Tentang Saya

Salam kenal,

Angga atau Anggara, begitu biasanya teman-teman memanggil saya. Ada juga yang memanggil Ceking, merujuk pada tubuhku yang kurus kerempeng ketika SMA. Sejak itu, banyak teman-teman yang ikut-ikutan memanggil saya Ceking. Sekarang nama panggilan tersebut saya gunakan sebagai nama situsweb ini.

Well, kini, Ceking sudah tidak kerempeng lagi. Sebagai perbandingan saja waktu SMA tinggi saya 180cm dengan bobot tubuh hanya 60kg. Kini saat tulisan ini dimuat, 183cm/83kg. Thanks God!

***

PicsArt_1431779033129[1]

 

Saya suka sepakbola, terlebih Inter Milan. Ayah yang pertama kali memperkenalkan saya dengan olahraga sebelas lawan sebelas ini. Ketika itu kesebelasan Inggris entah sedang melawan apa, tetapi ada satu hal yang tidak mungkin kulupakan:

“Pah, kenapa kipernya enggak megang bola sampai gawang musuh aja kalau begitu?” 

Angga kecil bertanya kepada ayahnya. Dia bingung, kenapa ada dua pemain yang diperbolehkan memegang bola. Dan kenapa hal ini tidak dimanfaatkan oleh ke dua kiper tersebut untuk memegang bola sampai gawang lawan.

Saya suka mendengarkan The Beatles dan musik reggae. Saya juga suka membaca, menulis, berbicara, merayu, nyeleneh, bercanda. Kata terakhir pada kalimat sebelum ini adalah sifat yang paling menggambarkan diri saya. Mungkin Anda tidak akan melihatnya pada tulisan, karena menulis adalah cara saya menyampaikan hal-hal yang tidak terucapkan oleh lidah. Sedangkan lidah saya kerap kali sulit untuk serius.

Satu lagi. Saya suka INDONESIA. Bagi saya, Indonesia adalah negara pilihan Tuhan. Dan Anda semua, termasuk saya, yang dilahirkan di Indonesia haruslah bersyukur. Lho kenapa? Ya iyalah, karena mungkin saja setelah kehidupan ini Anda tidak masuk surga, tapi setidaknya Anda telah merasakan hidup di Indonesia. Surga dan tanah air Indonesi saya rasa, sama indahnya. So, berbahagialah Anda yang tinggal di Indonesia dan kemudian masuk surga, itu artinya Anda sangat amat beruntung karena dua kali merasakan keindahan ciptaan Tuhan.

Mungkin itu juga sebabnya orang Indonesia banyak yang tamak, egois, dan berani melawan Tuhan. Orang-orang Indonesia merasa tidak perlu lagi merasakan indahnya surga, karena toh sudah tau rasanya seperti apa. Dan mungkin ini juga yang menyebabkan banyak sekali orang mancanegara yang berbondong-bondong datang ke negara kita.

Saya takut ketinggian dan hal-hal yang super cepat. Pesawat dan wahana permaianan seperti Dunia Fantasi (Dufan) adalah contohnya. Pesawat, tidak hanya terbang tinggi, tapi juga melaju dengan kecepatan fantastis ketika hendak terbang landas. Seremm, Kak. Dufan lebih parah lagi. Terombang-ambing tidak karuan di ketinggian. Sebagai pelengkap, kita hanya bergantung pada sabuk pengaman dan tanpa helm. Kodok bongkrek untuk permainan yang satu ini.

Saya tidak menyukai amarah. Bagi saya, amarah tidak menambah apa-apa selain sakit hati. Saya kerap dibuat bingung oleh mereka yang mudah sekali tersulut emosinya, lantas marah. Sebetulnya apa sih yang mereka harapkan dengan mengangsurkan amarah? Agar lega hatinya? Egois sekali! Atau untuk memberi efek jera? Sombong sekali!!

***

Saya mirip sekali dengan ibu saya. Kami berdua mudah sekali terenyuh. Melihat pemulung kerap membuat diri saya merasa tidak beguna. Ingin sekali membantu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sesekali saya dapat memberi. Sayangnya hanya sesekali, tidak setiap hari. Suatu hari nanti ingin sekali dapat membantu mereka satu kali saja, namun cukup membuat mereka untuk hidup lebih layak. Dengan memberi mereka pekerjaan, misalnya. Atau harta karun yang tak habis digunakan tujuh turunan. Terlebih untuk anak-anak kecil dan ibu-ibu yang masih harus menenteng karung, mengais tong sampah, di malam hari untuk mencari sesuap nasi. Sedihnya kanmaen.

Saking mudahnya saya terenyuh, sampai-sampai tidak bisa melihat orang kesakitan. Melihat adegan kecelakaan atau mendegar orang yang tertimpa musibah, cukup membuat perut saya mules dan jantung berdebar kencang. Sungguh.

Saya tergila-gila pada perempuan yang pintar tapi rendah hati. Tidak hanya itu, dia juga harus pekerja keras dan mengerti cara mempercantik diri. Entah dengan riasan di wajah, wewangian di tubuh, atau sekedar apik dalam berpakaian. Saya rasa itu tidak muluk-muluk karena ibu saya adalah contoh nyatanya.

Apabila ditanya tentang cita-cita, maka dengan tegas saya jawab: Presiden Indonesia. Lalu bagaimana apabila tidak kesampaian? Saya akan menjadi pelatih sepakbola. Jika tidak kesampaian juga, bagaimana? Saya akan menjadi pengusaha yang sukses dan menulis beberapa buku. Bagaimana jika hal ini tidak kesampaian juga? Tidak mungkin!

Anggara selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak hanya punya tekad yang kuat, tapi juga mempunyai Tuhan yang baik. Oleh karena itulah, dia selalu yakin akan buah manis dari tiap-tiap usahanya.

Begitu, saya kira.

Be the first to comment on "Tentang Saya"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*