Orang Muda Katolik Sontoloyo

40

Aku, dia, dan mereka memang gila memang beda
Aku adalah kamu, muda beda dan berbahaya.

Anak muda, sebagaimana yang ditampilkan pada penggalan lirik lagu penuh semangat dari Superman is Dead feat Shaggy Dog ini, adalah orang-orang yang nyentrik. Tidak hanya gila dan beda, tapi juga berbahaya. Bung Karno lebih ‘wah‘ lagi dalam menggambarkan anak-anak muda. “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kenyentrikan dan energi anak muda, diyakini dapat mengguncang dunia. Selain itu, masih pada lagu “Jika Kami Bersama”, selain kenyentrikannya, juga erat kaitannya dengan idealisme.

Anak muda, sebagaimana yang ditampilkan pada penggalan lirik lagu penuh semangat dari Superman is Dead feat Shaggy Dog ini, adalah orang-orang yang nyentrik. Tidak hanya gila dan beda, tapi juga berbahaya. Bung Karno lebih ‘wah‘ lagi dalam menggambarkan anak-anak muda. “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kenyentrikan dan energi anak muda, diyakini dapat mengguncang dunia. Selain itu, masih pada lagu “Jika Kami Bersama”, selain kenyentrikannya, juga erat kaitannya dengan idealisme.

Anak muda, sebagaimana yang ditampilkan pada penggalan lirik lagu penuh semangat dari Superman is Dead feat Shaggy Dog ini, adalah orang-orang yang nyentrik. Tidak hanya gila dan beda, tapi juga berbahaya. Bung Karno lebih ‘wah‘ lagi dalam menggambarkan anak-anak muda. “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kenyentrikan dan energi anak muda, diyakini dapat mengguncang dunia. Selain itu, masih pada lagu “Jika Kami Bersama”, selain kenyentrikannya, juga erat kaitannya dengan idealisme.

Anak muda, sebagaimana yang ditampilkan pada penggalan lirik lagu penuh semangat dari Superman is Dead feat Shaggy Dog ini, adalah orang-orang yang nyentrik. Tidak hanya gila dan beda, tapi juga berbahaya. Bung Karno lebih ‘wah‘ lagi dalam menggambarkan anak-anak muda. “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kenyentrikan dan energi anak muda, diyakini dapat mengguncang dunia. Selain itu, masih pada lagu “Jika Kami Bersama”, selain kenyentrikannya, juga erat kaitannya dengan idealisme.

Berdiri tegak menantang di sana di garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu engkau singkirkan

Saya, yang sampai saat ini masih merasa muda — 27 tahun gitu loh — , juga merasakan hal yang sama: muda, beda, dan berbahaya. Terlebih ketika sedang berkumpul dengan teman-teman sebaya, rasa-rasanya semua-muanya dapat diraih. Setidaknya, ada banyak sekali ide-ide, idealisme diri, yang melayang-layang di dada dan pikiran dan meminta untuk diwujudkan. Tapi apa daya, dunia yang kita tinggali ini juga punya idealisme. Hal indah tak mungkin dicapai dengan mudah, mungkin begitu pikirnya.

Kurang lebih 2 tahun saya tergabung dalam kepengurusan organisasi kepemudaan di gereja. Namanya, Orang Muda Katolik, atau biasa disingkat OMK.  Karena ini organisasi kepemudaan di gereja, tentu anggotanya adalah anak-anak muda beragama Katolik. Di sana saya belajar dan melihat banyak hal, khususnya terkait jwa muda yang berapi-api seperti yang digambarkan SID dan Bung Karno, serta hubungannya dengan idealisme nilai-nilai agama.

Saya selalu membayangkan bagaimana orang-orang muda ini, baik laki-laki mapupun perempuan, berkumpul bersama, membawa gairah mudanya, mengeluarkan ide-ide terbaiknya, kemudian mewujudkannya dalam sebuah kegiatan yang bermanfaat. Kegiatan yang mengemban mis-misi kehidupan yang lebih baik, yang tidak hanya untuk kalangan sendiri tapi juga demi kemaslahatan banyak orang.

Saya tidak hendak berkata, OMK adalah sebuah kesia-siaan atau anak-anak Muda Katolik kehilangan arah, bukan, bukan itu. Lagipula generalisasi namanya karena toh ini cuma dari pengalaman saya yang segelintir saja. Tapi yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, OMK sebagai sebuah organisasi kepemudaan dan agama masih jauh dari idealisme dan semangat anak-anak muda. OMK tidak lebih dari sekadar tempat kongkow-kongkow, wadah mencari pasangan, atau pengusir kebosanan. Jika kamu punya tempat nongkrong yang asik, punya kecengan di tempat lain, atau kamu punya kegiatan menarik di tempat lain, tidak ada ceritanya kamu datang ke gereja untuk kumpul-kumpul atas nama OMK.

Hampir kebanyakan orang yang berkumpul atas nama OMK disebabkan hidupnya memang membosankan. Tidak punya life di luar. Apa itu salah? Tentu tidak. Yang jadi masalah adalah, ya itu, OMK tidak lebih dari, sekali lagi, tempat nongkrong, cari pacar, dan pengusir kebosanan.

Karena kita hidup di dunia yang tidak homogen, di OMK pastilah juga ada anak-anak muda yang penuh idealisme dan semangat mewujudkannya. Terntu ada dan pasti ada. Kemudian yang jadi persoalan, apakah mereka bisa bertahan? Apakah ide-ide mereka diterima? Ahh… Saya pernah merasakannya.

Duh, saya sudah terlalu jauh bicara tentang idealisme. Sekarang begini, Paskah yang baru saja berlalu, euforianya tidak tampak segemerlap perayaan Natal, atau malah tahun baru, atau masih kalah jauh dari Lebaran, kenapa? Bukan karena masalah ekonomi atau empati pada situasi terkini dunia, tapi karena memang anak-anak muda ini tidak menyadari bahwa Paskah adalah puncak keimanan Katolik. Bukan Natal. Perayaan Paskah seharusnya lebih wah ketimbang perayaan lainnya. Perayaan yang tidak hanya dalam konteks pesta pora, tapi perayaan yang suka citanya muncul dari dalam hati layaknya ketika menyambut Natal tiba. Apakah kamu, saya, kita, kalian, orang-orang muda Katolik sungguh merasakan kegembiraan Paskah? T.I.D.A.K. Saya tidak yakin.

Gimana mau ngomongin Paskah dan kebangkitan Tuhan Yesus, lah, wong persiapan saja tidak. Masa Prapaskah berlalu begitu saja. Siapa di antara kalian yang benar-benar pantang dan puasa? Siapa yang benar-benar rutin mengisi kotak APP?  HAHAHA. Jadi wajar saja anak-anak muda ini tidak merasakan kegembiraan akan kebangkitan Tuhannya.

Hal-hal mendasar sebagai pemeluk agama, dalam hal ini Katolik, saja tidak dilakukan, lalu ide-ide luar biasa macam apa yang bisa mereka lakukan atas dasar agamanya? Jika prinsip-prinsip dasar Katolik saja tidak mereka ketahui, lalu cinta kasih macam apa yang hendak mereka tularkan ke sekeliling?

Kalau ikut OMK cuma mau kumpul-kumpul, gitaran, hahahehe, olah raga, cari pacar, ya silakan saja. Tidak ada salahnya. Tapi ndak perlu bikin kaos bertuliskan, ‘saya bangga menjadi Katolik’, “Saya orang muda Katolik”, apalagi “saya muda, beda, dan berbahaya”. Tidak usahlah. Bikin malu.

*Sontoloyo artinya bodoh, konyol, tidak beres*

 

 

 

 

 

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 3 kali, 450 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

Be the first to comment on "Orang Muda Katolik Sontoloyo"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*