Amarah


 

Apa yang kau harapkan sehingga kau merasa pantas untuk marah? Agar hatimu lega? Cih, egois sekali. Atau untuk efek jera bagi orang yang menyebabkan kamu marah? Yaela, sombong sekali kamu!

Selain membual, ada satu hal lagi yang saya kuasai dengan baik, yaitu menahan amarah.

Saya terbiasa untuk tidak marah terhadap hal-hal yang tidak sesuai keinginan. Terbiasa bukan berarti tidak pernah sama sekali. Iya, walaupun saya tadi bilang mampu menguasai diri dari amarah, bukan berarti saya tidak pernah marah sekali. Satu dua kali pastilah pernah. Tapi belum tentu satu-dua kali dalam sebulan, bahkan dua tiga bulan. Bulan keempatnya, mungkin saya marah, tapi nanti kelima, enam, tujuh, belum tentu kembali marah.

Kalaupun marah, Anda tak akan pernah menemukan saya dalam keadaan meledak-meledak. Mata melotot, salah satu sisi bibir agak naik – bengis, tangan menunjuk-nunjuk,  apalagi mengeluarkan kata-kata kasar, pun merendahkan. Tidak, tidak akan pernah. Semoga.

Dapat dikatakan, saya mahir menguasai bentuk emosi yang seperti ini.

Apabila ditanya apa rahasianya, saya pasti tidak bisa menjawabnya. Apakah menahan amarah perlu latihan? Entahlah, saya tidak pernah melakukannya. Semua seperti lahir begitu saja.

Tiap-tiap kali ada hal yang menjengkelkan datang dan mencolek kasar perasaan saya, paling-paling saya hanya menghela nafas, lalu sudah. Mungkin juga yang menyebabkan saya tidak lekas marah adalah kemungkinan pergi menjauhnya orang-orang menyebalkan itu. Saya sudah pernah cerita sebelumnya, bahwa orang-orang yang membuat saya kesal, cepat atau lambat akan pergi menjauh.

Atau, jangan-jangan sebenarnya kita semua pasti marah terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, hanya caranya saja yang berbeda-beda. Ada yang meledak-ledak di tempat, ada yang menahannya sebentar untuk kemudian diledakkan pelan-pelan di tempat yang aman, tapi ada juga yang menjinakkan ledakkan tersebut untuk kemudian “dibarter” dengan kegiatan yang lain. Dengan menulis, seperti saya, misalnya. Atau ada juga yang dengan berdiam diri, berbelanja, bernyanyi dan lain sebagainya.

Kalau benar demikian, saya hanya bisa berharap kita semua dapat marah dengan cara yang elok. Yang tidak melulu hanya untuk melegakan perasaan diri sendiri, namun menyakiti hati orang lain.

Namanya juga manusia, tak luput dari rasa kecewa. Rasa marah. Tinggal gimana kitanya aja menyadari bahwa marah tidak akan menambah apapun, selain permusuhan. Dan, menyalahkan orang lain sebagai penyebab meledakknya amarah diri adalah kesalahan fatal kedua setelah marah itu sendiri.

sa kira.

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 75 diantaranya adalah kunjungan hari ini.