yang menjadikan LPJ Ziarah sebagai alasan kesulitan mencari dana. Kalau dari logika, ya memang benar sih. Keusukupan jelas harusnya malas memberi bantuan karena saya tidak mengirimkan pertanggungjawaban ke sana. Dan mungkin saja umat-umat yang waktu itu mendanai kegiatan ziarah jadinya malas memberi lagi karena saya tidak melaporkan ke mereka. Mungkin demikian halnya dengan Dewan Paroki yang menjadi malas mendukung kegiatan OMK karena keuangannya tidak jelas. Semua itu mungkin saja dan masuk akal.

Akan tetapi, agar teman-teman semua tahu, hal yang saya sebutkan di atas juga saya alami ketika memimpin ziarah. Ketika saya meminta bantuan dana ke keuskupan, Leo Agung hanya mendapat sedikit karena di kegiatan sebelumnya tidak ada pertanggungjawaban. Ketika saya meminta dana ke umat satu per satu, tidak ada ceritanya mereka meminta pertanggungjawaban acara sebelumnya, padahal umat yang dimintai dana biasanya itu-itu saja orangnya. Saya merasa, menjadikan LPJ Ziarah sebagai kendala utama mendapat dana hanyalah alasan yang mengada-ada. Ketika ziarah dulu tim panitia tidak hanya mengamen, tetapi juga jualan es buah, jualan minuman apa itu yang hangat-hangat di misa sore, mencuci mobil, keliling ke rumah umat meminta dana, bahkan saya juga presentasi meminta dana di kegiatan KEP dan di misa wilayah di rumahnya Lerrisa. Lakukan apa saja demi terkumpulnya uang, namun dengan syarat dan ketentuan bila uang tidak terkumpul sampai dengan batas waktu yang disepakati bersama, acara dibatalkan. Tidak terbesit sekalipun dalam ide saya untuk misih-misuh kepengurusan yang terdahulu.

Ada yang bilang saya sangat beruntung karena mendapat bantuan dana sangat besar dari salah satu umat. Itu benar sekali, dan saya mau tekankan di sini, keberuntungan hanya hadir ke orang-orang yang bekerja keras dan cerdas. Ada begitu banyak alasan untuk mengutuk kegelapan, tapi saya lebih memilih menyalakan lilin. Di zaman OMK-nya Happy beredar juga kok isu-isu tidak baik tentang kepengurusan terhadulu, namun saya bodo amat. Acara untuk gereja harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Bila umat tidak mau memberi uang, ya berarti memang bukan rezekinya. Namanya juga sumbangan, tidak wajib hukumnya. Bila Keuskupan atau Dewan Paroki tidak mau membiayai, ya bikin saja kegiatan yang tidak butuh dana. Rosario, misalnya. Membahas Kitab Suci, bisa juga. Atau kalau perlu patungan saja, seperti menyewa tempat futsal untuk cari keringat bersama. Beres kan? Dari pada berkumpul atas nama Tuhan tapi isinya untuk menjelek-jelekan orang lain. Akan tetapi, benar bahwa kita/OMK mesti dapat mempertanggungjawabkan semua hal, apalagi keuangan. Yang saya lakukan di LPJ adalah sebuah kesalahan.

7. Mengapa saya tidak cinta OMK?

Gara-gara mencari email LPJ, saya menemukan email-email lainnya terkait OMK. Email yang membuat saya terharu. Email yang membuat saya tekenang bahwa ternyata dulu pernah seaktif itu. Haha. Kapan lagi saya, Happy, dan Iwan bertukar email kalau tidak di OMK? Kapan lagi saya intens berhubungan sama Meidy dan Lerrisa kalau tidak di OMK? Bahkan, saya dengan Bunga yang notabene teman dari SD tapi tidak pernah bercakap-cakap sejak SMP, eh bisa ketemu lagi gara-gara OMK.

gmail

adadad

Sebetulnya tidak adil juga kalau saya hanya menjelek-jelekan OMK. Walaupun kayaknya jengkel banget, saya juga melihat ada sisi positif dari OMK, baik dari sisi orang-orang di dalamnya maupun organisasinya. Contohnya, ada juga kok anak OMK yang menurut saya keren, tidak seperti bayangan saya bahwa yang ikut OMK itu orang-orang patah hati, tidak punya teman, dan pengangguran. Contoh, Lerrisa, Tyo, Fani, Shilla, Lauren, dan Meidy. Mereka saya lihat kalau rapat relatif fokus, menghargai orang lain yang sedang bicara, mudah diajak kerjasama, dan kerjanya tuntas. Saya juga suka Bang Simon. Mukanya galak, tapi hatinya baik banget. Saya rutin mengganggu dia di Path dan tak pernah khawatir digebukin. Haha. Suatu ketika di pernikahan Dika, saya bertemu lagi dengan Bang Simon setelah sekian lama. Saya spontan meluk dia saking kangennya. Haha.

Tidak semua anak OMK akhirnya punya kedekatan personal dengan saya. Bisa dihitung dengan jari, siapa-siapa saja yang sesekali masih tegur sapa di sosmed atau chat. Bahkan ada yang malah jadi membenci saya. Entah apa alasannya. Mungkin gaya saya yang kontroversial atau memang dianya saja yang sensitif. Saya bicara cukup tajam ke beberapa orang yang gengges. Ada tipe anak OMK yang kalau sedang bicara inginnya didengar oleh semua orang, tapi giliran orang lain bicara, eh dia malah sibuk sendiri. Ada yang seperti itu, dan rutin setiap rapat. Kalau dia kasih pendapat, inginnya diterima. Kalau tidak diterima, dianggapnya tidak bisa menerima masukan. Hadeh. Ada juga anak OMK yang tiap datang rapat sebagian besar waktunya habis untuk caper ke gebetan. Apesnya, saya dulu ikut terbawa pusaran percintaan tidak jelas ala anak OMK. Ada beberapa anak laki-laki OMK yang rutin menghubungi 1 perempuan, bahkan main ke rumahnya, dan dalam pembicaraan saat bertemu hobinya menjelek-jelekan saya. Saya sering ditunjukin chatnya oleh si perempuan tersebut. Mereka menyebut saya dengan “si kampret” atau “si anjing”. Salah saya apa coba? Haha.

Satu hal yang, saya rasa, paling membuat teman-teman tidak suka dengan saya adalah ketidakaktifan saya paska ziarah. Mereka menganggap saya egois. Giliran acara saya, inginnya dibantu. Tapi giliran acara orang lain, saya tidak mau bantu. Ya mau gimana lagi. Apes banget waktu itu saya memimpin 2 acara berturut-turut, jadinya setelah itu kedodoran. Sementara teman yang lain tidak ada yang di posisi itu. Kemampuan memahami orang lain sangat diperlukan dalam organisasi sosial seperti OMK.

Suatu ketika, di rapat evaluasi retret. saya “dikepung” dengan tudingan Angga sering bolos persiapan. Saya memang tidak pernah datang rapat, baik weekdays maupun weekend. Tentu saya harus menjawab, kalau diam saja malah aneh. Saya bilang saja, saya lelah bekerja, dan hari Sabtu Minggu itu saya nonton bola (seingat saya saat itu sedang ada World Cup), kemudian Senin harus bekerja lagi, jadinya saya lebih memilih istirahat di rumah. Eh pada menjawab begini: kami semua Senin juga kerja. Malamnya juga nonton bola. Dalam hati saya berteriak: LO PENGANGGURAN ANJIR! LO JUGA KERJAANNYA APA DI KANTOR? LEHA-LEHA? LAH LO ENAK RAPAT OMK SEKALIAN PACARAN DAN NYARI PACAR, LAH GUE? Tapi ya cuma berani di dalam hati.

Saya kemudian menjawab lagi. Kalau saya tidak datang rapat, harusnya ditegur atau dimintai keterangan saat itu juga. Lah ini selama saya tidak datang rapat, tidak ada yang menghubungi, jadi saya pikir ketidakhadiran saya tidak menghambat apa-apa. Buat apa disimpan-simpan untuk dikeluarkan pas evaluasi gini? Eh ada salah seorang yang menjawab, “LO MAU BANGET DICARI-CARI? LO SIAPE??” Ya ampun, dalam sejarah hidup baru sekali itu saya merasa berada dalam satu ruangan dengan orang-orang yang sudah menyimpan unek-unek ke saya dan siap dihembuskan sekencang-kencangnya. Hahaha. Anak OMK, kala itu, merasa rapat evaluasi sebagai ajang menghakimi. Kok lo begini, kok lo begitu? Dan lebih terasa personal. Padahal bila menemukan ketidakberesean saat persiapan sebuah acara, harusnya diselesaikan saat itu juga. Nanti ketika rapat evaluasi, ya tinggal membahas dikit-dikit saja. Hal-hal yang melenceng dari target.

Lucunya, ketika retret, ada salah satu panitia yang  tidak membawa celana panjang padahal orang yang udelnya kewalik pun tahu yang namanya retret itu harus bawa pakaian sopan dan pasti akan ada Misa. Dia malah cuma bawa celana pendek dan kaos. Tidak ada tuh ceritanya dibahas di rapat evaluasi, padahal kan lumayan bisa jadi masukan bagi yang lain agar tidak mengulangi. Entah cita-citanya apa OMK kita ini.

Akhirnya, gara-gara saya jarang ikut membantu persiapan kegiatan teman-teman yang lain, jadinya ketika ada acara lagi yang di bawah koordinasi Bidang Liturgi & Sosial yang saya pimpin, banyak teman-teman yang enggan membantu. Ketika itu sedang persiapan Misa Pemuda — yang setelah Ziarah (saya tidak begitu ingat rincian acaranya) — malam sebelum hari H kami harus mendekor Gereja. Ada sekelompok teman yang datang terlambat, dan ketika datang hanya ngobrol-ngobrol di deretan kursi dekat Goa Maria, lalu pamit pulang. Seakan ingin menunjukkan ke saya: nyohh, rasakan gimana kalau tidak dibantu. Karena kurang bantuan, jadinya dekor selesai jam 3 pagi. Padahal Misa Pemuda akan dimulai jam 8. Kalau begini siapa yang salah? Ya ketua OMK lah. Ketua OMK harusnya bertanggung jawab menjaga keharmonisan dan kekompakan. Ketua OMK juga seharusnya bisa memberi pemahaman ke seluruh anggotanya bahwa setiap acara adalah acara bersama, bukan acaranya bidang A saja atau bidang B saja, atau bidang C saja, dan seterusnya. Sementara Happy kala itu tidak punya kemampuan itu. Kalaupun Ketua OMK tidak bisa, harusnya Sie Kep yang bertindak. Dua jabatan yang di Paroki lain sudah dijadikan satu sejak lama, tapi di gereja kita masih saja dipisah-pisah.

Sebetulnya untuk mengurangi drama-drama tidak jelas yang membuat kinerja OMK jadi tidak efektif, OMK perlu memiliki pembina atau “kakak” yang, tidak hanya bijaksana, pintar, dan paham betul dinamika organisasi dan OMK, tapi juga terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Tidak cuma sekadar taruh nama dan ambil kredit manakala acara berjalan dengan baik, dan lepas tangan manakala hal-hal buruk terjadi. Atau setidaknya, pengurus aktif OMK perlu rutin berdiskusi dengan pengurus-pengurus  terdahulu, agar yang buruk tidak terulang dan yang baik bisa dilanjutkan serta ditingkatkan. Zamannya Happy dulu kami tidak punya sosok “kakak” atau pembina yang siap menegur kami bila mulai melenceng, dan juga tidak ada ceritanya kami berdiskusi dengan kepengurusan OMK sebelumnya. Adanya cuma seliwar-seliwer kabar jelek tentang pendahulu. Budaya saling menyalahkan dan berpikiran negatif harusnya tidak perlu ada di kegiatan sosial. Wong kegiatan sosial kok. Tidak ada keuntungan pribadi yang diperoleh, terkecuali nama baik di depan umat dan dapat pacar.

Alhasil, gara-gara kinerjanya saya yang memburuk plus gaya saya yang kontroversial, beberapa teman menganggapnya sebagai permasalahan pribadi. Sempat ada adu sindir di Path yang menyebabkan beberapa teman tidak lagi temenan di Path. Ya orangnya itu itu saja.

Untungnya, dan semoga, tidak semua teman-teman OMK melihat saya dari sisi buruk. Beberapa teman, saya rasa, masih asyik-asyik saja. Ya pada dasarnya memang saya orangnya asyik sih. Halah. Kalau ada yang merasa saya tidak asyik palingan sebetulnya dianya saja yang tidak asyik. Haha. Tapi memang saya tidak cocok dengan OMK dalam artian tempat bermain. Ada beberapa teman yang menjadikan OMK tidak hanya sekadar organisasi Gereja tetapi juga sebagai kelompok pertemanan, jadinya mereka nikmat-nikmat saja berkumpul terus. Tidak merasa melelahkan dan jenuh walau rutin bertemu. Dan itu sah-sah saja. Sementara saya gabung OMK dulu karena saya baru putus dari mantan, lalu mencari tempat pelarian. OMK jadinya lebih seperti tempat kerja dan berkarya. Jadinya kalau jenuh dan ingin main, saya tidak akan datang ke OMK. Saya merasa tidak satu frekuensi dengan teman-teman OMK, dan itu wajar-wajar saja kan?

Sebagai sebuah organisasi, OMK itu keren banget. Sekumpulan anak muda dari berbagai latar belakang aspek kehidupan yang rela menyisihkan waktunya demi perkembangan Gereja. Keren! Harusnya, di tangan orang yang tepat, OMK bisa memberikan nilai yang sangat besar bagi gereja kita. Coba sesekali dibuat CV anggota OMK biar mudah memetakan kekuatan dan kekurangan masing-masing anak. Kemudian dari situ bisa dibuat komposisi yang pas dalam menentukan kepanitiaan. Biar bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan semua-muanya ditentukan karena passion. Mentang-mentang passionnya seni, terus dijadiin ketua seni. Yakali. Jangan karena orangnya kelihatannya asyik dan gaul trus dijadiin anak acara. -_- . Jangan mentang-mentang orang lama dan orang tuanya dipandang di Gereja, trus dikasih posisi krusial. Hvft. Pemimpin ya pemimpin.

Walaupun ujung-ujungnya nanti menemukan kendala yang sama: tidak semua anak mau jadi ketua. Ya setidaknya dicoba dululah.

Oh ya, sebelum saya tutup tulisan ini, saya juga menemukan email LPJ Baksos & Misa Pemuda. Kalau ada yang merasa saya belum mengumpulkan atau ingin melihat, silakan hubungi saya langsung.

LPJ baksos

Tulisan ini, selain saya buat untuk klarifikasi dan masukkan, juga sebagai tantangan bagi kalian yang merasa apa yang saya sampaikan tidak benar silakan berikan penjelasan dengan cara kalian masing-masing.

Terima kasih.

 

Salam,
We will be stronger, if we ngomongin orang di belakang together.

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 460 diantaranya adalah kunjungan hari ini.