Standar Kerja Rendah Pembuatan Video Pemerintah

Gue gak habis pikir, harus melihat dari sudut pandang mana agar video layanan masyarakat ini dapat diberi nilai baik?

Satu-satunya alasan positif yang bisa saya bayangkan adalah video ini memang mengincar pergujingan masyarakat sehingga dibuat nyeleneh. Nyelenehnya di bagian mana? Ya itu kombinasi editing video yang tidak serius dan aktris pengisi video yang gak memadai.

Tapi kalau gue pribadi menganggapnya sebagaih contoh nyata bahwa negara kita tidak serius. Tidak punya standar kerja. Atau apalah itu istilahnya.

Menurut gue, ada tiga pihak yang mesti bertanggung jawab, yaitu pihak produser, pihak pembuat video, dan yang ketiga adalah pemerintah.

1) Produser jelas tanggung jawabnya paling besar. Dia yang menentukan proses produksiya, mengawasi jalan pembuatan video, kemudian menyetujui hasilnya. Kenapa Iklan layanan masyarakat ini harus banget menteri yang bernyanyi? Bagaimana cara menentukan menteri-menteri mana saja yang mengisi suara?

Sebagai perbandingan, gue pernah bikin video semacam ini. Bernyanyi dari rumah masing-masing, kemudian digabungkan. Ini teman-teman alumni SMA menyanyikan lagu mars sekolah.

Saat itu gue meminta rekomendasi ke perwakilan angkatan, siapa saja yang bisa bernyanyi. Setelah mendapatkan nama, gue hubungi satu per satu. Ada yang berkenan mengisi suara, ada yang tidak berkenan, dan ada juga yang bahkan tidak menanggapi.

Dari yang tidak berkenan ikutan, ada yang alesannya tidak pede, ada juga yang beralasan tidak bisa bernyanyi, walaupun ini dari hasil rekomendasi. Sementara dari suara yang terkumpul, gue seleksi lagi best part masing-masing vokalis.

Maksudnya, gue hanya ambil bagian-bagian yang merdu. Wajarlah, kan teman-teman gue bukan penyanyi, jadi pasti ada bagian yang fals. Dan karena gue ingin videonya nanti layak dinikmati, gue pilih bagian yang merdu-merdu aja.

Dalam hal video layanan pemerintah ini, entahh bagaimana proses pemilihannya. Itu ada beberapa pejabat seperti Pak Ganjar Pranowo, Pak Ridwan Kamil, dan Ibu Khofifah yang tidak muncul suaranya. Hanya ada badannya saja.

Apakah karena suara mereka tidak layak dengar? Bila iya, ya tidak apa-apa. Itu memang hak dan kewajiban produer untuk menentukan. Lalu yang jadi pertanyaan, bagaimana kalau keselurahan menteri yang tampil, suarannya tidak ada yang layak dengar untuk dijadikan iklan layanan masyarakat?

Ya harusnya produser memutuskan untuk membatalkan project ini. Daripda malu. Terkecuali kalau gak tau malu sih. Lagipula kalau tujuan utamanya untuk mempengaruhi masyarakat, tidak perlu menteri yang bernyanyi. Cari saja yang lain, yang suaranya lebih enak didengar. Ini malah jadi bahan olok-olok dan pesan utamanya mungkin gak tersampaikan.

2) Pihak pembuat video juga harus betanggung jawab. Di video terlihat ada banyak bagian yang gerakan mulut yang tidak sinkron dengan lagunya. Mulutnya komat-kamit apa, suaranya apa.

Aduh, ini mah bukan soal kemampuan mengedit video, melainkan soal sikap malas. Apa susahnya menyelaraskan gerakan mulut dengan lagu? Nyari tutorialnya di Youtube juga pasti banyak. Minta digaji berapa untuk dapat mengedit video layanan masyarakat ini menjadi enak dilihat? Masa iya 200 juta penduduk gak ada yang bisa?

Gue yakin banget, si pengedit video ini sebetulnya bisa. Cuma males aja. Yang penting cepet selesai. Dan lagian, kok dia gak malu ya menghasilkan video semacam ini? Kalau gue pasti malu. Mending gue delete trus bilang, gak bisa melanjutkan. Silakan cari orang lain yang mampu.

Apa yang dikejar oleh si pengedit video sehingga dia merelakan video semacam ini tayang? Standar macam apa yang membuat dia berpikir ini video sudah layak tayang?

Atau mau menyalahkan software dan komputer yang tidak memadai? Ini layanan masyarakat yang dipersembahkan oleh Indosiar, SCTV, O’CHANNEL, dan Vidio. Masa iya perusahaan digital seperti mereka gak punya teknologi yang memadai? Masa iya pemerintah, yang nantinya akan mendapat dampak langsung, tidak mau memfasilitasi? Cuma video 1 menit doang ini. Gak makan waktu banyak.

Dan yang lebih parah lagi, kok ya produsernya bisa puas melihat hasil editing macam begini? Standar kerja yang rendah?

Gue bikin video nyanyi dari rumah oleh teman-teman alumni SMA, cuma pake premire pro lalu belajar dari Youtube, dan gak dibayar sama sekali. Cuma untuk kepuasan pribadi. Rasa-rasanya hasilnya jauh lebih baik. Atau setidaknya tidak buruk.

3) Tentu saja pemerintah tidak luput dari tanggung jawab. Emangnya ga ada sesi preview sebelum tayang di internet? Itu yang mempublish adalah akun Twitter resmi Kementerian Ketenaga Kerjaan lho. Masa gak malu ibu menterinya tampil di video seperti ini?

Kan pihak pemerintah, sebagai pihak yang nanti akan merasakan dampaknya langsung, bisa bertanya ada kendala apa? Perlu bantuan apa? Bantuan teknologi atau sumber daya manusia?

Daripada malah tayang video yang akan jadi bahan olok-olok ya kan.


Akhir cerita, menurut gue, video ini kalau cuma untuk seru-seruan member WA Group ya gak masalah. Tapi ya jangan dishare pakai akun resmi pemerintah.

Tapi kalau video ini memang tujuannya untuk kepentingan bangsa dan negara, haduhhh harusnya gak separah ini.

Ini mah jelek aja belum

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 16 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

Be the first to comment on "Standar Kerja Rendah Pembuatan Video Pemerintah"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*