Pernikahan di Kana

15011383069_10891f9b03_m

Ada sebuah kisah terkenal dari kitab suci, bercerita tentang suatu perkawinan di Kana. Pada kisah itu Yesus mengubah air menjadi anggur.

Ada beberapa hal yang bisa dipetik”

Pertama, si tuan rumah yang mengadakan pesta, tidak tahu bahwa mereka kehabisan anggur, dan dia juga tidak tahu bagaimana pesta tersebut tetap mempunyai anggur. Begitulah kita sehari-hari, seringkali kita tidak menyadari ada banyak kekurangan dalam hidup, dan itu semua tertutup karena Tuhan membantu kita setiap hari. Kita kurang instrospeksi diri, dan menysukuri setiap hal kecil yang kita dapatkan. Kita seringkali sombong merasa bahwa semua yang kita dapatkan semata-mata karena diri kita.  Parahnya lagi, ketika ada hal-hal baik datang tanpa direncakanan, kita menganggapnya keberuntungan. Hoki belaka.

Poin kedua, Yesus mengubah air menjadi anggur karena permintaan Bunda Maria. Saat itu Bunda Maria melihat anggur tinggal sedikit, dan dia tidak ingin si tuan rumah yang mendakan pesta kehilangan muka. Bunda Maria sebegitu perhatiannya pada kita, bahkan untuk hal-hal sepele semacam dia tidak ingin sesamanya malu. Bunda Maria terlibat dalam setiap detil hidup kita, dan jangan pernah ragu meminta kepadanya,
karena Bunda Maria pasti menyampaikannya langsung ke Putranya, Yesus Kristus. Selain itu, sudah sepatutunya kita mengikuti teladan Bunda Maria yang cepat tanggap membantu orang lain tanpa perlu diminta. Kita harus peduli terhadap sesama, dari hal yang terkecil. Jangan mempermalukan orang lain, sebaliknya kita harus membantu orang lain agar tidak dipermalukan.

Yang ketiga, ketika hendak mengubah air menjadi anggur, Yesus meminta para pelayan memasukan air ke dalam tempayan, yang kemudian air di tempayan itulah yang berubah menjadi anggur. Begitulah cara Tuhan bekerja. Air tidak langsung seketika diubah menjadi anggur. Tidak juga langsung diubah di depan mata si tuan rumah. Tuhan bekerja melalui orang-orang kecil yang tidak kita sangka-sangka. Di kisah itu melalui tangan pelayan.  Dan karyanya tidak melulu ditampilkan dengan cara yang megah, wah, dan membuat banyak orang tercengang seketika. Hanya dengan menuang air biasa ke dalam tempayan dan tidak diketahui banyak orang. Sesederhana itu.

Dalam hidup kita, Tuhan berkarya bisa melalui apa pun dan siapa pun, oleh karena itu jangan pernah meremehkan hal hal sederhana dan orang-orang di sekitar kita. Selain itu, kita selayakmnya menjadi perpanjangan tangan Tuhan dengan ringan tangan membantu sesama, dari hal-hal kecil sekali pin.

*Kisah diambil dari renungan hari Berita Paroki Gereja Bartolomeus Galaxy. Tapi saya lupa hari Minggu yang tanggal berapa

sumber gambar https://www.flickr.com/photos/126127313@N08/15011383069/in/photolist-oSvgct-8Z8Es1-nTxrHX-5cNi2t-faddBy-rsPGdE-andZqt-VRCXC5-7io6ev-icbGBo-CNzDWb-9qTktq-7TWPgA-dPz4Tm-23rN8iY-rpHqcm-2dBZAjH-opY6KZ-jS9JmN-QKjC9y-sEPWHn-U3cgac-7zTXNU-61bed3-byR55V-2a3ouJw-24hACaZ-4F54yb-62mwrP-e9XuuP-adGtoj-9jgWLy-24omci6-oaTMg3-5rPtGg-6Vs1MA-D3t1Gd-nTxuuh-ZiEq7V-78gNzs-ebm8Z-dry8Pj-nnuFha-jbJ1Fz-a1cFfS-oAiyGL-VuVLPB-cWm6LW-25vMPDE-bmhqpc

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 13 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

Be the first to comment on "Pernikahan di Kana"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*