Angkat Sekali lagi Gelasmu, Kawan!

Beberapa jam sebelum Ahok menelan ludah sendiri demi menjadi Gubernur DKI, saya sibuk menduga-duga apakah pelanggan saya yang berikutnya akan menyediakan minum seperti yang dilakukan pelanggan sebelumnya. Begitu pula ketika khalayak ramai asyik membahas terpilihnya Wiranto dan pencopotan Jonan, saya malah sibuk mengira-ngira kenapa pelanggan yang tiga hari lalu menyediakan minum tetapi yang hari ini tidak.

Tentu saja kapasitas otak menjadi alasan utama saya untuk tidak memusingkan hal-hal berat semacam mengapa tahu bentuknya bulat bukan datar, apakah kudeta di Turki dilakukan dadakan, apakah pelaku kudeta dihargai lima ratusan, atau mengait-ngaitkan imbauan ‘mengantar anak masuk sekolah di hari pertama’ sebagai biang keladi diberhentikannya Anies . Etapi, ini masuk akal lho, coba imbauannya diubah menjadi ‘mengantar anak main Pokemon’, pasti masih lanjut tuh si Bapak. Kembali lagi ke alasan saya untuk tidak memusingkan hal-hal berat. Selain kemampuan otak yang pas-pasan, saya memang lagi dibikin penasaran tentang kesediaan seseorang dalam menyuguhkan air minum.

Begini, jadi ceritanya sudah enam bulan ini saya bekerja sebagai tukang dekorasi ulang tahun. Literally tukang dekor ya. Saya datang dari rumah ke rumah, sesekali perkantoran, bawa-bawa tangga dan perlengkapan lainnya, lalu hias sudut sana sudut sini. Dan selama enam bulan ini, saya melihat ada dua jenis pelanggan: Yang nyuguhin minum dan yang tidak nyuguhin minum.

Jujur-jujuran saja, awalnya saya mengira asal suku bangsa ada pengaruhnya. Kala itu, dari 14 pelanggan di bulan yang sama, ada 6 yang menyuguhi saya minuman, dan semuanya orang Jawa. Oh, berarti Jawa doang nih yang akan ngasih minum, jadi besok-besok kalau dapet pelanggan orang Jawa, saya tidak perlu bawa minum dari rumah, begitu pikir saya saat itu. Tetapi ternyata, di bulan berikutnya, dari lima pelanggan yang bersuku Jawa, hanya satu yang menyuguhi minum. Di bulan berikutnya pula saya mendapat pelanggan orang Padang, Lampung, Betawi, dan Manado yang menyuguhi minum. Bahkan yang orang Padang ada tambahan kue bolu. Terpatahkan sudah asumsi tersebut.

Lalu saya menduga kekuatan finansial yang menjadi alasan utama. Tapi kecurigaan ini hanya bertahan tiga hari karena kemudian saya mendapat job mendekor rumah seorang artis tidak terkenal , yang, oh, sungguh rumahnya luas sekali dan ada kolam renangnya, tapi dia sama sekali tidak menawari saya minum. Kami sempat bertemu dua kali, pertama ketika saya menjelaskan akan mendekor seperti apa, dan yang kedua ketika bayar-bayaran. Di dua pertemuan tersebut dia tidak melihat betapa keringnya tenggorokan saya. Selain itu, saya juga pernah mendekor acara sebuah perusahaan, tapi sayangnya, cuma untuk urusan air minum saja mereka  PHP sekali. Salah seorang pegawainya, yang ditugasi berkoordinasi dengan saya, sempat bertanya “Mas, puasa gak?” saya jawab “tidak, Mas,” lalu sudah . Dia menghilang tak kembali seperti mantan sehabis ngutang.

Pertanyaan apakah saya puasa atau tidak inilah yang menjadi puncak kegalauan saya tentang alasan seseorang hingga mau menyediakan minum bagi orang asing, terlebih untuk tukang. Suatu ketika saya mendekor di sebuah rumah, yang tidak hanya kecil sekali rumahnya, tapi gang menuju kesananya pun sangat kecil, sehingga saya harus memarkir mobil hampir 200 meter jauhnya. Intinya, saya sedikit berlebihan jika menyebut rumahnya ini sederhana.  Si pemesan adalah anak sulung di rumah itu. Dia bekerja sebagai customer service di perusahaan farmasi di Bekasi. Dia memesan dekorasi sebagai kejutan ulang tahun adiknya yang nomor dua. Belum ada sepuluh menit mendekor, Ibunya si pemesan menghampiri saya, “Mas, puasa gak?” Saat itu jam dua siang, di bulan puasa.

Lima menit setelah saya menjawab, si ibu datang membawa satu pitcher sirup melon dengan es batunya yang, uuhh, menyegarkan sekali. Adakah yang berpikir Ibu itu non Muslim? Halah, beneran ada yang berpikir begitu? Itu si ibu berjilbab, pun demikian dengan anaknya sulung dan bungsu. Dari pengalaman ini saya semakin bingung, sebetulnya apa sih yang membikin seseorang  sampai mau menyuguhkan air minum untuk orang asing, lebih-lebih tukang? Jelas sekali status ekonomi, apalagi bulan puasa tidak ada pengaruhnya. Ada sih memang yang tidak menawari saya minum karena mengira saya puasa. Pelanggan tersebut tertawa terbahak-bahak ketika akhirnya melihat saya minum. Rupanya dia juga tidak puasa, dan sedari tadi ingin menawari tetapi sungkan.

Sebelum bekerja sebagai tukang dekor, saya menganggap soal suguh-menyuguhi air minum sebagai hal remeh temeh. Waktu masang internet di rumah, tukangnya tidak saya suguhi minum. Waktu masang TV Kabel juga begitu. Sekali waktu pernah nyediain dua cangkir kopi dan dua gelas air mineral plus gorengan untuk dua orang yang saya bayar untuk membantu angkat- angkat barang ke lantai atas rumah. Saya akui, hal itu saya lakukan karena hari sebelumnya saya mendapat pelanggan yang baik hati. Selain es teh, pelanggan itu mempersilakan saya makan siang dulu di rumahnya sebelum pulang. Dikasih nasi padang pakai ayam bakar. Joss. Tapi itu hanya satu dari dua alasan. Alasan yang satunya adalah karena orang yang saya bayar itu tetangga saya sendiri. Tidak enak hati sama tetangga sendiri. Hanya sekali itu saja saya nyuguhin tukang. Pikir saya, buat apa nyuguh-nyuguhin lagi, kan dia sudah saya bayar. Lagi pula, harusnya dia bawa minum sendiri dari rumah. Tapi, kini saya sadari, ternyata prihal suguh-menyuguhi air minum tidak sesederhana itu.

Kita terlalu sering bahas politik, teknologi, sepakbola, buku, apalagi percintaan, sampai-sampai lupa bahwa sumber utama kehidupan kita adalah air. Bisa apa kita tanpa air? Memangnya kamu pikir kenapa Dian Sastro mau jadi bintang iklan air mineral, kalau bukan karena dia tahu betul pentingnya air bagi kehidupan?

Baiklah, anggap saja kalian tahu betapa pentingnya air, tapi apakah kalian tahu, segelas air yang kalian suguhkan ke orang asing, terlebih ke tukang-tukang yang kalian bayar untuk bekerja , punya arti lebih? Kesegaran air minum yang kalian berikan itu tidak hanya nyess di tenggorokan, tapi sampai ke hati. Dan dari hati orang asing inilah nanti akan ada doa-doa baik untukmu yang niscaya dikabulkan Tuhan.

Mulai besok, jangan lupa nyuguhin minum ya. Gak membuat kamu miskin kok. Cheers!

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 256 diantaranya adalah kunjungan hari ini.