Kata Terakhir yang Aku Kumpulkan di Tempat Kerja

SAMSUNG CAMERA PICTURESSAMSUNG CAMERA PICTURES

Beberapa jam lagi, di perjalanan pulang, kubayangkan kalian sedang membaca tulisan ini. Ada yang terharu, ada juga yang tersenyum. Tulisan ini, sejujurnya, saya buat bukan untuk pamitan – karena mulai besok saya tidak lagi datang ke sini sebagai karyawan-, melainkan karena saya sedang bosan. Saat bosan melanda, saya berubah menjadi orang yang produktif. Entah sudah berapa banyak kata yang saya kumpulkan di tempat kerja. Di sini.

Selain karena bosan, alasan saya menulis adalah jatuh cinta. Sewaktu masih berseragam putih abu-abu, saya jatuh cinta pada seorang gadis, anak dari guru matematika yang terkenal killer dan kumisnya bisa untuk menyembunyikan kalkulator karena lebat sekali. Setiap hari, saat jam istirahat, di depan kantin, saya selalu memberinya sepucuk surat berisi puisi, yang kutulis pada secarik kertas yang kusobek dari halaman tengah buku catatan pelajaran matematika. Saat itu saya kelas 1, dua tingkat di bawah dia.

Nama gadis itu Tiara, pacar pertamaku yang kini sudah memiliki tiga anak dengan wajah menggemaskan. Tiara selalu tersenyum manis tiap kali membaca puisi-puisi saya. Sepertinya dia menyukai puisi-puisi buatan saya. Oleh karena itu, ketika dia berulang tahun, saya hadiahi dia tiga buah puisi spesial. Saya menulis tiga puisi untuknya. Puisi yang pertama, saya kirimkan ke surat kabar lokal di daerah asrama saya. Oh, ya, dulu kami tinggal satu asrama. Puisi ke dua, saya kirimkan ke majalah sekolah kami, yang kebetulan, untuk edisi Bulan Juni, terbit tepat di hari ulang tahunnya. Dan yang ke tiga, saya tempel diam-diam di majalah dinding di depan ruang kepala sekolah.

Dia girang sekali begitu mengetahui namanya tersebar di beberapa tempat. Saking senangnya, dia menghadiahi saya dengan ciuman pertama, di ruang kelas yang sudah sepi karena murid-murid sudah pulang (HAHA). Sayangnya, dua hari setelahnya, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Perempuan suka hadiah-hadiah yang ada bentuknya, bisa dipegang, dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Baju atau boneka, contohnya. Puisi bukanlah hadiah ulang tahun yang para wanita inginkan, walau mereka senang menerimanya.

Bosan dan jatuh cinta adalah dua hal yang mendorong saya untuk menulis. Begitu juga dengan email ini, saya buat bukan hanya karena sedang bosan, tapi juga karena saya mencintai Jong kalian, teman-teman!

***

Jakarta, 22 Desember 2015. Selasa sore, angin bertiup tidak jelas. Kadang semilir, kadang kencang sekali, sampai-sampai kuberharap ada satu dua mbak-mbak karyawati yang roknya tersapu angin, lalu daun-daun kering yang sudah kutempel kamera pengintai menyelinap ke sela-sela rok mereka. Ah, pikiranku, selalu begitu. Seperti kebanyakan hari yang telah lalu, pukul setengah enam sore, saya sudah duduk manis di dalam omprengan. Duduk di bagian tengah, tepat di belakang Pak Supir. Saat ini omprengan masih kosong, hanya ada saya.

Saat menunggu omprengan terisi penuh – sebab omprengan baru boleh jalan jika semua bangku telah terisi – saya membayangkan apa-apa saja yang terjadi pada hari ini dan siapa saja yang saya temui.  Contohnya, pukul tujuh pagi tadi, ketika pintu lift terbuka di lantai 23, seperti biasanya, Cynthia mengucapkan selamat pagi. Dengan ramah. Juga judes. Di antara sekian banyak penduduk kantor ini, Cynthia termasuk orang yang paling sering memarahi saya. Kadang karena saya yang iseng menggoda dia, tapi lebih sering karena hal-hal yang, bahkan, Einstein saja tidak bisa menjelaskan sebab-musababnya. Tahu-tahu ngomel. Tahu-tahu ngomel adalah jenis makanan. Mirip tahu gejrot.

Kalian yang baru tiba di kantor pukul setengah delapan pagi, lebih-lebih yang baru datang pukul delapan, tidak akan mengetahui bahwa Cynthia sebetulnya tidak setinggi yang kalian lihat selama ini. Biasanya, 10 menit setelah pukul tujuh, ketika lampu gedung Mayapada mulai menyala dan air dispenser sudah panas, Cynthia membuat kopi White Coffee. Saat itu dia belum menggunakan egrang yang selama ini membantunya terlihat tinggi menjulang. Salah besar jika kalian menyangka sepatu high heels yang membantu kakinya terlihat jenjang. Suatu hari saya melihat Cynthia sedang melipat celana panjangnya sampai setinggi lutut, dan asal kalian tau aja, itu kaki isinya kayu semua. Hii.. Tapi di luar sifat galaknya, saya sangat terhibur dengan keberadaan Cynthia. Dia suka bercanda, juga suka Ken. Mungkin.

Selain Cynthia, penduduk ASI yang paling sering memarahi saya adalah Renata. Bahkan Rena jauh lebih banyak. Saya bisa pastikan bahwa Rena adalah orang yang paling sering membuat jantung saya berdebar-debar. Kadang karena kesal, tapi lebih sering karena menyelamatkan saya dari neraka pekerjaan. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan terima kasih banyak atas segala hal yang saya terima selama di ASI. Sebetulnya saya sangat ingin, sekali lagi, menyembunyikan mouse wireless kepunyaan Rena, seperti yang pernah saya lakukan ketika saya hendak pergi ke kantor salah satu klien untuk mengantar answer sheet. Waktu itu Renata dengan tergopoh-gopoh berlari arah lift, mengejar saya, untuk menanyakan letak mousenya, tapi, gebleknya, saya lupa menyembunyikan mouse itu di mana.  Itulah yang mendasari saya mengurungkan niat menyembunyikan mouse jilid 2. Takut Rena marah, dan lebih takut lagi mouse itu malah hilang karena saya lupa menaruhnya di mana. Sekali lagi, terima kasih banyak, Rena!

***

Jakarta, Senin, 10 Oktober 2011, adalah hari pertama saya bekerja sebagai karyawan ASI. Ada banyak nama yang saya temui saat itu, namun sudah tidak lagi bekerja di ASI saat ini. Mereka adalah Rizal, Gloria, RudyantoJomar, Ester, Hervina, YennyIbu Wenny, dan Pak Arman. Rizal, bagi saya, adalah mata air di tengah padang gurun ASI. Dia penghibur sejati. Saya rasa, dia adalah orang paling kocak se-ASI setelah saya -_-. Satu lagi yang paling berkesan, yaitu tentang Jomar. Jomar, menurut saya, adalah orang yang perubahannya paling drastis. Jomar yang saya kenal ketika pertama kali masuk ASI, adalah orang yang galak, angkuh, dan sangat amat nyebelin. Tapi, seiring berjalannya waktu, entah ada meteor apa yang menimpa rumahnya, Jomar berubah menjadi sosok yang baik. Kalem. Rendah hati. Ntap!

Ngomong-ngomong tentang sosok baik di kantor, saya paling mengaggumi Darwin. *Sorry, Win. Gue tetep suka cewe. Ga usah takut.*. Darwin adalah makhluk paling veteran di ASI, setelah Enyak-Babe-Pakde Har. Tapi cara dia berbicara, berprilaku, dan bekerja sama, tidak pernah terihat hendak menunjukan senioritasnya. Bicara soal Darwin, tentu bukan cuma soal telah berapa lama dia bekerja di ASI, tapi juga tentang seberapa berpengaruhnya dia di kantor ini. Dia salah satu yang paling berpengaruh, saya kira.

Mumpung lagi ngomong tentang Darwin, saya sekalian mengucapkan sukses selalu untuk seluruh punggawa tim IT. Mas Aryo, maju terus akiknya. Andai saja batu akik sudah terkenal dari jaman dulu, saya rasa Ibunya Malin Kundang akan mengutuk anaknya menjadi bacan. Elfath, salam buat bini lo. Cantik bener dah. Sahala, thank you berat atas bantuannya memfoto kaos Kedai Kata. Kapan-kapan akan saya traktir beer. Kapan-kapan, ya. Ficky, kapan kita kembali seperti dulu? Bercanda mesra di samping gereja. Kala itu hujan rintik-rintik, kita berteduh di bawah atapnya. Oh, ya, Fick, kalau nanti ada gempa, tolong pastikan keselamatan Jong terlebih dahulu. Tolong jaga dia untukku, ya. Maha Andar, haaa? Haaa?

Untuk Fauzi, saya bikin agak lebih panjang, pasalnya, blog saya, www.cekinggita.com, tidak akan ada tanpa bantuan Fauzi. Saya berhutang banyak. Fauzi yang membantu saya dalam peletakkan batu pertama di rumah saya di dunia maya ini. Oh, ya, Zi, saya ada sedikit masukkan untuk kisah Gita & Cinta. – bagi teman-teman yang belum tahu, Fauzi rutin menulis cerpen di blognya -. Begini Fauzi, menurut saya, tulisan yang menarik adalah tulisan yang membiarkan dirinya terkuak, namun juga membuat para pembacanya penasaran. Tulisan yang baik, mampu menyembunyikan hal-hal yang dibunyikan. Saya ambil contoh tulisan-tulisan Refil di blognya. Saat membaca cerpen-cerpen bikinan Refil, saya menemukan hal-hal yang akrab sekaligus asing. Hal-hal yang sudah usang, namun sekaligus juga hal yang baru. Saya rasa kita berdua perlu bertukar pikiran dengan Refil. Dia lebih baik dari kita dalam hal ini. Wajar saja, Refil Better. Yang membedakan Fauzi dari Refil adalah kemampuannya membuat cerita panjang. Gita & Cinta bikinan Fauzi akan mengalahkan sinetron Tersanjung. Panjang gelaa. Oh, ya, Refil, nanti kalau Dik Azka butuh bantuan dalam hal tata bahasa Indonesia, tolong di bantu, ya.

Dik, Azka, kali ini abang saya tidak akan bercerita banyak tentang dirimu. Saya sudah dua kali menulis  tentang Dik Azka, di sini dan di sini.

***

Baru sebentar mengingat-ngingat beberapa nama kalian dan kejadian hari ini, tidak terasa, omprengan sudah penuh. Tiga lembar uang lima ribuan saya serahkan ke salah satu penumpang. Jadi, kalau kalian naik omprengan, tidak akan ada ceritanya uang bayaran diserahkan langsung ke Pak Supir. Uang-uang akan dikumpulkan ke salah satu penumpang – siapapun itu – baru kemudian diserahkan ke Pak Supir. Nah, orang itu juga yang akan bertanggung jawab menghitung uang kembalian sekaligus mengembalikannya ke penumpang yang membayar tidak dengan uang pas.

Pernah suatu hari, saya didapuk untuk mengumpulkan uang-uang itu, dan, entah janjian atau tidak, hari itu semua penumpang menggunakan uang 100 ribu. Saya bingung menghitung total uang dan kembalian mereka masing-masing. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menjerit “auuuuuuuuuu”, kemudian membuka kemeja dan mengikatnya di kepala. Saya pura-pura kesurupan. Dan ternyata cara ini berhasil. Semua penumpang langsung mengeluarkan uang pas.

Setiap kali berlagak kesurupan, saya langsung ingat Reivayl. Walau motornya ninja dan sering ke gereja, Rei termasuk lelaki cemburuan dan posesif takut setan. Tidak akan ada ceritanya dia berani ke toilet tanpa ada pria lain di sampingnya. Kalau bukan saya, ya, Rendy yang dipaksa menemani. Kami bertiga pernah lari terbirit-birit karena mendengar suara ‘hmmmm’ dari ruang mandi di toilet pria. Entah suara siapa itu. Ruang mandi selalu terkunci. Selain kami bertiga, Eka juga pernah mendengarnya. Di ruang BD, dekat printer.

Ada yang masih ingat Eka, gadis Cirebon yang tergila-gila pada duda? *Eaaa.. Piss, Ka*. Eka adalah satu dari sedikit karyawati ASI yang berjilbab. Eh, itu dulu, deng, sedikit. Sekarang sudah banyak yang berjilbab. Sebelum Eka, hanya Bu Wenny dan Mbak Tuti yang berkerudung. Hai, Mbak Tuti, sukses selalu, ya. Saya pesan 1000 salad dan 10.000 kue basah untuk pesta pernikahan saya. Tapi tolong jangan dibuat dulu. Saya masih mencari pasangan yang mau diajak nikah. Nanti saya kabari lagi.

Kemudian, yang berkerudung, ada pula Defi dan tiga Putri. Maksud saya, Shinta Ernaputri, Annisa Sriyono Putri, dan Indah Putri. Nama aja janjian segala. Ndak kreatif :/

Defi, terima kasih banyak sudah mau dimintai tolong membelikan coklat valentine 2014, brownies, dan beer. Semuanya sangat berarti dalam kisah kehidupan saya. Saya minta maaf juga karena pernah membuat Defi sakit hati. Sekarang Shinta: Shin, cepet-cepet ngaji, ya, sama AA Ijak. Jangan nikah mulu. Kemudian Annisa. Nis, ketimbang jadi artis, mending cepetan buka salon. Salonpas. Lalu Putri. Oh, okai, maksud saya Indah: Ndah (kok ga enak ya manggin Indah?), saya tunggu kisah dongeng Akhi Irfan selanjutnya, ya.

Putri ini baru berapa bulan di ASI, tapi udah keliatan deket banget sama Shinta. Sepertinya mereka bersaudara. Atau mungkin karena Putri termasuk orang yang supel? Saya kira Putri lebih supel ketimbang teman seangkatannya, Rico, Kathrin, dan RefilRico terlihat paling kaku dari antara yang lain. Seandainya saya tahu lebih awal bahwa dia menggandrungi sepak bola, pasti sudah saya ajak ngobrol dari kemarin-kemarin *arghh sayang sekali*. Tiga hari sebelum tanggal 23, saya baru tahu bahwa dia menyukai sepak bola. Saya juga baru tau bahwa ternyata Ayu punya pengetahuan yang mendalam tentang sepak bola. Yasalammm… Saya menikmati satu hari penuh, Senin kemarin, ketika membahas sepak bola dengan mereka.

Untuk Kathrin, saya punya pesan khusus. Pertama, jangan putus di tahun ke lima. Sebentar lagi lima tahunan, kan? Kedua, jangan sering main ke ruang IT. Kalau tidak perlu-perlu amat, jangan main ke sana. Ruangan itu penuh dengan serigala. Buas. Kalaupun, akhirnya, terpaksa masuk ke ruangan IT, pastikan kamu tidak membelakangi mereka. Pastikan selalu berdiri dan berjalan menghadap ke arah mereka. Nanti pas keluar ruangan, berjalan mundur saja, ya. Pokoknya jangan membokongi mereka. Jangan buat pria-pria di ruangan itu mimisan.

***

Ternyata benar, Bekasi itu jauh sekali. Dari tadi sudah ngalor-ngidul membayangkan kalian dan kejadian hari ini, tapi ini masih saja di Cawang. 60 menit berlalu, dan baru setengah jalan. Awalnya saya berniat menghabiskan waktu dengan memainkan beberapa games di handphone, namun keinginan tersebut buyar, sebab yang duduk di samping kiri saya adalah seorang perempuan – so pasti cantik –  dengan tato gambar panah di tengkuk sebelah kanan. Wajahnya tampak gusar. Dugaan saya, dia baru selesai ujian. Atau mungkin baru saja menerima hasil ujian, dan hasilnya jelek. Dari flanel lusuh, celana jeans biru, dan sepatu ketsnya, saya yakin dia mahasiswi Atma Jaya. Pasti. Tidak mungkin pegawai kantoran di sekitaran sini.

Selain meminta pemantik api – walaupun setelahnya saya harus pura-pura menjadi perokok ulung -, tato adalah bahan yang asyik digunakan untuk memulai pembicaraan dengan orang asing. Saya tarik nafas dalam-dalam, memasang senyuman paling natural sedunia, lalu berkata, “Saya setuju sama, Mbak. Kita harus punya sasaran. Punya tujuan. Harus fokus, agar tidak salah bidik. Tato yang indah.”

Perempuan itu menatapku dingin. Sambil melepas earphone dari telinganya, dia menjawab, pelan, “sorry?”

Saya cukup sering bertemu orang baru dan selalu saya yang memulai pembicaaan, jadi saya tahu betul, dari tatapan matanya, dia hendak mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dari cara saya membuka pembicaraan. Dan berdasarkan pengalaman saya selama ini, meminta maaf adalah cara tercepat untuk menutup pembicaraan. Jadi saya memilih untuk diam, dan menunggu dia bicara.

Bagi saya, perempuan ini cantik, tapi tidak menarik. Perempuan yang cantik, belum tentu menarik. Saya tidak hanya menggunakan mata untuk menilai seorang perempuan. Saya akui, seperti pria-pria lain di dunia, saya juga suka perempuan cantik, bertubuh indah, wangi, dan berpakaian minim. Tapi, untuk saya, hal-hal seperti ini hanya membuat saya membayangkan perempuan lain di hadapan perempuan itu. Tidak menarik.

Perempuan yang menarik, ibarat sebuah mahakarya puisi. Kalian yang pernah membaca puisi pasti merasakan bahwa puisi tidak hanya mengandalkan kata-kata indah, tapi juga memberikan gagasan-gagasan. Gagasan yang membuat kita bertanya-tanya, dan terlecut untuk mencari jawabannya sendiri. Puisi yang mahakarya, bagi saya, adalah puisi yang sederhana, namun membuat imajinasi saya melayang-layang, terbang ke sana-ke mari tak tentu arah.

Salah satu kekuatan terbesar saya adalah imajinasi. Pikiran. Perempuan yang mampu menjinakkan imanjinasi saya adalah perempuan yang menarik. Walaupun cantik, baik, atau cerdas, selama dia tidak mampu menjadi pupuk penyubur sekaligus perawat imajinasi saya, bagi saya, perempuan itu tidak menarik.

Setiap pagi, ketika kelopak mata mulai terbuka karena bunyi nyaring alarm, tepat setelah mengucap syukur pada Tuhan, saya selalu bertanya dalam hati, apakah hari ini adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta lagi? Pertanyaan yang belum terjawab selama empat tahun terakhir. Apakah hari ini saya bisa jatuh cinta lagi? Adakah perempuan menarik yang dapat menaklukkan imajinasiku? Begitu terus, setiap hari.

Kembali ke perempuan yang duduk di sampingku tadi. Dia tidak menarik. Jauh berbeda dengan Jong. Hai, Jong. Boleka aku memendam rasa?

Kau tau, Jong, saya tak pernah sekalipun mendekati perempuan yang usianya tiga tahun lebih muda, sebab, bagi saya, mereka pasti kekanak-kanakan, seperti adik saya. Apabila, suatu hari nanti, ada perempuan yang usianya lebih muda tiga tahun dari saya, tapi saya dekati, berarti ada yang berbeda dengan wanita itu. Ada hal yang menarik bagi saya. Selain itu, saya juga tidak pernah mendekati perempuan satu kantor. Satu komunitas, tepatnya. Tidak asyik rasanya, pacaran – kalau akhirnya jadian – dengan orang yang satu kelompok kegiatan. Tidak bebas. Kamu sepakat, kan? Kita sama kalau gitu. Toss..

Seperti yang kau tau, Jong – kebetulan sekali – ini hari terakhir saya di ASI. Mulai besok, kita tidak lagi satu komunitas. Tidak satu kantor. So, artinya apa? Artinyaaaa… kapan kita ke mana? Yeay! Oh, ya, saya paham, kamu pasti takut, terutama karena teman-teman ASI yang bakal ngomporin  agar tidak terjebak terbujuk rayuanku. Baiklah, agar lebih santai dan tidak menakutkan, saya beri kamu tawaran yang lebih menarik. Semenarik dirimu.

Begini, kamu boleh memilih salah satu dari beberapa pilihan berikut. Salah satunya saja, karena sisanya dapat kamu pergunakan di tahun mendatang. Awalnya, sebagai tanda kenang-kenangan, saya hendak memberimu bantal berbentuk bola basket. Tapi niat itu saya tunda. Lagipula nanti, paling-paling, Iqbal atau Sahala dan Fauzi juga akan memberikannya untukmu. Saya tipe orang yang tidak suka serupa dengan banyak orang. Jadi, sekarang, saya beri kamu sesuatu yang agak berbeda. Silakan dipilih:

  1. Pada sebuah akhir pekan yang cerah, saya akan mengajakmu ke tanah lapang. Kita akan bermain layang-layang sampai senja tiba. Sampai puas. Mungkin kita telah dewasa, tapi untuk gembira, saya ingin kita menjadi sepasang anak-anak kecil lagi. Anak-anak tak pernah menjadikan kegembiraan sebagai barang mahal. Barang langka. Jangan sampai kita menjadi orang dewasa yang ditinggalkan jiwa anak-anak. Saya akan membuatkan layangan dengan corak bola basket, khusus utukmu.
  2. Saya tahu, kamu suka nonton film Korea. Asumsi saya, kamu suka segala hal tentang Korea. Jadi, saya akan mengajakmu ke Korea. Eh, tunggu dulu. Sekarang uangku belum banyak. Jadi, untuk mengakalinya, alih-alih menerbangkanmu dengan pesawat ke sana, saya akan mendekorasi salah satu ruangan rumah agar menyerupai sebuah kota di Korea. Kota yang kamu pilih, tentunya. Saya akan membeli bahan termurah, agar seluruh bagian rumah dapat didekorasi. Akan ada satu ruangan yang khusus didekor menyerupai restoran favoritmu. Kamu bisa makan sepuasanya di sana. Bukan cuma makan, kamu juga boleh melakukan apapun di sana. Di rumah itu. Rumah kita.
  3. Saya akan mengajakmu mendaki gunung, di tengah malam yang dingin. Setelah sampai puncak, saya akan membakar jagung manis untukmu, dan menyeduh segelas teh hangat, juga Popmie. Kita akan sarapan, berdua saja, sambil menunggu matahari dan kota-kota di bawah kita bangun pagi.

Bagaimana, Jong, tertarik? Tak perlu tergesa-gesa ambil keputusan. Silakan dipikirkan dulu. Jika malu, aku setuju agar tak perlu ada seorang pun yang tau, bahwa nanti, setelah tulisan ini selesai kau baca, aku telah mengirimkan chat singkat ke telepon genggammu.

*Saat menulis tentangmu, Jong, aku sambil mendengarkan lagunya Abdul & The Coffee Theory – Tanda Tanda Cinta.

telah ku coba biasa aja
bila di dekatmu tapi ku tak bisa
kau membuatku tak menentu
karena bayanganmu selalu ada di hatiku

***

Masih ada kira-kira setengah jam lagi untuk tiba di rumah. Saya pikir akan baik jika saya menyempatkan diri untuk menyebut nama teman-teman yang lain.

Berhubung terakhir lagi bahas si cantik Jong, sekarang giliran Lita.

Hai, Lit, awalnya saya pikir kamu pendiam. Kaku. Ternyata, dan ini untuk kesekian kalinya, saya salah dalam menilai orang pada tatapan pertama. Sama salahnya ketika saya mengira Mas Barly adalah seorang Katolik. Oh, ya, Mas Barly, itu ukulele kenapa Mas Bar duluan yang bisa maininnya, ya? Apakah alat musik termasuk hal yang mesti dikuasai knowledge?  Dan sama salahnya juga ketika mengira AU orang yang menyebalkan, judes, dan angkuh. Ito Au, terima kasih atas dua pelukan hangat dalam sepekan terakhir. Saya akan merindukannya. Oh, ya, tiap masuk ke Zara dan The Little Things She Needs, saya pasti teringat kamu. Lagu-lagu yang diputar itu lho. Kamu bingit!

Masih tentang Lita. Lit, Saya mau tulisan tetang film terburuk 2015 dong. Untuk blog gue. Maacih!

Ci Ira, terima kasih banyak atas tempe gorengnya, ya. Dan, juga suratnya. Sampai ketemu lagi pada lain kesempatan. Nanti kalau saya menikah, harus datang, ya. Terutama yang di Gereja, saat pemberkatan.

Stella. “SEHAT, STELL?” Terima kasih atas kenang-kenangannya. Itu gajah, kan, Stel? Maksudnya biar saya punya ingatan seperti gajah, ya? Agar tidak melupakan segala kenangan yang ada? Baiklah!

Lien. ASI MEMBUTUHKAN LO BANGET! *JIIEEEE*

Mbak Edin idolaku: Ya, elah, Din. Tak perlu kita bersentimentil ria. Januari ngebir di Bar & Beer, ya. Gue traktir.

Indra. Kotak kecil di bawah meja gue, silakan diambil aja. Buat nambah-nambah tinggi kotak yang biasa lo gunakan sebagai penyangga di bawah meja lo. Mayan.

Pak Mul. Jangan nyimeng kalau lagi ada acara kantor, Pak. Itu kepala godek-godek ga ada berhentinya.

Pak Sutar. Jangan tidur di dalam metro mini, Pak. Bahaya.

Pak Tumin. Perjalanan Jakarta – Bandung yang lalu, asyik, ya. Kita bisa ngobrol banyak. Kapan-kapan lagi, ya, Pak.

Bu Linda, gantian bikin video untuk saya dong, Bu. Saya ga kepikiran bikin kaya gituan. Oh, ya, maaf, ya, Bu, saya sering lupa absen. hehe

Ci Ipit. Kalimat di banner nikahan Ci Ipit, itu ide dari saya lho. Disempurnakan tata bahasa Inggrisnya oleh Azka dan Defi, dan diperindah tampilannya oleh Fauzi.

Ailing. Ciyeee yang sebentar lagi nikah… Ingat, masukin sebiji-bijinya, ya.

Awi. Jangan sekali-sekali masuk ke ruang IT dan nanya, “Siapa yang lagi ga ada kerjaan?”. Sekali lagi kau nanya begini, server bisa down!

Yesica. Salam buat pacarnya. Posesif adalah harga mati.

Hmm, Saya rasa semuanya sudah saya sebutkan. Tinggal nama-nama karyawan yang masuk setelah saya, namun keluar lebih dulu (padahal lebih enak keluar bareng -_-).

Fani, Inez, Jimmie, Jimmy, Satrio, Pak Handoko, Sari, Dienny, Dedy, dan entah siapa lagi, saya bersyukur telah dipertemukan dengan kalian, dan berkesempatan menceritakan cariping.

***

22 Desember, jam setengah delapan malam, saya tiba di rumah. Rumah orang tua saya. Mereka yang membelinya. Tapi suatu saat, saya juga akan membeli sebuah rumah, di tepi danau, dengan halaman yang luas. Kalian dapat membantu saya mewujudukan itu. Caranya mudah, cukup membeli dagangan-dagangan saya.

Seperti yang teman-teman ketahui, saya merintis beberapa usaha. Bisnis. Ini agak klise, tapi menurut saya, berbisnis adalah cara terbaik untuk mengakomodir karakter diri saya. Saya tergolong orang yang nekat berani ambil risiko, kreatif, dan suka berinteraksi dengan orang asing. Satu lagi, saya tidak mudah menyerah dan tidak takut gagal. Saya ingin seperti orang hebat lainnya yang tidak takut gagal. Yang bisa bangkit di percobaan ke tiga puluh setelah gagal dua puluh sembilan kali. Yang tak jemu mencoba sembilan cara berbeda, setelah delapan cara sebelumnya gagal. Saya ingin, suatu saat, ketika ternyata mengalami kegagalan, saya hanya tersenyum, dan langsung berdiri melangkah lagi. Gagal dan bangkit menjadi kebiasaan.

Tapi di luar itu semua, saya tentu ingin berhasil. Sama seperti kalian. Tapi memang cara kita berbeda. Jika mendapat uang 200 juta rupiah, mungkin teman-teman lebih suka menyimpannya di bank, dan berharap uang itu beranak-pinak di tahun-tahun mendatang. Kalau saya lebih suka menggunakan uang tersebut untuk beli beer berbisnis, dengan risiko semua uangnya habis. Saya suka hal-hal menantang. Seperti menaklukkan hati Jong, misalnya.

Dan, untuk saat ini, dengan modal seadanya, saya menjual kado dan jasa dekorasi di Nella Fantasia. Apabila ada yang penasaran alasan saya memberi nama Nella Fantasia, silakan baca di sini. Selain itu saya juga menjual kaos yang berisi kata-kata asyik di Kedai Kata. Silakan hubungi 0812 8398 1359 untuk tanya-tanya seputar dagangan saya.

Satu lagi, apabila kalian atau sodara kalian, atau kerabat kalian, punya kedai kopi dan ingin dipromosikan, jangan ragu untuk segera menghubungi saya. Ada beberapa tulisan saya tentang (kedai) kopi di minumkopi.com. Oh, ya, bagi teman-teman yang suka menulis, dan ingin menyumbang tulisan untuk blog saya, silakan kirim tulisan kalian ke anggara.arwandata@gmail.com

Terakhir. Apabila kalian melihat ada sesosok wanita menarik yang dapat saya jadikan pacar, tolong, sekali lagi tolong, bilang ke wanita itu agar lari sekencang mungkin. Minta wanita itu untuk lari dan bersembunyi. Saya akan mengejar dan mencari ke mana pun dia pergi. 2016 saya akan pacaran serius. Serius cari pacar.

Sampai jumpa!

 * Silakan visit dan difollow:

@nf.nellafantasia (Instagram)

@kedaikataid (Instagram)

@cekinggita (twitter)

Tulisan ini telah dikunjungi sebanyak 1 kali, 682 diantaranya adalah kunjungan hari ini.

About the Author

cekinggita
Perakit Balon @nf.nellafantasia & peracik kata @kedaikataID

3 Comments on "Kata Terakhir yang Aku Kumpulkan di Tempat Kerja"

  1. selamat anggaa..sukses

  2. Karena itulah, tekadku sudah bulat, aku ingin menjadi penghuni terakhir di ruang hatimu dan aku sedang mengusahakan untuk itu. Aku berdoa, semoga nantinya akulah wanita terakhirmu — yang akan menyandang nama belakangmu dan menjadi ibu dari anak-anakmu.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*